International Buddhist Day diselenggarakan di Jepang 2026. Ruang diplomasi Buddhadharma.

International Buddhist Day bukan sekadar perayaan keagamaan tahunan. Forum ini juga menjadi ruang artikulasi diplomasi kultural dalam konteks global, di mana negara-negara menampilkan nilai, identitas, dan pengaruhnya melalui jalur kultural. Kehadiran Indonesia dalam peringatan yang digelar di Hyogo, Jepang, mencerminkan partisipasi negara ini dalam mempromosikan harmoni, toleransi, dan nilai lintas peradaban di tingkat internasional.

Jejaring Buddhis Internasional sebagai Soft Power

Dalam konteks yang lebih luas, dinamika ini bahkan dapat dibaca sebagai bagian dari lanskap strategis Indo-Pasifik, di mana agama dan budaya menjadi instrumen penting dalam membangun pengaruh. Inisiatif seperti Free and Open Indo-Pacific (FOIP) yang diusung Jepang menunjukkan bahwa keterbukaan, konektivitas, dan stabilitas kawasan tidak hanya dibangun melalui kerja sama ekonomi dan keamanan, tetapi juga melalui pendekatan kultural.

Namun praktik ini tidak eksklusif milik Jepang. Belt and Road Initiative (BRI) yang digerakkan Tiongkok juga memperlihatkan dimensi serupa, di mana jejaring Buddhis internasional, termasuk penyelenggaraan forum dan mobilisasi simbol-simbol keagamaan, menjadi bagian dari strategi membangun kedekatan dan pengaruh di berbagai negara. Bahkan India, sebagai tanah kelahiran Buddha, turut memainkan peran melalui berbagai forum Buddhis global yang memperkuat posisinya dalam lanskap diplomasi kultural kawasan.

Peringatan International Buddhist Day ke-12 berlangsung di The Royal Grand Hall of Buddhism, Nenbutsushu Sampozan Muryojuji, Kato City, Jepang, dengan dihadiri puluhan ribu peserta dari berbagai negara. Melalui laman resminya, TRGHB Nenbutsushu disebut sebagai ruang suci bagi 520 juta umat Buddha di seluruh dunia.

Indonesia dan Pesan Toleransi

Konsul Jenderal Republik Indonesia di Osaka, John Tjahjanto Boestami, dalam forum tersebut menegaskan bahwa Indonesia memandang keberagaman sebagai fondasi utama dalam membangun perdamaian dunia. Sejak 2014 lalu peringatan Hari Buddhis Internasional atau International Buddhist Day telah ditetapkan setiap tanggal 8 April. Perayaan International Buddhist Day di Jepang kali ini diikuti oleh puluhan ribu peserta yang berasal dari 51 negara. Termasuk perkawilan keluarga kerajaan-kerajaan Buddhis, dan tokoh-tokoh Buddhis seluruh dunia.

Dalam perspektif kewarganegaraan, pernyataan Konjen RI dalam International Buddhist Day mencerminkan posisi Indonesia sebagai negara yang mengintegrasikan pluralitas ke dalam kerangka kebangsaan. Agama Buddha, sebagai salah satu agama yang diakui secara resmi, menjadi bagian dari konstruksi sosial yang menopang harmoni antarumat beragama.

“Keberagaman di Indonesia menjadi kekuatan dalam membangun perdamaian, sejalan dengan nilai-nilai universal dalam ajaran Buddha,” ujarnya sebagaimana dikutip dari situs Kemlu.go.id.

Memang Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kategori “agama yang diakui” atau “agama resmi” yakni 6 agama yang difasilitasi negara. Padahal sebenarnya terdapat begitu banyak agama lokal asli Indonesia yang justru hanya diakui sebagai penghayat.

Sesuatu yang sebetulnya merupakan sebuah ironi jika kita memahami sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dari akar filsafat Nagarjuna. Bahwa ketuhanan adalah realitas yang tak akan mampu dideskripsikan oleh keterbatasan kata-kata. Atau dalam Zen diungkapkan dengan sederhana ibarat telunjuk menunjuk rembulan. Jika kata-kata mewakili konsep tentang tuhan, dan rembulan adalah tuhan. Maka jangan sampai kita salah mengira telunjuk sebagai rembulan. Jadi penafsiran atas ketuhanan dalam Pancasila, sebenarnya bersifat sangat luas dan tak terbatas. Artinya semua konsep tuhan atau ketuhanan berbagai agama, termasuk agama lokal termasuk di dalamnya. Sila pertama Pancasila adalah jalan tengah, melingkupi semuanya tanpa kecuali.

