Blog Page 9

Institut Nagarjuna Sukses Luncurkan Sekolah Kepimimpinan Muda

2
Narasumber pada peluncuran Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis Indonesia yang diinisiasi Insitut Nagarjuna
Salah satu program utama Institut Nagarjuna adalah mengadakan Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis Indonesia.

Institut Nagarjuna (IN) menyelenggarakan Launching Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis Indonesia Angkatan I. Temanya adalah “Membentuk Kepemimpinan Muda Buddhis Nasionalis dan Berintegritas.”  Kegiatan diadakan pada hari Sabtu (15/12), di restoran Eka Ria Jakarta Pusat.

Penyelenggaraan Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis ini dihadiri oleh sekitar 26 peserta dari berbagai latar belakang. Selain itu, 40 orang tamu undangan dan tokoh masyakarat Buddhis juga hadir pada peluncuran. Rencananya, sekolah ini akan dilanjutkan pada bulan Januari 2019 mendatang dengan total tatap muka sebanyak 8 kali. Dengan menghadirkan pembicara pilihan dari panitia, yang berasal dari berbagai tokoh dan pimpinan lembaga.

“Ini merupakan langkah kami untuk meneruskan cita-cita yang belum tuntas saat menjadi mahasiswa dan anggota Himpunan mahasiswa Buddhis Indonesia.” Ujar Isyanto, Direktur Eksekutif IN.

“Dalam aktvitasnya, IN selalu bekerja sama dengan pribadi, kelompok, maupun pihak pemerintah. Demikian halnya, event kali ini. Untuk Launching Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis Indonesia. Kami dibantu oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha. Terima kasih Pak Supriyadi.” Tambahnya.

Visi Pengembangan Komunitas Institut Nagarjuna

Terkait dengan pengembangan masyarakat. Salah satu yang menjadi konsen IN adalah pengembangan sumber daya manusia. Jadi, IN merasa salah satu kelemahan komunitas Buddhis. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa SDM kita masih sangat ketinggalan. Meskipun begitu, IN juga memahami bahwa upaya meningkatkan pemahaman dharma tekstual. Sudah begitu masif dilakukan baik oleh sangha, majelis, pengurus vihara.

Itulah yang mendasari Institut Nagarjuna berkreasi membuat “sekolah” ini. Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis Indonesia. Harapannya adalah peserta dari sekolah ini, baik aktivis vihara atau pengurus di lembaga, organisasi mahasiswa, atau majelis. Dapat mengembangkan kepemimpinan nasionalis dan berintegritas. Dengan pemahaman Buddhadharma kontekstual. Karena yang tekstual sudah banyak diberikan. Peserta SKMBI kali ini beragam, ada yang berasal dari Wandani (Wanita Theravada Buddhis Indonesia). Ada juga teman-teman Hikmahbudhi, mahasiswa STAB, dan banyak lagi.

SKMBI Angkatan Pertama

Untuk angkatan pertama ini, IN hanya menerima 26 peserta. Isyanto berharap kelas ini tidak hanya angkatan pertama saja namun juga ada angkatan-angkatan berikutnya. Dengan materi yang disampaikan, diharapkan peserta dapat menjadi pemimpin muda buddhis yang nasionalis, pemimpin muda yang punya integritas. “Berintegritas yang saya pahami adalah kesesuaian antara pikiran, hati, ucapan, dan perbuatan”, pungkas Isyanto.

Dalam kesempatan ini, hadir para pembicara, yaitu Bhante Jayamedho yang merupakan perwakilan dari Sangha, lalu Ramah Handoko dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), dan Khairil Adha selaku Kepala Bidang Kapasitas Pemuda dan Olahraga dengan moderator diskusi Eddy Setiawan Hadir pula Bapak Supriyadi sebagai perwakilan Direktorat Bimbingan Masyarakat Buddha serta Daniel Johan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat komisi-4 sekaligus dewan pembina Institut Nagarjuna.

Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis yang Nasionalis

Daniel Johan memberikan sambutan dalam acara Launcing Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis Institut Nagarjuna

Kepada sahabat Is dan seluruh pengurus Institut Nagarjuna, hal ini menjadi salah satu terobosan. Menurut Daniel Johan, falsafah indonesia ini semakin ruwet, yang penting kita mulai dulu gerak. Sekolah kepemimpinan ini adalah bagian dari upaya untuk bergerak menuju Indonesia yang lebih baik karena tantangan ke depan kita semakin sulit.

“Dunia saat ini cukup banyak paradoks, paradoks anomali dan di saat yang sama teknologi semakin maju, kita semakin cepat mendapatkan informasi. Jika dibandingkan dengan anak-anak kita, seakan mereka semakin  cerdas. Tapi, paradoks di saat yang sama, semakin banyak akses informasi tetapi pengetahuan semakin jauh berkurang ketimbang di zaman orang tuanya, jadi akarnya menjadi lemah. Mudah-mudahan sekolah kepemimpinan ini bisa mengisi ruang-ruang kosong tersebut” tutur Daniel dalam menyampaikan sambutannya.

Pesan dari Anggota DPR RI Daniel Johan

Generasi mahasiswa sekarang sangat lemah dalam fondasi filsafat. Mungkin ilmunya banyak, tahu segala hal, tetapi fondasi filsafat, mereka jangan-jangan tidak pernah baca. Kalau dulu, kita sangat menghayati baca buku di sekolahan sebelum bicara politik, sebelum bicara ekonomi. Kita kuat dulu di filsafat, kuat dulu di teori dan generasi sekarang itu sangat lemah, menurut Daniel.

Mudah-mudahan sekolah ini bisa mengupas apa yang disebut dengan nasionalis? Sangat nasionalis, sangat cinta indonesia, sangat merah putih, tapi koruptor, itu termasuk nasionalis tidak? Atau sebaliknya, itu nanti pihak KPK yang bisa menjelaskan. Nasionalis dalam bentuk apa yang hakiki, yang kita pelajari di sini, lalu bagaimana hubungannya dengan integritas, bahkan dari filsafat karena justru penting. Filsafat berdirinya negara sampai adanya kesepakatan, bahkan generasi sekarang sudah mulai tidak paham  teori-teori mendasar itu, menurut Daniel. “Jadi, dari sekolah ini, kita bisa melahirkan pemimpin-pemimpin yang lebih baik karena bagaimanapun Indonesia membutuhkan itu”, harap Daniel.

Dalam hal ini, Pak Supriyadi menyampaikan kalau Indonesia ini tidak ada pemimpin nasionalis dan berintegritas, maka tentu NKRI tidak akan terjaga. Oleh sebab itu, Pak Supriyadi menyambut baik atas prakarsa kawan-kawan IN.

Mudah-mudahan sekolah ini bukan kali ini saja tetapi berlanjut ke angkatan-angkatan seterusnya. Artinya, akan kita dapatkan agen-agen perubahan, agen-agen yang menjadi panutan masyarakat Indonesia. “Saya berharap kawan IN dan peserta ke depan nantinya menjadi agen perubahan sebagai perwujudan pemimpin yang nasionalis dan berintegritas”, tuturnya.

Baca juga: Suksesi Kepemimpinan IN

Dukungan dari KPK

Ramah Handoko (KPK) sedang memberikan materi kepada peserta

Menurutnya, semua hal yang berbau informasi sekarang bisa dikapitalisasi. Bahkan, yang kita sebut dengan hoaks itu bisa menjadi hal yang bisa membenturkan semua pihak baik tokoh agama, pengikutnya, baik yang irasionalis maupun idealis, semua bentrok-bentrokan. Jadi, kita menggaet semua unsur masyarakat ini dari tokoh masyarakat, tokoh agama, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, sampai penyelenggara media.

Ini untuk teman-teman peserta, kadang kalau KPK berbicara ayo bergerak, ayo dukung KPK, ayo kita berantas korupsi, kesannya yang bisa dilakukan hanya demonstrasi. Di KPK itu, setiap hari ada yang demo. Cuma kalau kita perhatikan orangnya, sama aja kayanya, cuma kaosnya aja yang berubah-berubah, spanduknya berubah-berubah, kita tidak menolak mereka, cuma gerakan itu tidak hanya demonstrasi.

Transparansi internasional punya 15 jenis gerakan dalam melakukan protes terhadap perilaku korupsi pejabat-pejabatnya diantaranya adalah Follow the money, Count supplies, Citizen Report Card, Tech Solution, Comic and Cartoons, Theatre and Drama, Board Games, Sports, Integrity Camp, Petition, Election Flag,  dan Protest (demonstrasi).

Peran Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi

Ternyata, ada yang namanya relawan dan suka relawan. Kalau relawan itu, dapat uang transpor dan uang makan. Kalau suka relawan, benar-benar pure tidak ada bayaran sama sekali.

Ini sebuah contoh peran komunitas dan masyarakat yang digagas oleh KPK. Jadi, KPK punya satu unit yang namanya koordinasi supervisi KPK RI, koordinasi supervisi pencegahan korupsi. Dia mengintervensi pemerintah daerah untuk menuangkan sebuah komitmen, seperti fakta integritas. Namanya rencana aksi daerah, salah satu isinya adalah perbaikan layanan publik dan Ramah Handoko ada di Direktorat Pendidikan dan Pelayanan KPK. Ramah menggarap teman-teman CSO dan komunitas untuk mengawal masyarakat dalam menagih janji rencana aksi ini sehingga layanan publik bisa dimonitor dan kualitasnya terjamin.

“Apa yang harus kita lakukan, saya kembalikan ke teman teman, yang pasti kami di KPK dan semua teman di Kemenpora, di Kemenag juga, kalau mau bikin sesuatu gerakan, ngobrol dengan kita, kita mau buat gerakan apa, ayo kita bersinergi untuk Indonesia yang lebih baik, jangan sampai korupsi menghancurkan bangsa”, tutur Ramah.

____________
Oleh: Wandi Siswanto

Sejarah Engaged Buddhism

0
Sejarah engaged buddhism dimulai dari A Fresh Look at Buddhism karya Thich Nhat Hanh.
Sejarah engaged Buddhism berawal dari rangkaian 10 artikel karya Thich Nhat Hanh yakni A Fresh Look at Buddhism.

Di awal retret tujuh hari berpengantar Bahasa Inggris di Hanoi, Thich Nhat Hanh memberikan gambaran singkat tentang awal karirnya yang jarang diungkapkan. Berikut adalah kutipan dari dua Ceramah Dharma yang mengungkapkan Thay(1) sebagai seorang guru, aktivis sosial, dan penulis yang produktif – dan advokat revolusioner Engaged Buddhism, yang juga disebut Buddhadharma Terapan. Inilah sejarah engaged Buddhism dari penuturan Thich Nhat Hanh.

