Baru-baru ini, saya menyimak kabar tentang disetujuinya rencana pembangunan untuk renovasi biara Plum Village. Sebuah biara Buddhis yang terletak di wilayah Dordogne selatan, Prancis. Izin tersebut diberikan oleh otoritas setempat kepada komunitas biara. Sebagai bagian dari upaya menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan komunitas spiritual yang terus berkembang. Di balik rancangan tersebut, terlibat studio arsitektur ternama asal Belanda, MVRDV. Studio yang telah bekerja sama erat dengan biara sejak 2023 silam.
Plum Village didirikan pada 1982 oleh Bhikkhu Thich Nhat Hạnh. Seorang bhiksu asal Vietnam yang juga merupakan tokoh sentral dalam gerakan Engaged Buddhism. Biara ini sekarang menjadi biara Buddhis terbesar di Eropa. Kompleksnya terdiri dari tiga lokasi, termasuk Upper Hamlet untuk para bhiksu dan Lower Hamlet untuk para bhiksuni. Setiap tahunnya, ribuan pengunjung datang untuk mengikuti retret meditasi. Sehingga kapasitas infrastruktur pun mulai tidak memadi. Pada masa puncak, beberapa bhiksu atau bhiksuni bahkan rela tidur di tenda, demi memberi ruang bagi para tamu. Pernah dalam satu masa retret total peserta yang datang berjumlah 800 orang.
Untuk menjawab tantangan ini, Plum Village menggandeng MVRDV, arsitek pendamping MoonWalkLocal, serta konsultan teknis seperti OTEIS, VPEAS, dan Emacoustic. Tujuannya adalah guna menyusun dua masterplan terpadu, baik untuk Upper Hamlet maupun Lower Hamlet. Pada Desember 2025, Dewan Kota Thenac dan Loubes-Bernac memberikan izin pembangunan untuk fase pertama proyek tersebut.
Rencana yang disetujui mencakup pembangunan empat rumah tamu komunal berbahan kayu, renovasi toko buku biara (yang berada di bekas lumbung batu), serta pembangunan vihara bhiksuni baru di Lower Hamlet. Semua elemen dirancang dengan prinsip nirlaba dan berorientasi pada keberlanjutan: menggunakan material sirkular, berbasis hayati seperti kayu dan insulasi jerami, serta meminimalkan jejak karbon—selaras dengan nilai-nilai ekologis yang menjadi inti praktik Engaged Buddhism.
Proses perancangan sendiri bersifat partisipatif. Tim arsitek mengadakan serangkaian lokakarya dengan para bhiksu dan bhiksuni untuk memahami ritme kehidupan, kebutuhan spiritual, dan hubungan mereka dengan lingkungan. Seperti diungkapkan Sanne van der Burgh, Associate Director MVRDV, “Kami harus ‘melupakan’ banyak hal yang kami pelajari sebagai arsitek… Kehidupan yang mereka jalani sangat berbeda dari pengguna yang biasanya kami rancang.”
Hasilnya adalah desain yang responsif dan rendah hati. Rumah tamu dibentuk dalam konfigurasi huruf U, mengelilingi ruang bersama untuk lingkar Dharma, dengan akses melalui tangga luar, balkon, dan beranda yang memperkuat koneksi dengan alam. Vihara bhiksuni—yang akan menampung 76 anggota monastik dari 12 negara—dirancang sebagai bangunan halaman dalam berbahan kayu prefabrikasi, lengkap dengan zendo, perpustakaan, ruang kelas, dan area komunal.
Aspek lingkungan juga menjadi prioritas. Masterplan mengintegrasikan strategi lanskap seperti penciptaan habitat burung untuk pengendalian nyamuk, penempatan panel surya, serta pengurangan lalu lintas kendaraan demi menjaga suasana kontemplatif.
Bagi pembaca di Indonesia—negara dengan warisan Buddhis yang panjang dan komunitas spiritual yang dinamis—proyek ini menawarkan wawasan berharga: bahwa arsitektur religius kontemporer dapat menjadi medium untuk mewujudkan harmoni antara spiritualitas, komunitas, dan ekologi. Di tengah tekanan urbanisasi dan perubahan iklim, pendekatan Plum Village menunjukkan bahwa merancang ruang suci bukan hanya soal bentuk, tetapi juga tentang mendengarkan—secara mendalam—cara hidup yang ingin diwadahi.
Dalam konteks Indonesia dengan keberagaman budaya yang demikian kaya. Pembangunan tempat ibadah selain soal ramah lingkungan, faktor pelestarian budaya lokal juga perlu diperhatikan. Tantangannya bagaimana mengintrodusir arsitektur etnik kontemporer yang unik untuk vihara di berbagai wilayah Indonesia.