Ritual, Simbol, dan Produksi Makna

https://images.openai.com/static-rsc-4/GoSFZwDBwTZ_66D-NYFFY3_tapBXiEtDHCYAPdcAttNku_2fn8_cEjWQAGTcQSGw2ONZVemum2OuOA8MZErEx0nBofcCpGygCjuZ6nTrk9zSOCSo_YNWHMYhVzAJwYIqG-7O_fgOyWvb8T0cnuouWc5HoskkazHsdRMZ5ccULaaO-62Og5tOpUTDkfXxlvA0?purpose=fullsize
Rangkaian acara International Buddhist Day diawali dengan prosesi keagamaan, termasuk ritual kanbutsu. Yakni ritual penyiraman air pada patung Buddha bayi yang melambangkan kelahiran kebijaksanaan dan penyucian batin. Ritual ini juga umum dilakukan umat Buddha, khususnya dari aliran Mahayana ketika Waisak.

Dalam perspektif simbolik, ritual ini bukan sekadar praktik devosional, melainkan juga produksi makna kolektif yang menghubungkan pengalaman spiritual dengan aspirasi perdamaian global.

Buddhist Summit dan Jaringan Transnasional

Forum ini juga dihadiri oleh pemimpin agama Buddha dari 51 negara anggota Buddhist Summit, termasuk Indonesia. Kehadiran berbagai tokoh—dari pemuka agama hingga pejabat diplomatik—menunjukkan bahwa Agama Buddha beroperasi dalam jaringan transnasional yang melampaui batas negara.

Pada Buddhist Summit ke-9 ini, Indonesia diwakili oleh Bhikkhu Phra Sukhemo Mahathera. Seorang biku senior anggota Sangha Theravada Indonesia (STI) dari Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya.

Borobudur dan Memori Peradaban

Konjen RI turut menyoroti Candi Borobudur sebagai simbol koneksi historis Indonesia dengan Agama Buddha. Borobudur tidak hanya berfungsi sebagai situs arkeologis, tetapi juga sebagai memori peradaban yang menegaskan kontribusi Nusantara dalam sejarah Buddhadharma dunia. Dalam konteks ini, Borobudur menjadi instrumen penting dalam diplomasi budaya Indonesia.

Namun perlu diingat bahwa hingga saat ini narasi Borobudur sebagai tiga lapisan alam atau dhatu masih dipertahankan. Padahal narasi ini hanyalah pendapat salah satu ahli di masa lalu, yang telah dibantah oleh banyak pakar kemudian. Borobudur bukan Tri Dhatu, karena jelas bahwa berbagai temuan tidak ada yang dapat menguatkan pendapat bahwa candi ini adalah representasi 3 alam. Para pakar tersebut antara lain Dumarcay (1978), de Casparis (1981), Gomez & Woodward (1981), Lancaster (1981), Fontein (2012), Lee (2017; 2018), dan terkini Lee (2025).

Para pakar tersebut menyatakan bahwa pembagian Borobudur sebagai 3 alam atau tri dhatu, tidak memiliki dasar tekstual maupun analitis yang memadai. Salim Lee (2017; 2018) yang melakukan kajian mendalam menggunakan ajaran Buddha dan filsafat Jawa dalam membaca Borobudur menyimpulkannya sebagai struktur kesadaran, bukan kosmologi. Apa yang disajikan Borobudur dari tingkat paling bawah sampai atas adalah jalan untuk praktik Bodhisatwa menuju penggugahan sejati. Hal ini didasari dari pembacaan atas rangkaian relief yang berbasis kitab suci Tri Pitaka berbagai versi. Hingga terbaca jelas dari perbedaan bentuk rongga stupa, di tingkatan yang berbeda dan akhirnya stupa induk yang tak lagi berongga hanya berbatas langit.

Buddhadharma sebagai Soft Power

Kegiatan seperti International Buddhist Day ini sesungguhnya menunjukkan bagaimana Buddhadharma dapat berfungsi sebagai soft power. Khususnya dalam hubungan internasional melalui relasi antar-warga negara. Nilai-nilai welas asih, kebijaksanaan, dan harmoni menjadi basis etis yang dapat menjembatani perbedaan antarbangsa.

Dengan demikian, kehadiran Indonesia baik dari perwakilan pemerintah maupun dari anggota sangha dalam International Buddhist Day ini. Tidak hanya bersifat representatif, tetapi juga strategis dalam membangun citra sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian dan keberagaman.

International Buddhist Day memperlihatkan bahwa Buddhadharma memiliki relevansi yang terus hidup dalam konteks global kontemporer. Bagi Indonesia, forum dapat ini menjadi ruang untuk menegaskan identitas sebagai bangsa plural yang aktif berkontribusi dalam membangun harmoni dunia. Namun sayang hingga kini masih banyak aksi intoleran terhadap mereka yang beragama berbeda. Penolakan pembangunan rumah ibadah di luar agama mayoritas, hingga pembakaran saung milik penghayat kepercayaan. Tentu harapannya di masa depan, Indonesia bisa benar-benar tampil sebagai teladan dalam toleransi.

LEAVE A REPLY