Pagoda Bambu Ung Quang

Pada tahun 1949 saya adalah salah satu pendiri dari Institut Buddhis Quang di Kota Ho Chi Minh, dan saya mengajar kelas pertama untuk para Sramanera. Pagoda tersebut sangat sederhana, dibangun dari bambu dan rumbia. Nama pagoda ini sebenarnya Ung Quang(2). Nama seorang pengajar Dharma dari Danang, Yang Mulia Tri Huu, dan kami berdualah yang membangun Pagoda Ung Quang. Pada masa itu, perang tengah berlangsung antara Perancis dengan gerakan perlawanan Vietnam.

Lima tahun kemudian, pada tahun 1954, Persetujuan Jenewa ditandatangani dan Vietnam dibagi menjadi dua bagian: Utara komunis, dan Selatan anti-komunis. Lebih dari satu juta orang bermigrasi dari Utara ke Selatan, diantaranya banyak juga umat Katolik. Demikian banyak kesimpangsiuran saat itu di negeri ini.

Di kuil Ung Quang dari waktu ke waktu kami menerima tentara-tentara Prancis yang datang mengunjungi kami. Setelah Dien Bien Phu(3) perang dengan Perancis berakhir, dan disepakati bahwa negara ini harus dibagi dan Prancis akan menarik diri. Saya ingat pernah berbincang-bincang dengan para tentara Perancis. Banyak dari mereka datang ke Vietnam dan meninggal di Vietnam.

Tampilan Segar Agama Buddha: Sejarah Engaged Budhism

Pada tahun 1954 terjadi kebingungan yang serius di alam pikir rakyat Vietnam, khususnya orang muda, baik para biku, bikuni, maupun praktisi awam. Pihak Utara terinspirasi oleh ideologi Marxis-Leninis, sementara di Selatan, Presiden Ngo Dinh Diem, seorang Katolik, berusaha untuk menjalankan negara dengan ideologi lain yang disebut “personalisme”. Tampak bahwa perang ideologi telah dimulai.

Buddhadharma merupakan suatu tradisi yang sangat tua di Vietnam, dan sebagian besar rakyat memiliki benih Buddhis di dalam dirinya. Mr Ngoc Vu Cac, manajer sebuah koran harian, meminta saya untuk menulis serangkaian artikel tentang Buddhadharma. Dia meminta saya untuk memberikan wawasan spiritual yang harus kita ambil untuk mengatasi kebingungan serius di negeri ini. Jadi saya menulis rangkaian sepuluh artikel dengan judul, “A Fresh Look at Buddhism.”

Awal Sejarah Engaged Buddhism

Dalam rangkaian sepuluh artikel inilah saya mengusulkan gagasan Engaged Buddhism – Buddhadharma di bidang pendidikan, ekonomi, politik, dan sebagainya. Jadi istilah Engaged Buddhism tercatat sejak 1954.

Pada saat itu saya tidak menggunakan mesin ketik, saya hanya menulis dengan cara kuno. Setelah itu mereka datang dan mengambil artikel, selanjutnya artikel tersebut selalu dicetak di halaman depan dengan judul besar berwarna merah. Koran itu terjual dengan amat sangat baik, karena orang-orang sedang kehausan. Mereka menginginkan bimbingan spiritual karena kebingungan yang demikian besarnya.

Teh Mawar dan Jagung Segar

Rangkaian artikel tersebut akhirnya diterbitkan menjadi sebuah buku di kemudian hari. Tidak lama kemudian, saya mengunjungi Hue Tam Duc, yang berada di kelas yang sama dengan saya di Institut Buddhis, ia adalah seorang editor di sebuah majalah Buddhis lainnya. Kuilnya terletak di sebuah pulau kecil di Sungai Parfum, Huong Giang, di mana mereka menanam sejenis jagung yang sangat lezat. Dia mengundang saya untuk tinggal beberapa minggu di kuilnya.

Setiap pagi ia menyajikan teh dengan campuran sejenis mawar – ukuran bunganya sangat kecil, tapi aromanya menyenangkan ketika anda memasukkannya ke dalam teh. Setiap hari kami lakukan meditasi jalan melintasi daerah sekitar, dan kami membeli beberapa jagung segar. Dia “menyogok” saya dengan teh mawar dan jagung segar, dan dia ingin saya menulis seri artikel yang lain tentang Engaged Buddhism! [Tertawa]. Penerjemah: Sejarah Engaged Buddhism sebagaimana banyak peristiwa dalam sejarah dimulai dari dunia ide. Tulisan.

Aujourd’hui le Boudhisme

Pada kenyataannya, saya menulis seri lain yang terdiri dari sepuluh artikel dengan judul “Buddhadharma Hari Ini” yang juga bertema Engaged Buddhism. Seri ini diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh Le Vinh Hao, seorang sarjana yang tinggal di Paris. Judul yang ia gunakan untuk buku tersebut adalah Aujourd’hui le Boudhisme.

Pada tahun 1964 ketika saya mengunjungi Amerika untuk memberikan serangkaian kuliah, saya bertemu Thomas Merton(4), seorang biarawan Trappist, dan saya memberinya salinan Aujourd’hui le Boudhisme; kemudian ia menulis ulasannya.

Buddhadharma yang Menapak Kehidupan

Pada 1963-64, saya mengajar Agama Buddha di Columbia University. Perjuangan yang dipimpin oleh kalangan Buddhis atas nama Hak Asasi Manusia mengakhiri rezim Presiden Diem. Mungkin Anda telah mendengar tentang Yang Mulia Thich Quang Duc, yang mengorbankan dirinya sendiri dengan api, dan berhasil menarik perhatian seluruh dunia terhadap berbagai pelanggaran HAM di Vietnam. Itu adalah gerakan tanpa kekerasan sepenuhnya demi Hak Asasi Manusia. Ketika rezim Diem jatuh, saya diminta oleh rekan-rekan sejawat saya untuk pulang dan membantu. Catatan penerjemah: Bhiksu Thich Quang Duc membakar diri di sebuah persimpangan Saigon. Foto-fotonya diambil oleh seorang jurnalis Associated Pers berkebangsaan Amerika Malcolm Browne, pada 11 Juni 1963.

Jadi saya pulang. Saya mendirikan Universitas Van Hanh, dan menerbitkan sebuah buku berjudul Engaged Buddhism, kumpulan dari sekian banyak artikel yang saya tulis sebelumnya. Saya rasa ini pertama kalinya anda mendapatkan informasi ini. [Tertawa].

Cuoc Doi Di Menapaki Kehidupan Sosial

Ini terjadi pada awal tahun 1964. Saya telah menulis artikel-artikel ini sebelumnya, tapi saya menempatkan mereka bersama-sama dan diterbitkan dengan judul Engaged Buddhism, atau Dao Phat di vao cuoc doi. Cuoc doi di sini adalah “kehidupan” atau “masyarakat.” Di Vao berarti menapaki, Jadi inilah kata-kata yang digunakan untuk Engaged Buddhism dalam bahasa Vietnam: di vao cuoc doi, “menapaki kehidupan”, “kehidupan Sosial.”

Enam bulan kemudian saya menghasilkan buku lain, Dao Phat Hien dai hoa(5), “Buddhadharma Terkini,” “Buddhadharma yang diperbaharui.” Ini dalam bahasa Tiongkok – Buddhadharma dibuat aktual, aktualisasi ajaran Buddha. Jadi semua istilah-istilah ini, semua dokumen ini, memiliki keterkaitan dengan apa yang kita sebut Engaged Buddhism. Setelah itu saya menulis buku lain – Buddhadharma Hari Esok. [Tertawa]

Pencekalan dan Pengasingan Thich Nhat Hanh

Namun pada saat itu, nama saya dicekal oleh pemerintah Selatan, pemerintah anti-komunis, karena aktivitas-aktivitas saya untuk perdamaian, menyerukan rekonsiliasi antara Utara dan Selatan. Saya menjadi persona non grata(6). Saya tidak bisa pulang lagi, dan saya npun hidup di pengasingan.

Jadi buku saya, Buddhadharma Masa Depan, tidak dapat diterbitkan di Vietnam dengan nama saya. Saya menggunakan nama Montagnard-Bsu Danlu. Anda mungkin bertanya-tanya dari manakah nama itu berasal. Pada tahun 1956 kami mendirikan sebuah pusat latihan di dataran tinggi Vietnam yang dinamai Wihara Daun Palem Wangi, Phuong Boi. Kami membeli tanah itu dari dua Montagnard(7), K’Briu dan K’Broi. Nama desa tempat Wihara Daun Palem Wangi terletak adalah Bsu Danlu.

Kebijaksanaan di Sini dan Sekarang

Saya terus menerbitkan buku-buku saya di Vietnam dengan nama lain. Saya menulis Sejarah Agama Buddha Vietnam dalam tiga volume tebal dan saya menggunakan nama Nguyen Lang. Jadi meskipun saya berada jauh dari negeri ini selama tiga puluh sembilan tahun, saya terus menulis buku dan beberapa diterbitkan di Vietnam dengan nama penulis yang berbeda-beda.

Sebagaimana telah kita pahami bersama, secara sederhana arti dari Engaged Buddhism adalah suatu jenis dari Buddhadharma yang hadir dalam setiap momen kehidupan kita sehari-hari. Selagi anda menggosok gigi, ajaran Buddha hadir disana. Pada saat anda mengendarai mobil, ajaran Buddha ada disana. Ketika Anda berjalan di supermarket, ajaran Buddha hadir disana – sehingga anda tahu apa yang harus dibeli dan apa yang tidak!

Engaged Buddhism juga adalah jenis kebijaksanaan yang dapat merespon apapun yang terjadi di sini dan sekarang – pemanasan global, perubahan iklim, kerusakan ekosistem, kurangnya komunikasi, perang, konflik, bunuh diri, perceraian. Sebagai seorang praktisi kesadaran, kita harus menyadari apa yang sedang terjadi dalam tubuh kita, perasaan kita, emosi kita, dan lingkungan kita. Itulah Engaged Buddhism, jenis Buddhadharma yang merespon apa yang terjadi di sini dan sekarang.

