Pada suatu pagi di tahun 1957, seorang profesor psikiatri bernama Ian Stevenson duduk di ruang kerjanya di University of Virginia. Di rak bukunya, deretan jurnal medis yang pernah ia tulis tersusun rapi—lebih dari enam puluh publikasi, tanda betapa mapannya ia dalam dunia kedokteran akademik. Tidak ada yang membayangkan bahwa lelaki dengan pembawaan tenang itu sebentar lagi akan mengubah arah hidupnya, menempuh jalan panjang yang membuatnya bersentuhan dengan anak-anak kecil dari desa terpencil di India hingga perkampungan dingin di Alaska.
Jalan itu akan membawanya pada satu pertanyaan kuno yang membayangi umat manusia sejak ribuan tahun: Apakah kita pernah hidup sebelumnya?
Semuanya Dimulai dari Empat Puluh Empat Kisah
Perubahan itu bermula bukan dari visi spiritual, melainkan dari sebuah……lomba menulis.
American Society for Psychical Research mengumumkan sayembara esai tentang fenomena paranormal. Stevenson, yang sejak muda tertarik pada misteri pikiran dan kesadaran, memutuskan ikut serta. Ia membolak-balik laporan-laporan lama tentang orang-orang yang mengingat kehidupan terdahulu—kebanyakan anak-anak. Ia mengumpulkan empat puluh empat kisah dari berbagai tempat, menelitinya dengan metode ilmiah yang ia kuasai.
Saat ia membaca satu demi satu kisah itu, Stevenson tersentak. Meski berasal dari negara dan budaya berbeda, pola ceritanya selalu mirip: anak-anak berusia dua atau tiga tahun menangis meminta “pulang” ke rumah yang bukan milik keluarga mereka; ada yang menyebut nama, pekerjaan, tempat tinggal, hingga cara mereka mati.
Ia menulis esainya, memenangkan lomba itu, dan mempublikasikannya pada tahun 1960. Namun tak ada yang menyiapkan dirinya untuk apa yang terjadi setelah itu. Ian Pretyman Stevenson (31 Oktober 1918–8 Februari 2007) adalah seorang psikiater berkebangsaan Kanada yang menjadi warga negara Amerika Serikat, yang dikenal secara internasional sebagai pendiri dan direktur Division of Perceptual Studies di University of Virginia School of Medicine. Ia mengabdikan lebih dari lima puluh tahun hidupnya di universitas yang sama, menjabat sebagai ketua departemen psikiatri, Profesor Carlson untuk Psikiatri, dan kemudian Profesor Riset hingga akhir hidupnya.
Selama lebih dari empat dekade ia melakukan penelitian lapangan di lebih dari tiga ribu kasus anak yang mengklaim mengingat kehidupan lampau, serta menulis sekitar tiga ratus makalah dan empat belas buku penting yang menjadikan fenomena reinkarnasi sebagai subjek penelitian empiris yang serius. Stevenson dikenal sangat berhati-hati dalam menarik kesimpulan; ia menekankan bahwa temuan yang ia kumpulkan bersifat suggestive—menunjukkan kemungkinan reinkarnasi—dan bukan bukti absolut, serta bahwa reinkarnasi bisa menjadi faktor ketiga yang memengaruhi perilaku, fobia, atau kemampuan tertentu di luar genetika dan lingkungan.
Panggilan Telepon yang Mengubah Segalanya
Beberapa bulan kemudian, telepon di ruang kerjanya berdering. Di ujung sana, seorang perempuan bernama Eileen Garrett, tokoh penting dalam dunia parapsikologi, berbicara cepat:
“Dr. Stevenson, saya tahu sebuah kasus di India. Jika Anda mau datang menyelidikinya, saya akan membiayai perjalanannya.”
Stevenson tidak pernah berniat menjadi peneliti lapangan dalam topik ini—ia sibuk menjadi ketua departemen. Tetapi ada sesuatu yang memanggilnya. Rasa ingin tahu, mungkin. Naluri ilmuwan yang tidak mau berhenti pada dugaan belaka. Ian pun setuju.
Setibanya di India, ia mendapatkan kejutan kedua. Kasus-kasus yang mirip dengan yang ia baca dalam literatur ternyata bertebaran di mana-mana. Dalam empat minggu, ia menemukan 25 kasus. Dalam perjalanan singkat ke Srilanka, ia menemukan tujuh lagi.
Seakan dunia membisikkan bahwa ada sesuatu yang menunggu disingkap.
Dari Xerox ke Reinkarnasi
Sesampainya kembali di Amerika, seorang pria misterius menghubunginya. Bukan sembarang pria—ia adalah Chester Carlson, penemu teknologi fotokopi yang kelak menjadi Xerox. Ketertarikannya pada penelitian parapsikologi, berawal dari sang istri Dorris Carlson dan kerap membaca karya Stevenson.
Carlson, yang kemudian juga tertarik pada isu ini, menawarkan dukungan pendanaan agar Stevenson dapat melanjutkan penelitiannya. Pada awalnya Stevenson menolak—ia masih terlalu sibuk. Tetapi pikirannya terus kembali pada anak-anak yang ia temui di India. Ia akhirnya menerima bantuan itu.
Tak lama kemudian, ia mendapat surat dari Alaska tentang seorang anak dari suku Tlingit yang berbicara tentang kehidupan sebelumnya sebagai orang yang berbeda. Ketika Stevenson tiba di sana, ia menemukan lebih banyak kasus—dunia seakan membuka pintu satu demi satu.
Sejak itu, ia resmi “terjerat”. Ia meninggalkan posisi strategisnya di universitas dan mulai mengabdikan hidupnya untuk satu studi: kasus-kasus reinkarnasi.
