Jang Kyuk-ho pendiri Dongkuk Steel adalah umat awam Buddhis utama di Korea.
Pendiri Dongkuk Steel, Jang Kyuk-ho adalah seorang umat awam Buddhis yang sangat berpengaruh.

Pada 8 September 2025, suasana khidmat menyelimuti lantai tiga Daebeopdang Hall di Gedung Buddhist Broadcasting System (BBS), Mapo, Seoul. Di sana, digelar upacara peringatan 50 tahun wafatnya Geosa Jang Kyung-ho. Pendiri Dongkuk Steel, sekaligus ulang tahun ke-50 Korea Buddhist Promotion Institute (KBPI). Hadir dalam acara tersebut tokoh-tokoh penting seperti Ven. Jinwoo, pimpinan eksekutif Ordo Jogye. Serta Chairman Dongkuk Steel Jang Se-joo, yang dengan khusyuk menundukkan kepala dan menangkupkan tangan.

Siapa sebenarnya Jang Kyung-ho?

Lahir di Busan pada 1899, Jang Kyung-ho bukan sekadar pengusaha sukses. Ia adalah seorang geosa (istilah kehormatan untuk umat awam Buddhis). Kyung-ho menjadikan dua hal sebagai misi hidupnya. Yakni, mengembangkan ajaran Buddha dan berkontribusi bagi bangsa melalui bisnis. Setelah lulus dari Boseong High School pada 1916 dan sempat belajar di Jepang, ia memperdalam keyakinannya lewat retret Buddhis (ango) di bawah bimbingan Venerable Guha di Tongdosa pada 1925. Saat itu, ia bersumpah: “Aku akan mengabdi pada negara lewat pekerjaanku, dan membalas jasa kepada Buddha.”

Langkah pertamanya di dunia usaha dimulai dari bisnis karung beras bernama Daegung Yanghaeng pada 1929. Perjalanan bisnisnya terus berkembang hingga akhirnya mendirikan Dongkuk Steel pada 1954. Sebuah perusahaan baja swasta pertama di Korea Selatan.

Namun, yang membuat namanya begitu dihormati di kalangan Buddhis bukan hanya kekayaannya. Melainkan cara ia memberi. Ia tak hanya menyumbang uang, tapi membangun sistem yang bisa melestarikan dan memodernisasi ajaran Buddha.

Pada 1967, ia mendirikan Pusat Distribusi Teks Buddhis di depan Kuil Jogye. Organisasi yang mencetak dan menyebarkan versi terjemahan yang mudah dipahami dari sutra-sutra penting. Seperti Sutra Hati, Sutra Seribu Tangan, dan Sutra Intan. Tujuannya? Agar ajaran Buddha bisa menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat awam.

Tak berhenti di situ, pada 1973 ia membangun Vihara Daewon di Gunung Namsan, Seoul, lengkap dengan Daewon Buddhist College. Sebuah langkah revolusioner saat itu. Konon, ia ingin kuil itu menjadi tempat yang ramah bagi umat awam. Bahkan ia menyatakan “Aku ingin membuat tempat suci di mana orang bisa masuk sambil masih memakai sepatu.”

Dan di penghujung hayatnya, tepat sebelum wafat pada 9 September 1975, Jang Kyung-ho menyumbangkan 3 miliar won dari kekayaan pribadinya. Setara sekitar 500 miliar won hari ini. Jika dikonversi ke rupiah, sekira 5,75 Triliun rupiah. Donasi itu adalah untuk mendirikan Korea Buddhist Promotion Institute. Padahal, gaya hidupnya sendiri sangat sederhana. Tisu bekas dikeringkan dan dipakai ulang, kertas pembungkus kue upacara disimpan untuk dijadikan kertas catatan.

Kyung-ho juga merupakan pelopor media Buddhis, meski tak sempat melihatnya terwujud. Visinya tentang stasiun radio Buddhis, akhirnya tercapai pada 1990 dengan lahirnya BBS, Buddhist Broadcasting System.

Dalam sebuah bait puisi yang ditinggalkannya, Jang Kyung-ho menulis:

“Perdebatan di alam Dharma sejati, di mana diri dan orang lain tak terpisah, ibarat seekor lalat berusia sehari yang demikian fana. Keyakinanku sudah teguh sejak usia 20-an, tapi sekadar tahu saja tidaklah cukup. Harus dilatih dan dihayati hingga menjadi manusia sejati. Pikiran menciptakan segala fenomena—semua dibuat oleh pikiran.”

Pesan dari Pemimpin Ordo Jogye

Dalam sambutannya, Ven. Jinwoo menyebut Jang Kyung-ho sebagai “umat awam besar” yang setara dengan tokoh-tokoh Buddhis legendaris seperti Vimalakīrti dari India atau Beopseul dari Korea. “Semakin saya pelajari jejaknya, semakin saya terkagum-kagum,” katanya. “Ia benar-benar pelopor dan visioner.”

Sementara itu, Chairman Jang Se-joo, cucunya, mengenang sang kakek sebagai sosok yang lebih suka bertindak daripada bicara. “Beliau adalah guru sejati yang mengajarkan dengan teladan. Warisannya adalah pedoman emas yang harus kita renungkan di zaman ini.”

Peringatan 50 tahun ini bukan hanya nostalgia, tapi juga panggilan untuk melanjutkan semangat Jang Kyung-ho: menyebarkan Dharma dengan bijak, relevan, dan penuh kasih di tengah dunia modern. Disadur dari artikel yang ditulis Gim Han-soo dan diterbitkan pada 9 September 2025 di Chosun.Com.

LEAVE A REPLY