Empat Kebenaran Para Arya dengan Cara Baru

Kita dapat berbicara tentang Engaged Buddhism dengan menggunakan istilah Empat Kebenaran Para Arya. Kebenaran Pertama adalah dukkha, adanya derita. Secara tradisional guru-guru Buddhis berbicara tentang Kesunyataan Mulia Pertama dengan cara ini: usia tua adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan, berpisah dengan orang yang anda cintai adalah penderitaan. Meninggalkan semua orang yang anda cintai; berharap untuk sesuatu tetapi tidak pernah diraih. Tetapi ini adalah cara lama dalam menjelaskan Kebenaran Mulia Pertama. Sekarang karena kita berlatih kesadaran kita harus mengidentifikasi jenis penderitaan yang sesungguhnya hadir.

Pertama-tama kita tahu ada semacam ketegangan dalam tubuh, banyak stres. Kita dapat mengatakan bahwa penderitaan hari ini melibatkan ketegangan, stres, kegelisahan, ketakutan, kekerasan, keluarga berantakan, bunuh diri, perang, konflik, terorisme, kerusakan ekosistem, pemanasan global, dan lain-lain.

Mindfulness: Hadir Sepenuhnya

Kita harus sepenuhnya hadir di sini dan sekarang dan mengenali wajah sebenarnya dari derita. Kecenderungan alamiah adalah melarikan diri dari penderitaan, dari adanya derita. Kita tidak ingin menghadapinya maka kita mencoba untuk melarikan diri. Tetapi Buddha telah menasihati kita untuk tidak melakukannya. Bahkan ia mendorong kita untuk melihat secara mendalam watak dari penderitaan untuk belajar lebih jauh. Ajaran-Nya adalah bahwa jika anda tidak memahami penderitaan, anda tidak dapat melihat jalan transformasi, jalan menuju penghentian penderitaan.

Kita semua tahu bahwa Kebenaran Mulia Pertama adalah adanya derita dan Kebenaran Mulia Keempat adalah jalan menuju penghentian derita. Tanpa memahami yang Pertama, anda tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk melihat jalan menuju penghentian dari derita.

Anda harus belajar untuk kembali pada kekinian untuk mengenali derita sebagaimana adanya, dan karena kita berlatih melihat secara mendalam terhadap Kebenaran Mulia Pertama, adanya derita, kita akan menemukan Kebenaran Mulia Kedua, akar atau pembuatan derita.

Masing-masing dari kita harus menemukan sendiri penyebab adanya derita. Misalkan kita berbicara tentang kehidupan kita yang sibuk – kita memiliki begitu banyak hal yang harus dilakukan, begitu banyak hal untuk dicapai. Sebagai politisi, pengusaha, bahkan seniman, kita ingin berbuat lebih banyak dan lebih dan lebih. Kita sangat mengharapkan kesuksesan. Namun kita tidak memiliki kapasitas untuk hidup secara mendalam setiap saat dalam kehidupan sehari-hari. Dan tidak memberikan kesempatan pada tubuh kita untuk bersantai dan menyembuhkan diri.

Mengenai Persepsi yang Keliru

Jika kita tahu bagaimana hidup seperti seorang Buddha, tinggal di saat ini, mempersilakan elemen yang menyegarkan dan menyembuhan untuk menembus, maka kita tidak akan menjadi korban dari stres, ketegangan, dan berbagai jenis penyakit.

Anda dapat mengatakan bahwa salah satu akar dari derita adalah ketidakmampuan kita menjalani kehidupan kita secara mendalam setiap saat.

Ketika kita memiliki demikian banyak ketegangan dan gangguan di dalam diri kita, kita tidak dapat mendengarkan orang lain. Kita tidak bisa menggunakan kata-kata yang penuh cinta kasih. Kita tidak dapat menghapus persepsi yang salah. Oleh karena itu persepsi yang salah menimbulkan rasa takut, kebencian, kekerasan, dan sebagainya. Kita harus mengidentifikasi penyebab derita kita. Ini adalah pekerjaan yang sangat penting.

Misalkan kita berbicara tentang bunuh diri, tentang keluarga yang hancur. Kita tahu bahwa ketika komunikasi menjadi sulit antara suami dan istri, ayah dan anak, ibu dan anak, orang tidak lagi bahagia. Banyak anak muda jatuh ke dalam keputusasaan dan bertekad untuk bunuh diri. Mereka tidak tahu bagaimana menangani rasa putus asa atau emosi mereka, dan mereka berpikir bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan penderitaan adalah dengan membunuh diri sendiri. Di Perancis setiap tahun sekitar 12.000 orang muda melakukan bunuh diri, hanya karena mereka tidak dapat menangani emosi mereka seperti keputusasaan. Dan orang tua mereka tidak tahu bagaimana melakukannya. Mereka tidak mengajari anak-anak mereka bagaimana menangani perasaan mereka, bahkan guru-guru di sekolah tidak tahu bagaimana membantu para siswanya untuk mengenal dan menguasai emosi-emosi mereka dengan lemah lembut.

Persepsi yang Salah Akar Tindakan Kekerasan

Ketika orang tidak dapat berkomunikasi mereka tidak saling memahami atau tidak dapat melihat penderitaan orang lain dan tidak ada cinta, tidak ada kebahagiaan. Perang dan terorisme juga lahir dari persepsi yang salah. Teroris berpikir bahwa pihak lain berusaha untuk menghancurkan mereka sebagai sebuah agama, sebagai cara hidup, sebagai bangsa. Jika kita percaya bahwa orang lain berusaha membunuh kita maka kita akan mencari cara untuk membunuh orang lain tersebut terlebih dahulu agar kita tidak terbunuh.

Rasa takut, kesalahpahaman, dan persepsi yang salah adalah dasar dari semua tindakan kekerasan. Perang di Irak, yang disebut anti-teroris, tidak membantu untuk mengurangi jumlah teroris. Bahkan jumlah teroris meningkat sepanjang waktu karena perang. Untuk menghapus terorisme anda harus menghapus persepsi yang salah. Kita tahu betul bahwa pesawat terbang, senjata, dan bom tidak dapat menghapus persepsi yang salah. Hanya kata-kata yang penuh cinta kasih dan mendengarkan dengan penuh kasih sayang yang dapat membantu orang memperbaiki persepsi yang salah. Tapi sayangnya para pemimpin kita tidak terlatih dalam disiplin itu dan mereka bergantung pada angkatan bersenjata untuk menghapus terorisme.

Jadi dengan melihat secara mendalam kita dapat melihat pembuatan derita mula, akar dari derita mula, dengan cara mengakui derita mula sebagai kebenaran dan melihat secara mendalam wataknya.

Kebenaran Mulia Ketiga adalah penghentian derita mula, yang berarti hadirnya kebahagiaan mula- seperti sirnanya kegelapan berarti hadirnya cahaya. Bila kebodohan tidak lagi hadir, munculah kebijaksanaan. Bila Anda menggusur kegelapan, disana ada cahaya. Jadi penghentian derita mula berarti hadirnya kebahagiaan mula, yang merupakan kebalikan dari Kebenaran Mulia Pertama.

Ajaran Buddha menegaskan kebenaran bahwa kebahagiaan adalah mungkin. Karena adanya penderitaan, maka kebahagiaan adalah mungkin. Jika derita yang digambarkan pertama dalam istilah ketegangan, stres, depresi, maka kebahagiaan digambarkan sebagai kelegaan, kedamaian, relaksasi, la détente(8). Dengan tubuh, nafas, kaki, dan kesadaran, anda dapat mengurangi ketegangan dan menghadirkan relaksasi, kelegaan, kedamaian.

Kita dapat berbicara tentang Kesunyataan Mulia Keempat dalam istilah-istilah yang sangat konkret. Metode praktik memungkinkan kita untuk mengurangi ketegangan, stres, ketidakbahagiaan, seperti terlihat dalam Kesunyataan Mulia Keempat, jalan. Guru-guru Dharma hari ini mungkin ingin menyebutnya jalan kebahagiaan. Penghentian derita berarti awal dari kebahagiaan – begitu sederhana!

Dari Suku-Suku hingga Demokrasi

Saya ingin kembali sedikit ke sejarah Engaged Buddhism.

Di tahun seribu sembilan ratus lima puluhan saya mulai menulis karena rakyat membutuhkan arahan spiritual untuk membantu mengatasi kebingungan mereka. Suatu hari saya menulis tentang hubungan antara keyakinan agama dan cara kita mengatur masyarakat. Saya menggambarkan sejarah evolusi masyarakat.

Pertama, masyarakat kita ini diselenggarakan dalam kelompok-kelompok orang yang disebut suku. Seiring waktu, beberapa suku akan datang bersama-sama dan akhirnya kami mendirikan kerajaan, dengan seorang raja. Lalu saatnya tiba ketika kita sudah merasa cukup dengan para raja dan kita ingin menciptakan demokrasi atau republik.

Keyakinan agama kita telah berubah di sepanjang jalan. Pertama-tama, kita punya sesuatu yang pararel dengan pembentukan suku – politeisme, keyakinan bahwa ada banyak dewa dan setiap dewa memiliki kekuatan. Anda bebas untuk memilih salah satu dewa untuk disembah, dan dewa yang akan melindungi Anda terhadap allah lain dan suku-suku lainnya.

Ketika kita membentuk kerajaan, maka cara kita berkeyakinan juga berubah – monoteisme. Hanya ada satu Allah, Allah yang paling kuat, dan kita harus hanya menyembah satu Tuhan dan bukan banyak dewa.

Ketika kita sampai pada demokrasi, tidak ada lagi raja. Semua orang adalah setara dengan orang lainnya, dan kita saling mengandalkan untuk hidup. Itulah mengapa monoteisme berubah dengan kepercayaan dalam saling ketergantungan – interbeing – di mana tidak ada lagi Tuhan. Kita bertanggung jawab penuh atas hidup kita, atas dunia kita, atas planet kita. Saya menulis hal-hal seperti itu selama saya mencoba untuk membangun Engaged Buddhism.

 Kelahiran Ordo Interbeing

Pada tahun 1964, kami mendirikan Ordo Interbeing. Kelahiran Orde Interbeing ini sangat berarti. Kita hanya perlu mempelajari Empat belas Sila atau Pelatihan Kesadaran untuk memahami mengapa dan bagaimana Orde Interbeing didirikan.

