Vihara terbesar di Jepang Grand Hall of Buddhism dibangun di lahan seluas 180 hektar dan melibatkan 3,5 juta orang selama 7 tahun tanpa kecelakaan kerja.

Di Prefektur Hyogo, Jepang, berdiri sebuah kompleks vihara terbesar di Jepang yang dibangun dalam skala yang jarang ditemukan di dunia modern. Royal Grand Hall of Buddhism, demikian namanya secara internasional. Vihara ini merupakan bagian dari Nenbutsushu Sampozan Muryojuji, tidak hanya menampilkan kemegahan arsitektur, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi kuno dapat dipadukan dengan teknologi mutakhir dalam satu kesatuan ruang spiritual.

Sejak awal pembangunannya, vihara terbesar di Jepang ini dirancang sebagai representasi lintas budaya Buddhis. Akar ajaran Buddha yang berasal dari India, serta perkembangan tradisinya di Tiongkok, Korea, dan Jepang, semuanya dihadirkan dalam satu kompleks. Dengan demikian, tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai vihara, tetapi juga sebagai ruang representasi perjalanan panjang Buddhadharma melintasi peradaban.

Vihara Terbesar di Jepang: Sejak 1661 untuk Seribu Tahun ke Depan

Yang membuatnya semakin istimewa adalah posisinya dalam sejarah arsitektur Jepang. Pembangunan Royal Grand Hall of Buddhism disebut sebagai konstruksi vihara Buddhis otentik berskala penuh pertama sejak didirikannya kuil utama sekte Obakushu pada tahun 1661. Artinya, kompleks ini bukan sekadar pembangunan baru, tetapi sebuah peristiwa penting dalam kesinambungan tradisi arsitektur Buddhis Jepang.

Dalam proses pembangunannya, pendekatan yang digunakan memadukan teknik tradisional dengan teknologi paling canggih. Struktur bangunan dirancang untuk bertahan hingga seribu tahun, sebagai warisan bagi generasi mendatang. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi justru diperkuat melalui inovasi. Di sinilah terlihat bagaimana Buddhadharma tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diadaptasi agar tetap relevan dalam konteks modern.

Kemegahan Papan Nama dan Seni Patung

Memasuki kompleks vihara terbesar di Jepang ini, pengunjung akan melewati gerbang depan yang dijaga oleh dua sosok pelindung Dharma: Vaisravana dan Virudhaka. Keduanya merupakan bagian dari Empat Raja Langit yang dalam tradisi Buddhis dipercaya melindungi ajaran Buddha. Dalam kosmologi dewata Buddhadharma Tionghoa, Ne Zha adalah putra dari Vaisravana. Di Jepang Vaisravana disebut Tamonten, sedangkan Ne Zha disebut Nataku. Keduanya merupakan transliterasi dari nama aslinya dalam bahasa Sansekerta yaitu Nalakuvara.

Patung-patung ini dikerjakan oleh seniman Tiongkok She Guo Ping, yang diakui sebagai harta nasional hidup. Vaisravana digambarkan mengangkat relik, melambangkan pentingnya mendengarkan ajaran Dharma sebelum mempraktikkannya. Sementara Virudhaka memegang alat penghancur, yang melambangkan penghancuran nafsu duniawi sebagai bagian dari praktik spiritual. Patung ini demikian tinggi, hingga manusia hanya tampak setinggi mata kaki patung tersebut. Sedangkan papan nama vihara ini pun tingginya sekitar 5,25 meter dengan lebar 3.15 meter.

Setelah melewati gerbang, perjalanan dilanjutkan melalui sebuah jembatan granit yang dikenal sebagai Tathata Bridge atau Jembatan Tathagatha. Terinspirasi dari Jembatan Togetsu di Kyoto, jembatan ini membentang lurus sepanjang 141 meter. Bentuknya yang lurus melambangkan jikishin, atau pikiran yang lurus dan terarah menuju penggugahan. Saat melintasinya, pengunjung diajak untuk melepaskan kekotoran batin dan mempersiapkan diri memasuki ruang suci dengan kesadaran yang lebih jernih.

Gerbang utama kompleks vihara terbesar di Jepang ini tidak kalah sarat makna. Dihiasi ukiran naga, gerbang ini disebut sebagai touryumon, atau “gerbang naga yang bangkit”. Konsep ini diambil dari legenda Tiongkok tentang seekor ikan yang berenang melawan arus Sungai Kuning dan akhirnya berubah menjadi naga. Dalam konteks Buddhis, simbol ini menggambarkan kemungkinan transformasi manusia biasa menuju kondisi spiritual yang lebih tinggi.

Di sisi gerbang utama berdiri dua dewa penjaga dengan ekspresi “a” dan “hum”—satu dengan mulut terbuka, satu tertutup—yang melambangkan awal dan akhir dari segala sesuatu. Buddhadharma Jepang juga menggunakan ikonografi singa dengan posisi “a” dan “hum” untuk maksud yang sama. Patung-patung ini termasuk yang terbesar di dunia dalam jenisnya, dan dilapisi dengan teknik pelapisan khusus yang menambah kesan monumental. Dari posisi mereka yang menghadap dunia luar, kedua penjaga ini seolah mengingatkan setiap pengunjung untuk menjauhi keburukan dan menempuh jalan kebajikan.

Di balik gerbang tersebut terbentang kompleks vihara yang sangat luas, mencakup lebih dari 180 hektar. Di dalamnya terdapat berbagai bangunan utama, mulai dari aula Amitabha, aula Sakyamuni, hingga aula Avalokiteswara. Selain itu terdapat pula pagoda lima tingkat, aula sutra, aula konferensi Buddhis internasional, serta ruang-ruang bagi sangha dan praktik keagamaan. Seluruh kompleks dihiasi lebih dari sepuluh ribu patung dan puluhan ribu ukiran logam, menciptakan lanskap visual yang kaya akan simbol dan detail.

Namun di balik semua kemegahan vihara terbesar di Jepang ini, terdapat fakta yang mungkin paling mengesankan: pembangunan vihara ini melibatkan total 3,5 juta orang dan diselesaikan hanya dalam waktu tujuh tahun—tanpa satu pun kecelakaan kerja. Angka ini menunjukkan bahwa pembangunan vihara ini bukan hanya proyek arsitektur, melainkan juga hasil dari partisipasi kolektif umat Buddha dunia, dalam skala yang luar biasa.

Royal Grand Hall of Buddhism sebagai vihara terbesar di Jepang, dapat dipahami sebagai pertemuan antara masa lalu dan masa depan. Ia menghidupkan kembali teknik dan simbolisme tradisional, sekaligus memanfaatkan teknologi modern untuk menciptakan sesuatu yang bertahan lama. Di dalamnya, Buddhadharma tidak hanya diajarkan, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk ruang, struktur, dan pengalaman.

Sebagai sebuah vihara, ia tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat praktik spiritual. Namun sebagai sebuah karya peradaban, ia juga menunjukkan bagaimana ajaran Buddha dapat terus hadir dan berkembang dalam bentuk yang baru—tanpa kehilangan akar yang telah membentuknya selama berabad-abad. Dalam laman resminya bahkan ditegaskan bahwa vihara terbesar di Jepang ini bukanlah tujuan wisata, melainkan tempat belajar dan praktik ajaran Buddha.

LEAVE A REPLY