Blog Page 8

Cho Su Kong: Jejak Bhiksu dari Anxi

1
Cho Su Kong adalah seorang bhiksu Buddha Mahayana yang berasal dari Anxi
Deifikasi atau proses pendewaan adalah praktik biasa dalam agama rakyat di Tiongkok. Salah satunya adalah Cho Su Kong yang disebut Dewa dari Cadas Air Jernih. Semasa hidupnya Cho Su Kong adalah seorang bhiksu aliran Mahayana berasal dari Anxi.

diDi kalangan Hokkien dan diaspora Tionghoa di Asia Tenggara, nama Cho Su Kong atau Qingshui Zushi begitu akrab. Patungnya berwajah gelap, duduk tegak dalam jubah bhiksu Mahayana. Wajah gelapnya memancarkan wibawa sekaligus welas asih. Namun di balik segala penghormatan oleh komunitas Tionghoa, hanya sebagian orang yang paham bahwa beliau sejatinya adalah seorang bhiksu Buddhis dari aliran Chan atau di Jepang disebut Zen. Sumber-sumber dari Fujian dan Taiwan menyebut nama awamnya adalah Chen Zhaoying (陳昭應), dan memiliki nama dharma Puzu (普足).

Bhiksu Cho Su Kong lahir pada tahun 1047 di wilayah Anxi–Yongchun, Quanzhou, Fujian, pada masa Dinasti Song Utara. Sejak kecil, ia menunjukkan bakat luar biasa dalam mempelajari kitab suci Buddhis dan mempraktikkan sila. Pada usia muda ia ditahbiskan di Dayun Yuan (大雲院), lalu berguru kepada seorang bhiksu Chan master bergelar Dajing Shanming—gelar yang berarti Mahaguru Chan Shanming dari Gunung/Biara Dajing. Dari sinilah muncul istilah “Da Jing Shan” yang kerap dikaitkan dengan beliau. Bukan berarti Gunung Da Jing, tapi gunung tempat berdirinya vihara dari Bhiksu Dajing Shanming.

Setelah bertahun-tahun berguru, ia menyepi di Gunung Mazhang, lalu berpindah ke Gunung Zhangyan. Di sana terdapat mata air yang jernih dan tak pernah kering. Pada tahun 1083, ia memberi nama baru bagi tempat itu: Qingshui Yan—Harafiah, Tebing atau Cadas Air Jernih. Ia mendirikan biara di lokasi itu, mengajar para siswa, dan menjadi tumpuan harapan masyarakat. Berdasarkan kisah turun temurun, dituturkan bagaimana bhiksu ini dapat mendatangankan hujan saat kemarau panjang. Sang bhiksu juga menjadi tempat dimana masyarakat yang sakit mencari kesembuhan. Baik sakit fisik maupun non fisik. Selain itu ia juga selalu membantu rakyat kecil di masa-masa sulit.

Dari Fujian ke Asia Tenggara

Setelah wafat pada 1101, nama Qingshui Zushi dikenang sebagai seorang patriark atau 祖師 (zushi) dalam bahasa mandarin. Dalam konteks Buddhisme Tionghoa, istilah ini secara harfiah berarti guru leluhur. Suatu gelar kehormatan untuk tokoh yang mengajarkan dan menegakkan ajaran (Dharma) di suatu tempat atau aliran. Serta menjadi teladan moral dan spiritual sehingga generasi setelahnya menghormatinya sebagai pendiri keluarga besar spiritual.

Pada kasus Qingshui Zushi (Cho Su Kong), gelar zushi berarti ia diakui sebagai pendiri atau pelindung suatu aliran/devosi tertentu dalam Buddhisme Chan di Fujian. Itu sebabnya, meski kini banyak kuilnya bercampur dengan tradisi rakyat, inti sejarahnya tetap: ia adalah patriark Buddhis, seorang bhiksu yang dihormati karena kebajikan dan jasa-jasanya.

Ikonografinya pun khas—wajah hitam, sorot mata tegas, dan jubah bhiksu Mahayana yang sederhana—menjadi simbol kebajikan dan keteguhan. Di Fujian, terutama Anxi dan Yongchun, kultusnya tumbuh subur.

Seiring arus migrasi orang-orang Tionghoa, khususnya Hokkien, penghormatan kepada Qingshui Zushi tersebar ke Taiwan, kemudian juga sampai ke Asia Tenggara. Di Taiwan, setiap tanggal 6 bulan pertama kalender lunar diperingati sebagai hari ulang tahunnya, lengkap dengan prosesi dan persembahan di zushi miao. Sementara  di Malaysia, beliau dikenal dengan sebutan Cho Su Kong atau Chor Soo Kong. Dengan cerita-cerita yang menekankan perannya sebagai bhiksu penyembuh dan pembawa hujan. Kuil yang didedikasikan untuknya di Penang, bahkan dikenal dunia sebagai Snake Temple, karena legenda ular-ular yang jinak di sana—walau identitas beliau sebagai bhiksu Buddhis tetap menjadi inti kisah.