Pada saat itu perang sedang terjadi sangat sengit. Itu adalah konflik antar ideologi. Utara dan Selatan masing-masing memiliki ideologi mereka sendiri, satu sisi adalah Marxisme-Leninisme, yang lainnya personalisme dan kapitalisme. Kami tidak hanya bertarung dengan ideologi yang diimpor dari luar, tetapi kita juga berjuang dengan senjata yang diimpor dari luar – senjata dan bom dari Rusia, Cina, dan Amerika. Sebagai umat Buddha yang berlatih perdamaian dan rekonsiliasi, persaudaraan, kami tidak menginginkan perang seperti itu. Anda tidak bisa menerima perang di mana saudara membunuh saudara dengan ideologi dan senjata yang diimpor dari luar. (Sejarah Engaged Buddhism)

Ordo Interbeing lahir sebagai gerakan perlawanan spiritual. Ini didasarkan sepenuhnya pada ajaran Buddha. Pelatihan Kesadaran Pertama –Tanpa Kemelekatan terhadap berbagai pandangan, bebas dari semua ideologi – adalah jawaban langsung untuk perang, dimana semua orang sudah siap mati dan membunuh karena keyakinan mereka.

Pelatihan Kesadaran pertama: “Menyadari penderitaan yang diciptakan oleh fanatisme dan intoleransi, kami bertekad untuk tidak menjadikan berhala atau terikat pada doktrin, teori, atau ideologi, bahkan Buddhis sekalipun… ”

Ini adalah auman singa!                                        (Sejarah Engaged Buddhism)

“Ajaran Buddha sarana untuk membimbing yang membantu kita belajar untuk melihat secara mendalam dan mengembangkan pemahaman dan kasih sayang kita, bukan doktrin untuk melawan, membunuh, atau mati demi-Nya. ”

Ajaran Buddha dari Sutra Nipata tentang pandangan adalah sangat jelas. Kita seharusnya tidak melekat pada pandangan apapun, kita harus melampaui semua pandangan.

Pandangan Benar, pertama-tama, berarti ketiadaan dari semua pandangan. Kemelekatan terhadap pandangan adalah sumber penderitaan. Misalkan Anda naik di tangga, dan pada langkah keempat Anda berpikir Anda sudah pada tingkat tertinggi. Kemudian Anda terjebak! Anda harus melepaskan langkah keempat agar bisa naik sampai langkah kelima. Untuk menjadi ilmiah, para ilmuwan harus melepaskan apa yang telah mereka temukan untuk tiba ke sebuah kebenaran yang lebih tinggi. Ini adalah ajaran Buddha: Ketika Anda mempertimbangkan sesuatu sebagai kebenaran dan anda melekat padanya, anda harus melepaskannya untuk pergi ke arah yang lebih tinggi.

Semangat dasar dari ajaran Buddha adalah ketidakmelekatan terhadap pandangan. Kebijaksanaan bukanlah pandangan. Kita harus siap untuk melepaskan ide-ide kita sehingga kebijaksanaan sejati menjadi mungkin. Misalnya Anda memiliki gagasan tentang ketidakkekalan, interbeing, tanpa aku, Empat Kebenaran Mulia. Yang mungkin berbahaya, adalah karena ini hanyalah pandangan saja. Anda sangat bangga bahwa Anda tahu sesuatu tentang Empat Kebenaran Mulia, tentang interbeing, tentang asal mula yang saling bergantungan, tentang kesadaran, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Namun ajaran-ajaran tersebut hanyalah sarana bagi anda untuk mendapatkan kebijaksanaan. Jika Anda melekat pada ajaran-ajaran ini, anda tersesat.  Ajaran tentang ketidakkekalan, tanpa aku, interbeing, adalah untuk membantu anda mendapatkan kebijaksanaan dari ketidakkekalan, tanpa aku dan interbeing.

Jari yang Menunjuk Rembulan

Buddha berkata, “Ajaranku ibarat jari yang menunjuk rembulan. Kamu harus terampil. Kamu melihat ke arah yang ditunjuk jari saya, dan kamu dapat melihat rembulan. Jika kamu anggap jari saya sebagai rembulan, kamu tidak akan pernah melihat bulan “Jadi bahkan Buddha Dharma bukanlah kebenaran itu sendiri, ia adalah alat bagi anda untuk mencapai kebenaran. Hal ini sangat mendasar dalam Buddhisme.

Perang adalah hasil dari kemelekatan terhadap pandangan, fanatisme. Jika kita melihat secara mendalam pada sifat perang di Irak, kita bisa melihat bahwa itu juga merupakan perang agama. Orang yang menggunakan kepercayaan agama untuk mendukung perang. Bush ini didukung oleh banyak [sayap kanan Kristen] penginjil. Pejuang dan teroris di Irak yang didukung oleh keyakinan Muslim mereka. Jadi ini bisa juga disebut perang agama. Perdamaian tidak bisa ada jika kita memelihara fanatisme terhadap pandangan-pandangan kita.

Sejarah Engaged Buddhism: Teratai di Lautan Api

Pada tahun 1965 saya menulis sebuah buku kecil mengenai perang di Vietnam, Vietnam: Teratai di Lautan Api, yang diterbitkan oleh Hill dan Wong di Amerika. Perang yang berkecamuk di Vietnam adalah lautan api. Kami saling membunuh satu dengan yang lain; kami mempersilakan para pengebom dari Amerika datang dan menghancurkan hutan-hutan kami, rakyat kami. Kami membiarkan senjata-senjata dari Tiongkok dan Rusia datang. Tapi ajaran Buddha pada masa itu berusaha melakukan sesuatu. Di antara kami yang tidak setuju dengan perang ingin melakukan sesuatu untuk melawan perang.

Buddhis tidak memiliki stasiun radio maupun televisi. Saat itu tidak ada jalan bagi mereka untuk mengekspresikan dirinya.

Siapapun yang mendengar, jadilah saksiku:

Aku tidak menyetujui perang ini,

Biar aku katakan ini sekali lagi sebelum aku mati.

Ini adalah baris-baris dalam puisiku.

^ Musuh kita bukanlah manusia,

# Musuh kita adalah kebencian, kefanatikan, kekerasan.

  • Musuh kita bukanlah manusia.

> Jika kita membunuh manusia, dengan siapa kita akan hidup?

Gerakan perdamaian di Vietnam benar-benar membutuhkan dukungan internasional, tapi kalian tidak akan mendengar kami dari sana. Terkadang kami harus membakar diri sendiri hidup-hidup untuk memberitahu kalian bahwa kami tidak menginginkan perang ini. Tolong hentikan perang ini,  pembunuhan antar saudara sendiri ini! Ajaran Buddha ibarat sekuntum bunga Teratai yang berusaha bertahan di dalam lautan api.

Saya menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Vietnam, dan seorang sahabat Amerika di gerakan perdamaian membantu membawanya ke Vietnam. Buku itu kemudian dicetak secara sembunyi-sembunyi dan banyak anak-anak muda berusaha mengedarkannya sebagai bentuk perlawanan.

Saudari Chan Khong, yang saat itu adalah seorang professor Biologi di Universitas Hue, membawa cetakan buku tersebut ke Hue untuk seorang sahabat. Ia akhirnya ditahan dan dipenjara karena memiliki cetakan dari buku tersebut. Di kemudian hari ia dipindahkan ke penjara di Saigon.

Sekolah Pemuda untuk Pelayanan Sosial

Teman-teman muda datang kepada saya dan meminta saya untuk mempublikasikan puisi saya tentang perdamaian. Mereka menyebutnya puisi anti-perang. Saya bilang oke, jika kalian ingin melakukannya, silakan lakukan. Mereka mengumpulkan sekitar lima puluh atau enam puluh puisi saya tentang topik ini dan menyerahkannya kepada pemerintah Vietnam Selatan. Lima puluh lima dari puisi disensor. Hanya beberapa yang tersisa. Tapi teman-teman kita tidak berkecil hati dan mereka mencetak sendiri puisi tersebut dari bawah tanah.

Buku puisi dijual sangat, sangat cepat. Bahkan beberapa intelijen dari kepolisian menyukainya, karena mereka juga menderita akibat perang. Mereka akan pergi ke toko buku dan berkata, “Kamu tidak boleh memajangnya seperti ini! Kamu harus menyembunyikannya di belakang meja! ” [Tertawa]

Stasiun radio di Saigon, Hanoi dan Beijing mulai menyerang puisi tersebut karena menyerukan perdamaian. Tidak ada yang menginginkan perdamaian. Mereka ingin bertempur sampai akhir.

Sekolah Pemuda untuk Pelayanan Sosial

Pada tahun 1964 kami juga mendirikan Sekolah Pemuda untuk Pelayanan Sosial. Kami melatih ribuan orang muda, termasuk para biksu dan biksuni, untuk pergi ke pedesaan dan membantu para petani membangun kembali desa mereka. Kami membantu mereka dalam empat aspek: pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan organisasi. Pekerja sosial kami pergi ke sebuah desa dan bermain dengan anak-anak dan mengajar mereka cara membaca, menulis dan bernyanyi.

Ketika orang-orang di desa itu menyukai kami, kami menyarankan membangun sekolah untuk anak-anak. Satu keluarga memberikan beberapa batang bambu. Keluarga lain membawa daun kelapa untuk bahan membuat atap. Kemudian kami mulai memiliki sebuah sekolah. Para pekerja kami tidak menerima gaji. Setelah mendirikan sekolah di desa, kami mendirikan apotik di mana kami dapat menyalurkan obat-obatan dasar untuk membantu rakyat. Kami bawa mahasiswa-mahasiswa kedokteran atau dokter ke dalam desa dan berusaha membantu satu atau dua hari. Selain itu juga menyelenggarakan koperasi dan mencoba mengajar masyarakat jenis kerajinan yang dapat mereka buat untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Kami harus mulai dengan diri sendiri, dari akar rumput. Sekolah Pemuda untuk Pelayanan Sosial didirikan dengan semangat bahwa kita tidak perlu menunggu pemerintah. Catatan penerjemah: inilah salah satu bagian penting di awal sejarah engaged buddhism yang dimulai di Vietnam. Sejarah engaged buddhism yang dimulai dari tulisan, dipraktikkan dalam berbagai bentuk nyata. Tanpa karya Thich Nhat Hanh sejarah engaged buddhism bisa jadi berbeda.

Sebuah Organisasi Pemuda Baru di Eropa

Kami melatih banyak anak-anak muda, termasuk para biksu muda dan biarawati. Akhirnya kami memiliki lebih dari sepuluh ribu pekerja yang bekerja dari Quang Tri hingga ke selatan. Selama perang kami menyokong lebih dari sepuluh ribu anak yatim. Itu adalah bagian dari Engaged Buddhism – orang-orang muda.

Tahun ini kami berniat untuk mendirikan sebuah organisasi Buddhis muda di Eropa: Buddhis Muda untuk Masyarakat yang Lebih Sehat dan Pengasih. Jadi banyak anak muda telah datang kepada kami, untuk retret kami di Eropa, Amerika, dan Asia. Sekarang kita ingin mengatur mereka. Mereka akan menggunakan Lima Pelatihan Kesadaran sebagai praktik mereka, dan akan melibatkan diri ke dalam masyarakat – untuk membantu menghasilkan masyarakat yang sehat, dan juga lebih pengasih.

