Vihara Karangdjati yang terletak di Sleman Yogyakarta pada Rabu 3 Desember 2025 menerima kunjungan dari mahasiswa Studi Agama-Agama UIN.
Vihara Karangdjati adalah sebuah vihara yang berlokasi di Sleman Yogyakarta. Pada Rabu 3 Desember 2025 menerima kunjungan mahasiswa Studia Agama-Agama UIN.

Sebagai penutup perkuliahan semester ganjil. Mahasiswa Semester 5 Program Studi Studi Agama-Agama (SAA) UIN melaksanakan kunjungan pembelajaran ke Vihara Karangdjati.  Sebuah vihara yang berlokasi di Jl. Monjali No. 78, Gemawang, Sinduadi, Mlati, Sleman. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Agama Buddha dan dilakukan bersama dosen pengampu, Derry Ahmad Rizal, M.A. Hal ini sebagai upaya memperkaya metode pembelajaran agar mahasiswa tidak hanya menerima materi secara teoritis di ruang kelas.

Kunjungan pada Rabu, 3 Desember 2025 tersebut berlangsung dalam suasana penuh antusias dan keceriaan. Mahasiswa disambut oleh Mas Eko, perwakilan pengelola vihara, yang menjelaskan sejarah berdirinya Vihara Karangdjati. “Vihara ini didirikan oleh Romo Among, dan nama Karangdjati berasal dari nama kampung tempat vihara ini berdiri: Kampung Karangdjati,” terangnya.

Ia juga memaparkan berbagai kegiatan rutin vihara, seperti meditasi, puja bakti mandiri maupun berjamaah, serta kegiatan bakti sosial yang melibatkan masyarakat sekitar. Menurutnya, umat yang aktif di vihara ini banyak berasal dari kalangan mahasiswa kampus sekitar, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Atma Jaya.

Panca Sila, Altar Vihara Karangdjati, hingga Bendera Buddhis

Selain mendapat sambutan dari pengurus vihara, mahasiswa juga menerima materi dari Ibu Listiyani dan Ibu Dharma Susanti, Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kabupaten Sleman.

Ibu Listiyani memaparkan inti ajaran Buddha yang merangkum moralitas dasar: jangan berbuat jahat, kembangkan perbuatan baik, serta sucikan hati dan pikiran. Ia juga menjelaskan Pancasila Buddhis, lima pedoman moral dalam Agama Buddha, yakni:

  1. Tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain,
  2. Tidak mencuri,
  3. Tidak berbuat asusila,
  4. Tidak berbohong,
  5. Tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang dapat menghilangkan kesadaran.

Sementara itu, Ibu Dharma Susanti membahas simbolisme dalam altar Buddha. Ia menerangkan makna setiap objek yang ada. “Di altar terdapat Rupang Buddha, bunga, buah, lilin, dupa, dan air,” jelasnya. Rupang Buddha merupakan bentuk penghormatan kepada Guru Agung. Bunga melambangkan anicca atau ketidakkekalan. Lilin merupakan simbol pencerahan. Buah melambangkan hukum karma—apa yang kita tanam, itulah buah yang kita peroleh. Dupa melambangkan harum nama baik, sedangkan air melambangkan kesucian dan kerendahan hati, karena air selalu mengalir dari tempat tinggi ke dataran rendah.

Beliau juga menjelaskan makna warna bendera Buddhis (biru, kuning, merah, putih, dan jingga) yang secara historis diyakini berasal dari pancaran aura Buddha saat mencapai pencerahan. Warna-warna tersebut melambangkan bakti (biru), kebijaksanaan (kuning), cinta kasih (merah), kesucian (putih), dan tekad (jingga).

Meditasi untuk Semua

Sesi tanya jawab berlangsung aktif dan interaktif. Menjelang akhir kegiatan, menanggapi pertanyaan mahasiswa, Ibu Dharma menekankan pentingnya meditasi sebagai kebutuhan manusia modern. Meditasi, menurutnya, tidak hanya untuk umat Buddha, tetapi relevan bagi semua orang. “Kita sering terlihat diam, tetapi pikiran kita ke mana-mana. Meditasi membantu kita kembali fokus pada apa yang sedang kita lakukan,” tuturnya.

Mas Eko menambahkan bahwa meditasi adalah cara untuk meredakan kekhawatiran dan belajar hadir pada momen kini. “Semakin kita mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi, semakin bertambah penderitaan kita,” ujarnya. Ia memberi analogi menarik: “Kalian sering curhat ke teman, tapi kadang cerita itu justru tersebar. Dalam meditasi, kita ‘bercurhat’ kepada hembusan napas kita sendiri, karena napas adalah yang paling dekat dan setia menemani kita.” Menurutnya, meditasi memang tidak serta-merta menghilangkan masalah, tetapi membantu menjernihkan pikiran sehingga seseorang dapat mengambil keputusan dengan lebih baik. Ia menambahkan bahwa meditasi kini juga banyak direkomendasikan oleh psikolog sebagai terapi pelengkap bagi kesehatan mental.

Kegiatan kunjungan ditutup dengan sesi foto bersama. Selain menjadi pengalaman langsung mengenal ajaran dan praktik Buddhis, kunjungan ini juga menjadi sarana refleksi serta memperluas wawasan mahasiswa mengenai keberagaman tradisi keagamaan di Indonesia.

Sumber: SAA UIN

LEAVE A REPLY