
Media sosial kembali dihebohkan dengan kemunculan pohon randu alas raksasa di kawasan Borobudur, Magelang. Bukan tanpa alasan, pohon yang diduga sudah berusia ratusan tahun ini bikin warganet merinding setelah muncul video yang memperlihatkan cairan merah keluar dari batangnya, mirip darah. Sontak randu berdarah di Borobudur viral, tapi mari kita ungkap faktanya.
Sekilas memang kelihatan menyeramkan. Tapi ternyata, cerita di balik pohon ini nggak seseram yang dibayangkan.
Pohon Tua Raksasa yang Jadi Sorotan
Pohon randu alas ini berdiri megah di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur. Ukurannya nggak main-main—tingginya lebih dari 30 meter dan batangnya super besar, sampai delapan orang dewasa pun susah memeluknya bareng-bareng.
Sayangnya, kondisi pohon sudah mulai mengkhawatirkan. Ranting-rantingnya tampak kering dan rapuh. Karena letaknya dekat jalan dan area aktivitas warga, pohon ini awalnya direncanakan untuk ditebang demi alasan keamanan.
Soal “Darah” yang Bikin Viral
Masalah mulai ramai ketika proses pemangkasan dilakukan. Dari bagian pohon yang dipotong, keluar cairan berwarna merah pekat. Video dan fotonya langsung menyebar luas di media sosial, lengkap dengan berbagai spekulasi mistis.
Ada yang mengaitkannya dengan hal gaib, ada juga yang menganggap pohon ini “sakral”. Tapi warga sekitar dengan cepat meluruskan kabar tersebut.
Bukan Mistis tapi Alami
Menurut warga setempat, cairan merah itu bukan darah, melainkan getah alami pohon randu merah. Fenomena ini sebenarnya wajar secara biologis dan sudah dikenal oleh sebagian masyarakat.
Pemilik rumah di dekat lokasi pohon juga menegaskan bahwa randu jenis tertentu memang mengeluarkan getah kemerahan saat terluka. Jadi, nggak ada hubungannya dengan hal supranatural.
Randu Berdarah di Borobudur Jadi Daya Tarik Baru
Setelah viral, pohon randu alas ini justru kebanjiran pengunjung. Banyak orang datang hanya untuk melihat langsung “pohon berdarah” yang sedang ramai dibicarakan.
Sebagian pengunjung merasa pohon ini punya aura unik dan energi positif. Nggak sedikit juga yang menganggapnya sebagai ikon baru desa dan sayang kalau harus ditebang.
Meski viral dan jadi perhatian, persoalan utamanya tetap soal keamanan. Pemerintah desa dan Pemkab Magelang kini masih menunggu kajian dari para ahli untuk menentukan langkah selanjutnya.
Ahli menyebut randu alas memang bisa hidup sangat lama, bahkan ratusan tahun. Tapi kondisi ranting yang mudah patah jadi tanda bahwa pohon ini sudah mulai rapuh. Kalau masih memungkinkan diselamatkan, warga berharap pohon ini bisa dipertahankan. Namun jika risikonya terlalu besar, penebangan bisa jadi pilihan terakhir.
Antara Viral, Alam, dan Keselamatan
Kisah pohon randu alas di Borobudur ini jadi pengingat kalau sesuatu yang viral nggak selalu mistis. Kadang, alam punya cara unik untuk “bercerita”, dan tugas manusia adalah memahaminya dengan logika—tanpa mengabaikan keselamatan.
Sumber: Kumparan