Jika kawan-kawan saya di sini terinspirasi oleh ide itu, maka silakan, ketika Anda pulang, mengundang kaum muda untuk membentuk sebuah kelompok Buddhis Muda untuk Masyarakat yang Lebih Sehat dan Pengasih.

Bulan lalu kami pergi ke Italia, dan kami memiliki satu hari berlatih dengan orang-orang muda di kota Napoli [Naples]. Lima ratus orang muda laki dan perempuan hadir untuk berlatih bersama kami, loved it! Mereka siap untuk terlibat dalam praktik perdamaian, membantu untuk menghasilkan masyarakat yang lebih sehat, yang lebih pengasih.

Para biksu dan biksuni muda kita juga akan terlibat dalam organisasi tersebut.

Yayasan untuk Institut Buddhisme Terapan

Kami juga telah mendirikan Institut Buddhadharma Terapan Eropa. Saya berharap bahwa selama retret ini, Suster Annabel, Chan Duc, akan menawarkan presentasi tentang Institut Buddhadharma Terapan. Kita akan memiliki kampus di Amerika dan Asia juga. Setiap orang yang telah berhasil menyelesaikan retret tiga bulan di Plum Village atau Taman Rusa akan diberikan sertifikat yang dikeluarkan oleh European Institute of Applied Buddhism.

Institut Buddhadharma Terapan akan menawarkan program menarik. Anda mungkin ingin membantu mengatur kursus di daerah anda, kami akan mengirimkan guru Dharma. Salah satu contoh adalah program dua puluh satu hari untuk pria dan wanita muda yang sedang mempersiapkan untuk membentuk sebuah keluarga. Di sana mereka belajar bagaimana membuat kehidupan suami-istri mereka menjadi sukses.

Akan ada kursus untuk mereka yang telah didiagnosa dengan AIDS atau kanker, sehingga mereka dapat belajar bagaimana menjalani hidup dengan penyakit mereka. Jika Anda tahu bagaimana menerima dan hidup dengan penyakit Anda, maka Anda bisa hidup dua puluh, tiga puluh tahun lagi.

Akan ada program untuk pengusaha, untuk guru sekolah, dan sebagainya.

Jenis sertifikat akan membantu Anda untuk menjadi seorang guru Dharma resmi. Suatu hari Anda mungkin akan terinspirasi untuk menjadi guru Dharma, untuk pergi keluar dan membantu orang, menjadi kelanjutan dari Buddha.

Saat ini kita menggunakan istilah “Buddhisme Terapan,” yang hanyalah cara lain untuk mengacu pada Engaged Buddhism.

Sumber: Dharma Talk: History of Engaged Buddhism

Ceramah Dharma oleh Thich Nhat Hanh Hanoi, Vietnam, 6-7 Mei 2008

Ditranskrip oleh Sever Greg, diedit oleh Janelle Combelic dan Sister Annabel.

Terjemahan dan catatan kaki oleh Eddy Setiawan. Guna keperluan penerbitan daring beberapa sub judul di luar terjemahan ditambahkan pada artikel. Sejarah Engaged Buddhism adalah terjemahan untuk judul artikel yang dipilih. Sejarah Engaged Buddhism diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi seluruh umat Buddha. Bahwa ajaran Buddha atau Budddhadharma (Buddhism) dapat hadir pada berbagai isu nyata sehari-hari. Dari Sejarah Engaged Buddhism ini diharapkan timbul pemahaman bahwa dharma tidak berada di ruang vakum. Dharma hadir di setiap aspek kehidupan manusia, entah kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya. Sejarah engaged buddhism memberikan pemahaman mengenai asal mula istilah ini.

Menggagas Social Enterprise Buddhis di Indonesia

0

Perkembangan dunia makin melesat. Sepintas terlihat sangat maju, tapi dalam waktu bersamaan ternyata menyisakan serangkaian masalah. Ada masalah kesenjangan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, kebersihan, juga lingkungan. Terlepas memang belum maksimalnya peran pemerintah kita – meski sudah diberi otoritas, perlu banyak terobosan oleh semua pihak untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Salah satu cara yang belakangan mengemuka untuk memperbaiki masalah-masalah itu adalah dengan pendekatan social enterprise? Lho social dan enterprise? Bisnis jenis apa ini? Penjelasan arti social enterprise –atau banyak orang menyebutnya sebagai kewirausahaan sosial– menurut Social Enterprise London adalah sebuah bisnis yang dijalankan untuk menyelesaikan masalah sosial atau lingkungan. Fokus utama bisnis ini bukan profit semata, tapi juga memikirkan bagaimana dampaknya untuk masyarakat dan lingkungan. Makanya fokus utama social enterprise adalah 3 P: People, Planet, dan Profit.

Menurut Dondi Hananto, pendiri Kianara Indonesia, social enterprise berbeda dengan konsep CSR (corporate social responsibility). Letak perbedaannya, CSR lebih banyak mencanangkan program-program yang hit and run (menjalankan sebuah program di suatu komunitas, dan meninggalkannya setelah masa program selesai), sementara social enterprise lebih dari sekadar itu, melainkan ada sebuah sustainability (keberlanjutan) di dalamnya. Sebab di dalam social enterprise yang jadi tujuannya adalah dampak yang dihasilkan pada masyarakat dan biasanya bersifat jangka panjang. Jadi inti dari bisnis  ini adalah untuk menyelesaikan masalah (sosial atau lingkungan). Meski bergerak sebagai sebuah bisnis sosial, social enterprise tetap mencari pendapatan sendiri, tidak mengandalkan sekadar dari donasi saja. Tentunya secara implisit di sini jelas bahwa karena tujuan bisnis itu untuk menyelesaikan masalah, seharusnya mereka tidak membuat masalah baru. Ibaratnya jangan sampai menyelesaikan masalah kelaparan di satu tempat tapi kemudian malah menimbulkan kondisi kelaparan di tempat lain. Sama persis apa yang dikatakan Sulak Sivaraksa dalam buku Pembangunan dari Bawah ke Atas bahwa pembangunan yang sejati haruslah selaras dengan kepentingan masyarakat dan irama alam. Manusia adalah bagian dari alam semesta, bukan penguasanya.

Social enterprise bertindak sebagai agen perubahan bagi masyarakat, mengambil inisiatif atas peluang yang belum tertangkap, membangun sistem, menemukan pendekatan baru, dan menciptakan solusi terhadap perubahan masyarakat dengan lebih baik. Jika  business entrepreneur  masuk kepada industri secara keseluruhan, social enterprise datang dengan sebuah solusi baru akan masalah sosial dan mengaplikasikannya pada skala besar (Ashoka, 2011). Konsep social enterprise sebetulnya sudah ada sejak lama. Gerakan ini menemukan momentumnya ketika Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh meraih Nobel Perdamaian pada tahun 2006. Gerakan Yunus dianggap sebagai satu model social enterprise yang mampu menunjukkan bahwa  pemberdayaan masyarakat kurang mampu tidak hanya menghasilkan kesejahteraan dalam konteks sosial, namun juga mampu mendatangkan keuntungan finansial. Contoh konkritnya adalah 6 juta wanita terserap sebagai tenaga kerja dimana beralih dari “pengemis” menjadi “pelaku UMKM”.

 

Social Enterprise di Indonesia

Menilik kondisi Indonesia, ternyata sudah banyak yang melakukan jenis bisnis yang yang bertumpu untuk memberdayakan masyarakat ini. Sebut saja Bambang Ismawan, pendiri lembaga Bina Swadaya, yang selain mengembangkan bank perkreditan rakyat, juga menelurkan majalah Trubus yang legendaris. Di Kendari, Sulawesi Tenggara, ada Silverius Oscar Unggul (Onte) yang mendirikan Koperasi Hutan Jaya Lestari yang memperjuangkan perbaikan nasib petani kayu, sekaligus untuk mencegah illegal logging. Ada juga Tri Mumpuni yang mengembangkan mikrohidro untuk ketersediaan listrik di daerah terpencil yang tidak terjangkau pelayanan listrik negara. Di Garut, ada nama Goris Mustaqim, yang menggagas Asgar Muda, sebagai wadah untuk mengembangkan pemuda Garut.

Salah satu contoh menarik ada di Bandung, ketika M. Bijaksana Junerosano, dkk mendirikan sebuah kewirausahaan sosial bernama Greeneration Indonesia (GI). GI fokus dengan kampanye hidup ramah lingkungan melalui program kegiatannya. Untuk menunjang organisasinya, GI mengembangkan produk tas kain lipat pakai ulang untuk mengurangi penggunaan kantong plastik dengan nama “baGoes”. Nama baGoes adalah perpaduan antara bag dan goes, yang bermakna tas yang mudah untuk dibawa ke mana saja. baGoes juga ejaan lama dari kata “bagus”, yang berarti produknya berkualitas dan bermanfaat. GI melibatkan banyak sektor industri rumah tangga di Bandung dan sekitarnya untuk memproduksi tas baGoes. Selain ikut memberdayakan warga sekitar, sebagian keuntungan dari penjualan tas baGoes dikembalikan lagi ke masyarakat, salah satunya dalam bentuk mesin pencacah sampah di salah satu kelurahan di Bandung. Program lingkungan mereka adalah program nirlaba yang murni bertujuan untuk mengajak masyarakat Indonesia untuk menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan. Karena mereka memercayai lingkungan yang lestari hanya bisa tercipta dengan perilaku masyarakat yang lestari. Maka tak heran mereka mengusung tagline “green attitude, green environment”.

 

Social Enterprise Buddhis

Lalu dimana social enterprise Buddhis? Bila kita amati, sebetulnya sudah ada beberapa social enterprise yang bercorak buddhis. Setidaknya Ehipassiko Foundation sudah memulai, dengan visi memajukan Dharma humanistik melalui misinya studi, aksi, dan meditasi. Selain penerbitan dan distribusi buku-buku Dharma berkualitas, program Ehipassiko yang sangat menarik adalah beasiswa abdi desa. Program Indonesia Mengajar versi Buddhis ini, berupaya untuk memeratakan pengajar dan dharmaduta ke pelosok-pelosok desa yang memang selama ini kekurangan pembinaan. Ini mirip dengan program Indonesia Mengajar yang menempatkan tenaga pengajarnya di pelosok.

