Awalnya cuma satu video. Seorang bhiksu tua duduk tenang di sudut vihara. Wajahnya teduh, suaranya ramah dan enak didengar. Ia bicara tentang lelah, tentang gagal, tentang berdamai dengan diri sendiri. Kata-katanya sederhana, tapi entah kenapa terasa tepat. Dari situlah Bhiksu Yang Mun hadir di tengah-tengah netizen internasional.
Seiring waktu video-videonya banyak disimpan dan dibagikan netizen. Akibatnya, keesokan harinya konten serupa akan muncul lagi, dan lagi. Nama akunnya ada 2 yaitu @yangmunus dengan follower 2,5 juta dan @itsyangmuns. Komentarnya penuh rasa terima kasih. Banyak yang merasa ditemani, dipahami, bahkan diselamatkan.
Bukan Bhiksu Yang Mun
Namun, masalahnya, belakangan terungkap sesuatu yang mengejutkan. Bhiksu Yang Mun itu tidak pernah ada. Yang Mun bukan tokoh spiritual. Bukan bhiksu. Bukan manusia. Ia adalah karakter Artificial Intelligence atau AI. Di Indonesia kita menerjemahkannya sebagai Akal Imitasi.
Wajahnya buatan, suaranya sintetis, dan seluruh nasihatnya dihasilkan mesin. Kontennya dibuat dengan teknologi AI generatif dan dipoles sedemikian rupa hingga tampak otentik. Tokoh ini buatan orang Israel bernama Shalev Hani. Tidak hanya untuk memberi nasehat bijak, tapi juga untuk jualan e-book dan kursus spiritual. Singkatnya, ia dapat dikategorikan sebagai AI-generated virtual influencer. Pemengaruh virtual yang dihasilkan AI.
Akan tetapi, yang membuat banyak orang terkejut bukan semata teknologinya. Melainkan betapa mudahnya kita percaya. Mungkin karena karakter Yang Mun tidak memaksa. Tidak menggurui. Tidak menjual ketakutan. Ia menawarkan ketenangan—sesuatu yang langka di tengah hidup yang bising. Inilah mungkin eranya spiritualitas algoritmik.
Kasus Yang Mun bukan sekadar cerita viral. Ia adalah peringatan. Di era AI, apa yang kita tonton dan tampak realistis secara visual maupun suara. Belum tentu benar-benar nyata dalam kehidupan. Kebetulan pada kasus Yang Mun, ada aspek positif yang dapat dinikmati followernya. Akan tetapi, ada juga yang merasa ditipu karena merasa sosok Yang Mun adalah manusia yang eksis di dunia nyata.
Sebenarnya di akun media sosialnya, telah ada catatan pada profil. For educational purposes only. Selain itu juga ada tanda di sudut kanan atas AI Info, yang menunjukkan bahwa konten diproduksi menggunakan AI.
Sumber: Detikinet













[…] Baca juga: Bhiksu Yang Mun ternyata AI: Jutaan Orang Kadung Percaya […]