Menuju kesadaran ekologis baru bencana aceh dan sumatra.
Bagian penutup dari empat artikel mengenai bencana aceh dan sumatra ini adalah: Menuju kesadaran ekologis baru.
Ketika dunia diperlakukan bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai komunitas hidup yang saling mengondisikan, maka manusia tidak hanya menyelamatkan alam, tetapi juga memulihkan martabatnya sendiri. Di titik inilah Buddhadharma dan falsafah Jawa bertemu sebagai suara etis yang mendesak: mengingatkan bahwa keselamatan manusia dan keselamatan bumi adalah satu dan tak terpisahkan.
Penutup: Menuju Kesadaran Baru

Bencana Aceh–Sumatera Utara bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit tanpa sebab. Ia adalah tanda zaman—sebuah panggilan etis yang menyingkap krisis lebih dalam daripada sekadar kegagalan teknis atau bencana alamiah. Ia memanggil kita untuk membaca ulang relasi manusia–alam dan menyadari bahwa keselamatan tidak ditentukan terutama oleh kecanggihan teknologi, percepatan pembangunan, atau pertumbuhan ekonomi, melainkan oleh mutu kesadaran yang membimbing cara kita hidup bersama dunia.

Dalam terang Buddhadharma, krisis ekologis ini memperlihatkan kegagalan memahami kesalingketergantungan (iddapaccayatā) yang menopang seluruh kehidupan. Ketika manusia memutus jaring relasi sebab-kondisi yang menghidupi alam, ia sesungguhnya sedang merusak fondasi keberadaannya sendiri. Dalam falsafah Jawa, krisis yang sama dibaca sebagai pudarnya laku memayu hayuning bawono—tanggung jawab batin manusia untuk menjaga dunia tetap ayu, seimbang, dan layak dihuni oleh semua makhluk. Dua horizon ini, meski lahir dari tradisi yang berbeda, bertemu pada satu peringatan yang sama: dunia tidak rusak karena alam murka, tetapi karena kesadaran manusia yang tercerabut dari relasi kosmiknya.

Membangun masa depan yang lebih selamat tidak cukup dengan menambal kerusakan atau merespons bencana secara reaktif. Ia menuntut keberanian moral untuk mengoreksi arah pembangunan, membatasi kerakusan yang dilembagakan, dan menata ulang kebijakan publik agar berpihak pada kehidupan—bukan pada kepentingan jangka pendek yang merusak daya dukung bumi. Negara, dalam horizon ini, dipanggil kembali ke perannya yang paling mendasar: bukan sekadar pengelola pertumbuhan, melainkan penjaga kehidupan, pengemban amanat penderitaan rakyat.

Ketika dunia diperlakukan bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai komunitas hidup yang saling mengondisikan, maka manusia tidak hanya menyelamatkan alam, tetapi juga memulihkan martabatnya sendiri. Di titik inilah Buddhadharma dan falsafah Jawa bertemu sebagai suara etis yang mendesak: mengingatkan bahwa keselamatan manusia dan keselamatan bumi adalah satu dan tak terpisahkan.

“Bencana ekologis bukan sekadar kegagalan alam, melainkan tanda bahwa manusia telah kehilangan kesadaran etisnya: lupa bahwa merusak dunia berarti merusak dasar keberadaannya sendiri!”

Eko Nugroho R (Peneliti Institut Nagarjuna)

Bacaan Lanjutan

Buddha. (2010). Majjhima Nikāya: Kumpulan khotbah menengah Sang Buddha (Terj. Indonesia). Jakarta: Dhammacitta Press.

Buddha. (2012). Saṃyutta Nikāya: Kumpulan khotbah yang berhubungan (Terj. Indonesia). Jakarta: Dhammacitta Press.

Buddha. (2013). Aṅguttara Nikāya: Kumpulan khotbah bernomor (Terj. Indonesia). Jakarta: Dhammacitta Press.

Buddha. (2009). Dhammapada (Terj. Indonesia). Jakarta: Dhammacitta Press.

Buddha. (2007). Vinaya Piṭaka: Mahāvagga (Terj. Indonesia). Jakarta: Sangha Theravāda Indonesia.

BNPB. (2025). Laporan Situasi Bencana Hidrometeorologi Akhir Tahun 2025. Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Kaza, S., & Kraft, K. (Eds.). (2000). Dharma Rain: Sources of Buddhist Environmentalism. Boston: Shambhala.

KLHK. (2022). Status Deforestasi Indonesia Tahun 2021–2022. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kompas.com. (2025, 16 Desember). Prabowo ingin Papua ditanam sawit agar hasilkan BBM. Jakarta: Kompas.

Lee, S. (2018). Borobudur dan Kosmologi Jawa Kuna. Yogyakarta: Pusat Studi Candi Nusantara.

Lee, S. (2019). Membaca Ulang Borobudur: Koreksi atas Narasi Tridhatu. Yogyakarta: Pusat Kajian Warisan Budaya.

Loy, D. R. (2010). The World Is Made of Stories: Buddhist Perspectives on Globalization. Boston: Wisdom Publications.

Magnis-Suseno, F. (1984). Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia.

Riyanto, F. X. A. (2022). Memayu Hayuning Bawana: Etika Relasional dalam Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Kanisius.

WALHI. (2023). Catatan Akhir Tahun: Krisis Ekologis dan Tata Kelola Sumber Daya Alam Indonesia. Jakarta: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.

Tamat

LEAVE A REPLY