Namun, komunitas Buddhis Indonesia masih memiliki segudang permasalahan yang perlu segera dicarikan solusi. Dari mulai persoalan pendidikan, kemiskinan, SDM, juga yang lainnya. Permasalahan Buddhis Indonesia merupakan versi mikro dari apa yang dialami bangsa ini. Lalu apakah pendekatan social enterprise juga bisa dilakukan untuk Buddhis Indonesia? Menurut saya, BISA! Bagaimana caranya? Peta kekuatan Buddhis Indonesia terletak di wihara. Kenapa wihara? Sebab sudah terdapat banyak wihara dengan kualitas bangunan dan fasilitas baik –atau bahkan sangat baik – yang hanya digunakan sebagai tempat beribadah beberapa jam dalam seminggu. Tentu masing-masing wilayah, daerah, atau aliran memiliki karakteristik wiharanya sendiri. Untuk itu, mulai sekarang kita harus mulai memetakan masalahnya dan menemukan solusinya.

Satu contoh yang menarik apa yang dilakukan sebuah wihara di Pati, Jawa Tengah. Lahannya yang luas tidak semuanya dibuat menjadi dhammasala. Bangunan wihara dibuat sesuai kebutuhan saja. Tidak terlalu kecil, juga tidak terlalu mewah. Sementara tanah yang masih luas ditanami singkong, pisang, kacang tanah, dan lain-lain. Umat bersama mengelola semua tanaman, dan hasilnya akan digunakan untuk operasinal wihara. Sehingga wihara tidak lagi mengalami kesulitan operasional. Jika pun masih menerima donasi, tetapi setidaknya mereka sudah memiliki “modal” awal. Intinya mereka sudah berusaha mandiri di atas kaki mereka sendiri. Perlahan mandiri atas potensinya sendiri

Demikian pula dengan beberapa wihara yang sekarang mengembangkan pendidikan anak usia dini. Jika memang saat ini belum bisa mandiri karena masih harus ditopang dari keuangan wihara, tetapi lambat laun harus diupayakan untuk mandiri. Untuk tahap awal, wihara memang harus memberi “modal”, tetapi jika diurus dengan serius, niscaya bahwa pendidikan usia dini akan bisa mandiri. Saya memimpikan dari pendirian pendidikan anak usia dini di wihara, 10 – 20  tahun mendatang, di lingkungan wihara tersebut akan berdiri TK, SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi yang berbasis Buddhis. Dengan demikian, Wihara bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat dengan memberi kontribusi lebih luas dan banyak.

Pada akhirnya wihara diharapkan menjadi pusat peradaban umat Buddha itu sendiri. Wihara akan lebih guyub, yang mampu menjawab kebutuhan umatnya, bukan hanya persoalan religi, namun juga persoalan ekonomi, budaya, bahkan politik. Sehingga social enterprise atau kewirausahaan sosial benar-benar menjadi jalan alternatif bagi transformasi permasalahan sosial, tak terkecuali permasalahan sosial di Buddhis Indonesia.

 

*Penulis: Widodo, Direktur Pendidikan Institut Nagarjuna

Langkah Awal IN Mencetak Pemimpin Buddhis Nasionalis

0
Sekolah Kepemimpinan Buddhis Muda Indonesia adalah langkah awal IN mencetak pemimpin Buddhis nasionalis masa depan.
Sekolah kepemimpinan yang diadakan merupakan langkah awal IN mencetak pemimpin Buddhis nasionalis.

Menteri Pemuda dan Olahraga menyambut baik Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis yang diselenggarakan pada Sabtu, 15 Desember. “Ini merupakan satu hal yang luar biasa karena diharapkan memang dari dulu sekolah kepemimpinan namanya Tanasda (Ketahanan Nasional Pemuda) ini mungkin mirip-miriplah dan ini sangat bagus.” Demikian sepenggal kata sambutan perwakilan Menpora. Sekolah kepemimpinan ini adalah langkah awal IN untuk mencetak pemimpin Buddhis yang diharapkan.

Sambutan Deputi Pengembangan Pemuda

Kementerian Pemuda ini ada 2 deputi. Pertama, Deputi Pemberdayaan Pemuda dan yang kedua Deputi Pengembangan Pemuda. Seharusnya ini masuk ke Deputi Pengembangan Pemuda. “Pak Menteri mendisposisi ke Deputi Pengembangan Pemuda, kebetulan Bapak Deputi Sedang ada acara lalu mewakilkan kepada saya untuk menghadiri itu semua, salam hormat untuk bapak-bapak sekalian.”, sambut Bapak Khairil.

Pada UU No.40 tahun 2009, memang usia pemuda yaitu 16 – 30 tahun. Tetapi, kita pakai UU Unesco, 18 sampai 65 tahun. Bapak Menteri berharap, melalui kegiatan ini, terus berlangsung dengan baik, menghasilkan pemimpin nasionalis sekaligus religius. Karena kita kurang dan harus mengisi ruang-ruang kosong negara ini. Hal ini dinilai sebagai langkah awal yang positif bagi perkembangan pemuda di Indonesia.

Negara ini lebih banyak jiwa pemimpin saja tetapi tidak jiwa kepemimpinan. Mereka tidak siap ketika dipimpin, tetapi lebih banyak ngomong di media. Ketika menjadi anak buah, ketika dipimpin oleh orang lain, mereka tidak siap. Perbedaan antara leader dengan leadership, bahwa pemimpin itu, pertama, punya integritas, saya takut sekali kalau diundang pemuda atau siapapun tidak tepat waktu. Yang kedua dia punya jiwa sosial, dia tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk banyak orang.

“Saya berharap nanti ada kunjungan seperti sekolah Tanasda, kunjungan ke KPK, kunjungan ke DPR, dan kami dari Kementerian Pemuda dan Olahraga silahkan kalau ingin bertemu dengan Bapak Menteri setelah kegiatan ini usai atau di tengah-tengah kegiatan ini, berkunjungan dengan bapak menteri kami persilahkan”, lanjut Bapak Khairil.

Pengalaman Bhante Jayamedho Semasa Muda

Suasana Launching Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis Institut Nagarjuna

Buddhism is so Beautiful

“Saya mengenal Agama Buddha tahun 1963. Ini masalah kepemimpinan muda, buddhis, nasionalis dan berintegritas, wah ini musti dikuliti. Yang pertama adalah kepemimpinan. Pada waktu tahun 63, waktu mahasiswa, masuk dalam kepengen tahu apa sih Agama Buddha itu? Di situ, bahkan ada beberapa mahasiswa buddhis, mahasiswa yang beragama buddha atau persisnya yang baru mengenal Agama Buddha. Dari situ, kita melihat Buddhism itu so beautiful, sangat indah teorinya, tapi dalam praktiknya tersimpan di kelenteng-kelenteng karena pada waktu itu hampir tidak ada vihara dan penuh dengan debu dan isinya penuh dengan ritual-ritual yang kasarnya sukar dimaknai, bukan tanpa makna ya”, ucap Bhikkhu Jayamedho.

“Sehingga pada waktu itu, muncul karena mungkin talentanya, karena ada orang Padangnya, ada orang Tionghoanya, ada orang Jawanya, ada orang Sundanya. Muncul keinginan leadership-nya, muncul keinginan bagaimana kalau anak-anak muda berkumpul dan kemudian goes to campus. Jadi, leadership itu dimulai dari dalam. Dari mana mulainya? Dari kesadaran dan bangga atas sesuatu yang dimilikinya tanpa adanya interest betul-betul murni karena nggak ada keuntungan beragama Buddha itu, apa sih untungnya?”, lanjut Bhikkhu Jayamedho.

“Karena merasakan ini sesuatu yang indah tetapi tersimpan di abu, karena itulah maka kita berkumpul membentuk yang namanya GPBI (Gerakan Pemuda Buddhis Indonesia) dan kita isinya agamanya sama, etnisnya beda, aspirasi politiknya juga sangat beda. Bagaimana kita hidup dalam banyak perbedaan, dalam satu komunitas itu indahnya? Dan kemudian muncul aspirasi gimana kita mengenalkan buddhism itu di kampus? Ya di ITB, di Unpad dan di banyak tempat, karena kaum muda ini yang bisa diambil duluan, kaum tua dipelihara. Untuk sebagai apa? Di samping sebagai monumen, penerus dan koceknya juga ada disitu. Anak muda itu ngomongnya aja gede, duitnya kosong. Maka muncul di situ kekuatan kita goes to campus.”

Kilas Balik Sejarah

“Ajarkanlah Dhamma ini secara ilmiah, tetapi juga religius yang diajarkan di situ adalah the values, karena kalau seseorang beragama kehilangan nilai-nilai, habislah negara ini. Itulah munculnya GBPI dan kita mulai bergerak membuat cabang-cabang di seluruh Indonesia dan sekarang tokoh-tokoh dulu itu sekarang sudah menjadi tokoh sepuh karena usia saya sudah 77 Pak, jadi bukan waktunya untuk duduk di sini sebenarnya. Jadi, kepemimpinan itu dimulainya dengan adanya komitmen, bukan komat-kamit. Sekarang itu paling banyak komat-kamitnya, paling pinter itu apalagi disorot televisi, mulai komat-kamitnya muncul. Komitmen terhadap sesuatu yang diyakini kalau dalam istilah itu saddha-nya. Saddha tidak hanya dalam bidang agama, tetapi dalam bisnis pun adalah sesuatu yang diyakini sebagai sesuatu yang baik, yang benar, layak dan bermanfaat untuk orang banyak.”, sambung Bhikkhu Jayamedho.

“Ini dulu dipegang sebagai kuncinya dan kita bergerak cukup bagus, cuman sayangnya tahun 65, usianya baru 2 tahun, mulai marah dan muncul peristiwa 65. Mulailah penangkapan, pembunuhan, dan sebagainya, kalau sekarang melanggar HAM ya. Sehingga pada waktu itu, saya sebagai ketua Umum mengatakan sudah, bukan dibubarkan, tapi tiarap dulu, karena mayoritasnya adalah orang-orang Tionghoa dan orang Tionghoa banyak yang baperki pada waktu itu, sudahlah tiarap dulu. Jadi, yang bukan Tionghoa, mari kita ambil alih kepemimpinan untuk membantu menjembatani antara the chinese sama pemerintah pada waktu itu. Ini kita gerakkan, maka leadership pada waktu itu ada confident. Jadi, di samping commitment, ada nilai-nilai confident, keyakinan terhadap sesuatu yang diyakini. Dan ini yang harus dikembangkan, tidak perlu kursus dulu, sekarang harus kursus dulu. Kalau mau pidato, tanya dulu seniornya”, papar Bhante Jayamedho

Langkah Awal IN: Kepemimpinan Muda Sangat Penting

“Yang kedua adalah muda, muda itu apa to Pak? Dua minggu lalu, saya kan memegang Sekolah Tinggi Agama Buddha, dimana ada seratus mahasiswanya berjubah semua. Mereka saya kirim ke acara di Kota Batu Malang sana mengenai acara kepemudaan dan kerukunan hidup beragama. Mereka pulang dengan lemes. ‘Bhante, kami ini katanya pemuda tapi kok dianggap anak kecil, yang hadir tue-tue (alias tua), ini pemuda apa bhante?’ Nah, ini peranan dari DPR harus berani tegas, kalau umur 35 sudah tidak ikut WHO lah dan kalau WHO tentu masih muda sekali. Dan harus tegas, kalau tidak, organisasi kepemudaan akan dipakai sebagai kuda tua para orang tua.”