Dari Lebanon ke Thailand: Mencari Jejak Kehidupan Lampau
Selama puluhan tahun, Stevenson bepergian ke berbagai penjuru dunia. Ia duduk di rumah-rumah sederhana di India, berbicara dengan keluarga yang anaknya menangis ingin kembali ke desa lain. Ia mendaki bukit di Lebanon, menelusuri jejak anak kecil yang mengingat kehidupan sebagai seorang pemuda yang tewas ditembak. Ia mencatat kisah anak Thailand yang memohon agar tidak disuruh mengenakan pakaian tertentu, karena “di kehidupan sebelumnya ia terbunuh saat mengenakannya.”
Dalam perjalanan itu, ia melihat pola-pola berulang: Anak-anak mulai berbicara tentang kehidupan sebelumnya sebelum usia tiga tahun. Banyak dari mereka mengingat cara kematian yang penuh kekerasan. Beberapa menunjukkan fobia yang secara misterius cocok dengan cara mereka “mati”. Ada yang menunjukkan kerinduan mendalam pada keluarga sebelumnya. Ada yang bersikap dan bermain seolah-olah masih menjalani profesi mereka yang dahulu.
Stevenson mencatat semuanya secara teliti, seolah menjadi saksi bisu perjalanan lintas kehidupan.
Buku yang Menggemparkan Para Ilmuwan
Pada tahun 1966 ia menerbitkan Twenty Cases Suggestive of Reincarnation. Buku itu bukan sekadar kumpulan cerita. Itu adalah dokumen ilmiah setebal ratusan halaman, berisi tabel verifikasi, kesaksian berulang, dan investigasi silang.
Seorang reviewer dari American Journal of Psychiatry menulis bahwa bukti dalam buku itu cukup untuk “meyakinkan pikiran terbuka” bahwa reinkarnasi adalah hipotesis yang layak diuji. Tetapi dunia sains arus utama… diam. Stevenson tidak putus asa. Ia terus bekerja.
Tanda yang Tertinggal di Tubuh
Dalam ribuan kasus yang ia teliti, ada satu fenomena yang paling membekas: anak-anak yang lahir dengan tanda lahir atau cacat mirip luka kematian orang sebelumnya. Ada anak yang lahir dengan: dua bekas luka bulat seperti peluru masuk dan keluar, jari tangan hilang, persis seperti seseorang yang kehilangan jari karena kecelakaan, bekas luka bakar besar, kepala cacat parah yang cocok dengan laporan luka akibat alat tajam.
Stevenson lalu menerbitkan karya raksasa dua volume berjudul Reincarnation and Biology (1997), lebih dari dua ribu halaman, penuh dokumentasi medis. Buku itu membuat banyak ilmuwan yang sebelumnya tak mempedulikannya… mulai menoleh.
Anak-Anak Jepang di Tanah Myanmar
Salah satu studi paling menarik Stevenson adalah tentang anak-anak di Myanmar yang mengaku pernah menjadi tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Anak-anak itu: ingin memakai sepatu bot ala tentara, menolak makanan lokal dan meminta ikan mentah, bersikap keras dan disiplin seperti militer.
Bagaimana mungkin budaya yang begitu asing tertanam dalam diri anak-anak di desa yang bahkan tak pernah mendengar kata “Tokyo”? Stevenson menyebutnya sebagai elemen ketiga kepribadian—sebuah kemungkinan bahwa pengalaman hidup sebelumnya ikut menyumbang pembentukan diri.
Sang Peneliti yang Tak Pernah Mengklaim Kepastian
Meski menghabiskan empat puluh tahun hidupnya dalam penelitian, Stevenson tidak pernah menganggap dirinya menemukan “kebenaran mutlak”.
Ia menolak penggunaan kata “bukti definitif”. Ia mengatakan:
“Tidak ada satu kasus pun yang memaksa kita percaya reinkarnasi. Tetapi sebagian besar kasus menunjukkan bahwa hipotesis reinkarnasi memberi penjelasan terbaik.”
Di ruang arsip DOPS, hingga kini masih tersimpan catatan-catatan tangannya: daftar pertanyaan, koreksi, permintaan verifikasi detail kecil yang tampaknya sepele. Stevenson mewawancarai beberapa saksi berulang kali dalam rentang bertahun-tahun hanya untuk memastikan konsistensi cerita. Ia bekerja seperti detektif, sejarawan, antropolog, dan psikiater sekaligus.
Akhir Perjalanan, Tanpa Akhir Pencarian
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Stevenson sering berkata sambil tersenyum bahwa ia mungkin akan “meninggal sebagai orang gagal”. Maksudnya sederhana: ia belum berhasil membuat sains arus utama menerima reinkarnasi sebagai kemungkinan serius. Tetapi ia tidak benar-benar gagal.
Pekerjaan besar yang ia mulai kini diteruskan oleh generasi baru peneliti. Nama Stevenson disebut sebagai pelopor, inspirator, dan peletak dasar metodologi penelitian kasus reinkarnasi. Dalam tulisan terakhirnya, ia menutup dengan sebuah kalimat pendek yang menggambarkan seluruh jiwa penelitiannya:
“Jangan ada yang berpikir bahwa saya mengetahui jawabannya. Saya masih mencari.”
Dan mungkin, dalam pencarian itu, ia meninggalkan pintu terbuka yang akan terus dilalui para pencari berikutnya—para ilmuwan yang berani bertanya tentang apa yang terjadi setelah hidup ini berakhir.@Arlene Eleanor