Bhante Jayamedho sedang membagikan pengalamannya

“Buddhis juga harus berani begitu, kami di Theravada juga begitu. Patria tidak boleh usianya lebih dari 30 tahun. Kalau sudah 30 tahun, silahkan naik ke dalam majelis, naiklah masuk dalam bhikkhu, yang wanita naiklah jadi wandani, masih ada jenjang-jenjang. Janganlah organisasi dipakai sebagai alat mencari kekuasaan, dan keuntungan diri sendiri dan kelompoknya itu sangat tidak betul, tapi di luar monggo kerso, di buddhis harus tegas. Kemudian, muda juga, paling tidak mereka bisa bersuara, bersosialisasi sesama usianya, syukur tempat cari jodoh di situ, daripada cari jodoh agama lain, akhirnya pindah agama lain karena kurang kuat.

Soal Huruf N dalam Kata Pemimpin

“Saya tidak melarang karena organisasi itu memang penting. Pada waktu saya masih muda, saya dimarahi oleh bhikkhu tempat ini, kok dipakai sebagai tempat pacaran. Lho, pacaran itu penting untuk memberikan semangat. Dan akhirnya jadi jodoh, mereka tetap aktif sampai tua. Peranan pemuda ini membangun cinta tetapi juga membangun agama di dalam rumah tangganya, ini kewajiban anak muda juga diatur.”

Bhikkhu Jayamedho lanjut, “Yang ketiga adalah sebagai buddhis, sebenarnya untuk menjadi seorang pemimpin, yang dikatakan pemimpin itu huruf N-nya dihilangkan dulu Pak, apa itu? Ya harus mimpi, kalau seorang pemimpin tidak pernah bermimpi the future, the vision, ke depan ya organisasi itu ya glear gleor. Ya, bahasa indahnya itulah vision. Lihatlah Soekarno, itu mimpi dia, Indonesia merdeka, program jembatan emas, dan sebagainya. Pemimpin adalah pemimpi yang begitu dia bangun menggunakan tenaga orang muda untuk menggerakkan mereka untuk mencapai tujuannya, mencapai mimpinya dan saya bersyukur mimpi kita dulu, Buddhism goes to campus, sudah betul-betul masuk kampus dengan munculnya dulu KMBJ. Saya sekarang sudah puas, apa yang kita pernah lontarkan itu betul-betul marak, tapi ini juga tidak bisa berhenti.”

Demikian paparan pengalaman dari Bhante Jayamedho pada pembukaan sekolah kepemimpinan Buddhis yang dianggap langkah awal IN. Untuk pengembangan komunitas Buddhis di Indonesia.

Stage berikutnya adalah melakukan development, yaitu buddhism goes to family. Di Islam itu terasa sekali, puasa bareng, lebarannya bareng, sholatnya bareng dan di rumah pula. Saya sebagai buddhis, tapi keluarga saya muslim semua. Kalau mereka puasa, saya ikut puasa, sampai kadang-kadang mereka lupa saya bukan Islam. Keluarga saya sangat toleran sekali, yang penting adalah the quality of the people, bukan di dalam pengertian merek agamanya.”

Baca juga: Institut Nagarjuna Sukses Luncurkan Sekolah Kepemimpinan Buddhis

Soal Integritas dan Pancasila Buddhis

“Yang keempat adalah integritas. Integritas ini sangat penting karena buddhism dan integritas itu sebetulnya inheren, semua agama juga. Terutama kita memegang sila, Pancasila Buddhis itu adalah lima principles. Pertama adalah menghindari pembunuhan, tetapi juga harus dikembangkan non-physical violence, ini yang harus dikembangkan di dalam dunia buddhis. Bagaimana di luar, kekerasan terhadap fisik sangat besar sekali? Pada waktu itu, jika dipertanyakan layak ndak demo Buddha Bar? Memang tidak ada kekerasan fisik di situ. Yang kedua, yang tidak kalah pentingnya, adalah Adinadana, yaitu tidak mencuri, termasuk di dalam hal ini jangan korupsi. Jadi, kalau mencari seorang pemimpin buddhis, lihat track recordnya. Kalau nyata-nyata ditangkap KPK dan masuk penjara, no way!

Perumpamaan Teratai

Seorang pengusaha duduk di pimpinan agama itu riskan sekali. Karena itulah, kita harus bersikap seperti lambang Agama Buddha, teratai (lotus). Teratai itu bisa tumbuh kalau kolamnya penuh lumpur, ikan koi bisa hidup karena airnya bening, itu bedanya. Kalau ada lumpur, dia akan kemudian tumbuh, pada waktu gelap dia, akan muncul ke permukaan dan pada waktu ada sinar matahari, dia akan mekar. Jadi, dengan lambang itu, juga kita harus berani. Sang Buddha mengajarkan dalam Sanghanusati, yang namanya murid Buddha itu harus baik, harus jujur, harus benar, harus layak. Empat itulah integrity, bukan Sangha itu yang mencapai kesucian-kesucian, itu untuk kita semua. Kalau melakukan sesuatu, is it good or not? Ini baik atau tidak? Jujur apa tidak? Benar tidak, benar itu benar sesuai peraturan perundangan, peraturan vinaya, kemudian pantas tidak itu dilakukan.”, lanjut Bhikkhu Jayamedho.

“Kalau sudah melakukan 4 hal tersebut dengan benar, maka layak diberi persembahan, layak diberi penghormatan, layak tempat menanam jasa, dsb. Kaum muda pun kalau tidak bisa menerapkan Dharma untuk kehidupan sehari-hari, itu salah besar. Karena penerapan Dharma itu bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk keselamatan orang banyak. Tidak hanya untuk keselamatan dalam hidup ini tetapi juga untuk keselamatan hidup yang akan datang. Maka, kita jalan lurus itu, tidak membuat kita kaya maka kita harus mencari kekayaan lahir seimbang dengan kekayaan batin. Kekayaan lahir untuk anak cucu, kekayaan batin adalah untuk next life yang lebih panjang lagi.”

Memulai Perjalanan 1.000 Mil

Langkah awal IN ini merupakan bagian dari visi pengembangan komunitas yang menjadi salah satu pilar lembaga ini. Selain pilar utama yaitu kajian Buddhadharma kontekstual untuk berbagai aspek. Meskipun langkah awal IN ini bisa dinilai langkah kecil, tapi bukankah ada ungkapan perjalanan 1.000 mil dimulai dari langkah pertama. Pengurus berharap semoga langkah awal IN ini benar-benar berdampak dan bermanfaat.

_____________________________
Oleh: Wandi Siswanto

Baca juga: Dirjen Bimas Buddha Berikan Penguatan di Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan VII

Sutra Teratai Salinan Laksamana Cheng Ho

1
Temuan sutra teratai yang ditulis langsung oleh Cheng Ho kini menjadi koleksi Long Museum.
Long Museum di Shanghai memiliki koleksi sutra teratai yang ditulis langsung oleh Cheng Ho.
Sutra Teratai adalah salah satu sutra terpenting saat penyebaran Buddhis di Asia Timur yang demikian pesat kala itu. Masa dimana teknologi cetak belum lahir. Sehingga salah satu kebajikan yang dapat dilakukan kaum terpelajar adalah menyalin isi Tripitaka. Kitab suci Agama Buddha. Salah satu diantaranya adalah Lotus Sutra. Tujuan penyalinan adalah untuk menyebarluaskan dharma, ajaran Buddha. Praktik ini ternyata juga dilakukan tokoh seperti Cheng Ho.

Praktik Menyalin Kitab Suci

Bagi yang lahir tahun 80an tentu tidak asing soal selebaran yang meminta kita memfotokopi selebaran tersebut. Agar dapat berkah, tercapai apapun yang diinginkan. Tentu yang pasti adalah tukang fotokopinya dulu yang memperoleh berkah. Akarnya ternyata bisa ditelusuri hingga masa lampau dalam konteks positif tentunya.

Praktik umumnya adalah seorang umat akan bertekad (adhitana). Untuk menyalin misal 1.000 salinan sutra. Ini tidak bisa diwakili, jadi meski dia orang terkaya sekalipun ia harus menulis sendiri kitab tersebut. Sebanyak yang ia tekadkan. Proses menyalin ini secara tidak langsung juga menjadi proses internalisasi nilai-nilai. Yang selanjutnya diharapkan juga dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Temuan Sutra Teratai Tulisan Tangan Cheng Ho

Gambar penunjang artikel singkat ini adalah koleksi cukup baru dari Long Museum yang berkedudukan di Shanghai, kalau naik metro anda bisa menggunakan line 7. Koleksi langka ini ditebus pihak museum pada 2015 di Balai Lelang Sotheby New York 14 juta US dolar. Memang ini koleksi langka dari 615 tahun silam yaitu tulisan tangan asli dari Zheng He (Laksamana Cheng Ho) sang Kasim Tiga Perlindungan, Sanbao, Sam Poo (Sam Poo Kong).

Akhiran Kong adalah kata keterangan tempat, sebagaimana Bio pada Boen Tek Bio, Yuan pada Jin De Yuan, Sie Pada KHong Hoa Sie, dan Teng pada Kwan Im Teng. Tempat ibadah tradisional umat Buddha yang Tionghoa.
Menyalin dan mendistribusikan ajaran Buddha adalah termasuik jenis dana tertinggi yaitu dana dharma, Oleh karena itu sejak lama praktiknya telah dilakukan praktisi yang penuh tekad dan dedikasi karena itu bukan pekerjaan mudah. Bayangkan, lotus sutra dalam bentuk buku cetak modern tebalnya sekitar 500an halaman. @Eddy Setiawan (Peneliti IN)

Potensi Pemberdayaan Umat Buddha di Kaloran, Temanggung Berdasarkan Penelitian Institut Nagarjuna

0

Institut Nagarjuna (IN) bekerja sama dengan Direktorat Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama mengadakan penelitian tentang potensi pemberdayaan umat Buddha di Kaloran. Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari IN yang terdiri dari Eddy Setiawan (koordinator), Isyanto, Eko Nugroho Raharjo, dan Adi Kurniawan antara November 2015 sampai dengan Januari 2016.

Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam sebuah seminar di hadapan pemangku kepentingan agama Buddha. Seminar yang dihadiri oleh 30 orang itu digelar di Restoran Ekaria, Jakarta pada Sabtu (27/2).

Direktur Eksekutif Institut Nagarjuna, Isyanto, menyatakan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pembinaan dalam bidang apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan, khususnya Kaloran. “Selama ini kebijakan, baik dalam hal pembinaan maupun penyusunan anggaran program pemerintah, khususnya pembinaan umat Buddha tidak mengacu pada data penelitian mana pun. Dengan penelitian ini diharapkan bisa menjadi rekomendasi pemerintah maupun pemangku kepentingan Buddhis untuk membuat kebijakan dalam pembinaan umat di pedesaan, khususnya Kaloran,” ujar Isyanto.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan lapangan, Focus Group Discussion (FGD), dokumentasi dan wawancara mendalam dengan sejumlah pihak, seperti pemuka agama, manggalia (koordinator lurah), ketua vihara, pimpinan majelis, Dharmaduta, guru, tokoh wanita, tokoh pemuda, hingga abdi desa Ehipassiko Foundation.

Umat Buddha Kecamatan Kaloran menjadi obyek penelitian dikarenakan umat Buddha Kaloran merupakan salah basis agama Buddha terbesar di Indonesia. Menurut hasil penelitian, salah satu yang menarik adalah perbedaan data jumlah umat Buddha di Kaloran antara Badan Pusat Statistik (BPS) dengan temuan data lapangan yang diperoleh dari penelitian melalui pengisian kuesioner oleh tokoh agama Buddha di Kaloran.

Menurut BPS, umat Buddha Kaloran tahun 2014 berjumlah 6.003 jiwa. Data ini lebih kecil dibandingkan dengan data yang diperoleh tim peneliti. Umat Buddha tersebar di 12 desa dari total 14 desa yang termasuk dalam Kecamatan Kaloran. Tim peneliti IN memproyeksikan masing-masing KK terdiri dari 5 jiwa, maka jumlah umat Buddha di 8 desa, 38 dusun di Kecamatan Kaloran adalah sebanyak 9.070 jiwa, atau lebih besar 3.067 jiwa (51%) dibandingkan data BPS. Proyeksi jumlah umat Buddha dalam perhitungan ini belum termasuk umat Buddha yang berasal dari 4 desa yang tidak mengikuti FGD. Di seluruh Kaloran terdapat 44 vihara dan 8 cetiya.

“Kajian lanjutan dan mendalam mengenai hal ini diperlukan guna mendapatkan gambaran jumlah dan sebaran umat Buddha yang lebih valid, mengingat kesenjangan data yang demikian besar antara angka resmi yang dirilis BPS dengan data yang diperoleh dari penelitian,” ujar Eddy Setiawan dalam pemaparan hasil penelitian.

Mengenai potensi pemberdayaan ekonomi, umat Buddha Kaloran mempunyai banyak potensi yang dibagi menjadi dua, yaitu potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam.

Sumber daya manusia terdiri dari berbagai majelis, lembaga dan organisasi, dan kaum terdidik dalam hal ini lulusan sarjana. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui FGD, di Kecamatan Kaloran terdapat lima majelis agama Buddha, yaitu Magabudhi, Majubuthi, Majabumi, MBI, dan Tantrayana Kasogatan. Selain dari para romo dan ramani, umat Buddha juga mendapatkan pembinaan secara berkala dari para anggota Sangha (bhikkhu/bhiksu), namun sampai saat ini belum ada anggota Sangha yang menetap di Kecamatan Kaloran.

Selain majelis, di Kaloran juga terdapat dua organisasi wanita Buddhis: Wanita Theravada Indonesia (Wandani) dan Mattu Maitri (organisasi Buddhis non sektarian), serta organisasi kepemudaan. Hingga saat ini di Kaloran juga terdapat 44 sarjana yang beragama Buddha.

Sementara sumber daya alam yang dapat dikembangkan di Kaloran adalah sektor pertanian, hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk Kaloran bermatapencaharian sebagai petani. Potensi ekonomi yang dapat dikembangkan di sektor pertanian dan perkebunan adalah tanaman jagung, cabe, jahe, sayur mayur, kopi, alpukat, manggis, nangka, dan padi di areal tertentu. Tanaman kayu sengon dan jabon juga memiliki potensi untuk dikembangkan, namun dengan catatan pola tanam dan panen yang memperhatikan kondisi lahan yang pada umumnya memiliki tingkat kemiringan yang tinggi.

Kaloran juga dinilai memiliki potensi di bidang peternakan, yaitu penggemukan sapi, domba dan ayam ras pedaging dan petelur. Sedangkan di bidang kreasi terdapat potensi olahan berbagai hasil pertanian dan perkebunan seperti kripik ketela/ubi, nangka, gula aren, jahe, empon-empon, kopi, dan cokelat.

Selain sumber daya alam, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah masyarakat Kaloran dari berbagai agama pada momen-momen tertentu secara bersama-sama merayakan tradisi leluhur, yakni sadranan (ziarah kubur), merti desa/dusun, merti Bumi, selapanan desa/dusun, gotong royong membangun rumah, kebaktian limolasan (purnama), dan sawuhan.

“Hal ini menarik apabila kita bisa memberi makna Dharmik pada setiap tradisi, bisa menjadi potensi wisata kebudayaan Buddhis. Selain itu, masyarakat Kaloran juga sangat menjunjung seni. Banyak kesenian daerah seperti, jaran kepang, soreng, prajuritan, coglok dan lain-lain yang masih dilaksanakan,” jelas Eddy.

20160229 Inilah Potensi Pemberdayaan Umat Buddha di Kaloran, Temanggung Berdasarkan Penelitian Institut Nagarjuna 2

Menurutnya, beberapa potensi yang realistis untuk dikembangkan saat ini adalah pertanian, peternakan, dan perkebunan. “Di bidang pertanian dan perkebunan, tanaman kopi masih menjadi andalan umat Buddha di Kaloran. Selain itu jahe, alpukat, cabai, nangka, ubi, singkong dan tanaman kayu juga produksinya sangat bagus, hanya saja pemasarannya masih di tengkulak. Sedangkan peternakan: sapi, domba, dan ayam.

“Namun dari berbagai potensi tersebut ada persoalan mendasar, yaitu ketersediaan air selama musim kemarau, minimnya inovasi dan penguasaan teknik modern, ketiadaan kemampuan mengolah hasil panen dan pemasaran. Pemberdayaan dapat dilakukan berupa pengadaan alat dan pelatihan. Pemasaran dapat dilakukan dengan pendekatan social marketing. Potensi pariwisata Kaloran dapat diperkaya dengan penguatan dan pengembangan seni budaya lokal berkarakter Dharmik, dengan memberikan pemaknaan baru pada unsur-unsur seni budaya lokal,” lanjut Eddy.

Para tokoh yang hadir dalam seminar tersebut memberikan pujian kepada Institut Nagarjuna yang telah melakukan penelitian. Mereka berharap dapat bekerjasama dengan IN menindaklanjuti hasil penelitian dengan tindakan langsung pendampingan dan pemberdayaan umat Buddha khususnya di Kaloran.

Wenny Lo misalnya, wanita yang aktif di Buddhist Fellowship Indonesia (BFI) ini mengaku sangat tertarik dengan hasil penelitian soal pemberdayaan ekonomi umat. “Yang saya pikirkan, hasil bumi di Indonesia harus bisa digarap, gunung-gunung di Indonesia sangat indah. Sebagai pebisnis, saya melihat hal ini adalah peluang. Beasiswa Pintu Belajar (yang dikelola BFI) juga sudah memulai pemberdayaan ekonomi, namun bingung memulai dari mana. Namun setelah ada penelitian seperti ini, saya semakin ada gambaran untuk melakukan apa, tetapi tentu kita tidak mungkin menggelontorkan uang ke orang-orang desa. Langkah yang mesti kita lakukan adalah menyiapkan orang-orang yang bisa tinggal dan melakukan pendampingan dan pemberdayaan. Sementara itu, tim pebisnis akan membatu secara dana usaha profit, yang keuntungannya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat dan sebagian untuk membiayai organisasi dan vihara,” ujar Wenny Lo.

Sementara itu Kasubdit Ditjen Bimas Buddha, Supriyadi, berharap agar hasil penelitian segera ditindaklanjuti. “Diharapkan melalui riset ini segera ditindaklanjuti dengan langkah action dalam bentuk empowerment (pemberdayaan masyarakat),” harap Supriyadi. Ia juga berjanji Ditjen Bimas Buddha akan kembali membantu pembiayaan bagi pihak yang akan menjalankan program pemberdayaan.

“Kami berharap penelitian ini menjadi sumber pemicu bagi kawan-kawan, tidak hanya oleh pemerintah, tapi juga pihak majelis dan swasta untuk melihat inilah potensi yang ada di Temanggung untuk dikembangkan di majelis ataupun kelompok wirausaha,” lanjut Supriyadi.

Sementara itu Isyanto mengatakan bahwa masukan-masukan yang didapat dalam seminar ini untuk menyempurnakan laporan. Untuk tindak lanjutnya, Institut Nagarjuna akan menyusun kembali rencana program pemberdayaan umat berdasarkan hasil penelitian. “Institut Nagarjuna sendiri sebagai peneliti, memberdayakan apa yang dibutuhkan masyarakat berdasarkan hasil penelitian. Berdasarkan temuan itulah nanti akan kita tawarkan ke Direktorat Bimbingan Masyarakat Buddha dan pemangku kepentingan agama Buddha, seperti hari ini banyak elemen-elemen Buddhis yang hadir.

“Tiga hal yang menarik untuk dikembangkan berdasarkan hasil penelitian dan masukan-masukan tadi adalah bidang pertanian, sektor wisata dan kebudayaan, meskipun ini masih perlu kajian lebih jauh seperti memberi pemaknaan Dharmik. Namun untuk bentuk teknisnya seperti apa itu nanti yang akan kita susun lebih lanjut bersama Dirjen Bimas Buddha, dan kalau ada dari pihak swasta yang tertarik akan lebih baik,” pungkas Isyanto.