Warisan Sang “Air Jernih”

Penghormatan kepada Qingshui Zushi tidak pernah sekadar pemujaan simbol. Ia adalah cermin sejarah hidup seorang bhiksu yang mengabdikan diri pada Dharma dan kemanusiaan. Dari Anxi hingga kawasan Asia Tenggara, figur Cho Su Kong tetap dihormati hingga kini. Salah satu tempat yang didirikan untuknya di Indonesia adalah Rong Jia Yi Da Bo Gong Miao. Rong Jia Yi adalah transliterasi dari Tanjung Kait. Sedangkan Da Bo Gong berarti “Paman Tertua atau Kakek Agung”. Dalam konteks ini mengacu pada Cho Su Kong sebagai dewata utama di kuil yang terletak di Tanjung Kait ini. Maka tak heran jika tempat yang akrab disebut Kelenteng Tanjung Kait ini, terkenal dengan ciamsi obatnya. Sesuai dengan kepakaran sang patriak dari Anxi di masa hidupnya.@eddy setiawan

Sumber: Madingring

Rivalitas Soft Power Buddhisme: Membaca Ulang Diplomasi Asia dari Perspektif Jack Meng-Tat Chia

0
India dan Tiongkok
Artikel ini merupakan hasil tinjauan terhadap opini Jack Meng Tat Chia di Asia Times.

 Dalam satu dekade terakhir, kita menyaksikan kebangkitan diplomasi keagamaan di Asia yang semakin terang-terangan menampilkan diri di panggung geopolitik. Di baliknya, terdapat dinamika yang menarik: Tiongkok dan India—dua negeri yang sama-sama memiliki hubungan panjang dengan Buddhisme—kini terlibat dalam apa yang oleh Jack Meng-Tat Chia disebut sebagai “perebutan hati dan pikiran Buddhis dunia.”

Chia, seorang sejarawan agama dari National University of Singapore, melalui artikelnya di Asia Times, 25 Agustus 2025, mengurai bagaimana dua kekuatan besar Asia ini berlomba memanfaatkan simbol, situs suci, dan relik Sang Buddha sebagai bagian dari kekuatan lunak (soft power) diplomasi modern. Di tengah dunia yang kian rapuh oleh perang dagang dan retaknya aliansi politik, Buddhisme—yang sejatinya berakar pada welas asih dan kesadaran batin—tampak berubah menjadi medium politik luar negeri yang penuh kalkulasi.

Relik, Diplomasi, dan Panggung Spiritualitas

India, di bawah pemerintahan Narendra Modi, menegaskan dirinya sebagai “tanah kelahiran Sang Buddha.” Relik-relik suci Sang Buddha dipinjamkan ke berbagai negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam, bukan hanya sebagai upaya penghormatan spiritual, melainkan juga untuk meneguhkan posisi India sebagai pusat ziarah dunia Buddhis. Praktik ini, menurut Chia, menunjukkan pola baru di mana kesakralan diolah menjadi strategi kebudayaan negara.

Tiongkok tidak tinggal diam. Beijing justru mengembangkan pendekatan yang lebih sistematis dengan menenun Buddhisme ke dalam kebijakan besar seperti Belt and Road Initiative. Relik gigi Sang Buddha dari Kuil Lingguang di Beijing, misalnya, dikirim ke Thailand dalam upacara penuh simbol politik dan disiarkan secara luas oleh media. Bahkan, pemerintah Tiongkok berupaya menegaskan otoritasnya atas Buddhisme Tibet dengan mengklaim hak menentukan reinkarnasi Dalai Lama berikutnya—sebuah tindakan yang, bagi Chia, sarat makna geopolitik.

Selain itu, Tiongkok juga memperkenalkan gagasan “Buddhisme Laut Tiongkok Selatan,” suatu narasi budaya yang memadukan warisan spiritual dengan klaim kedaulatan maritim. Melalui gagasan ini, Buddhisme diproyeksikan sebagai wajah peradaban Tiongkok yang damai, tetapi juga berfungsi sebagai legitimasi simbolik atas pengaruhnya di kawasan.

Diplomasi Buddhis: Tradisi Lama yang Berubah Fungsi

Chia mengingatkan bahwa diplomasi Buddhis bukanlah fenomena baru. Sejak masa Asoka hingga Sriwijaya, para raja di Asia telah menggunakan relik dan ajaran Sang Buddha untuk mempererat hubungan antarwilayah dan meneguhkan legitimasi kekuasaan. Namun dalam konteks modern, kebangkitan praktik ini membawa nuansa berbeda—lebih diplomatik, lebih strategis, dan terkadang, lebih politis daripada spiritual.

Di Asia kontemporer, negara-negara melihat Buddhisme bukan hanya sebagai agama, melainkan juga sebagai aset budaya yang bisa menggerakkan simpati internasional. Namun di sisi lain, “penggunaan” agama semacam ini berisiko mengaburkan makna spiritualnya. Relik, situs suci, dan ritual ziarah dapat dengan mudah berubah menjadi instrumen politik, bahkan menjadi simbol rivalitas kekuasaan.

Jembatan Kecil dari Singapura

Dalam lanskap kompetisi dua raksasa ini, Chia menyoroti peran menarik negara kecil seperti Singapura yang sering menjadi jembatan tenang di tengah riuhnya diplomasi Buddhis. Jauh sebelum hubungan diplomatik resmi antara Singapura dan Tiongkok terbentuk, hubungan antartokoh Buddhis sudah terjalin erat. Antara tahun 1982 dan 1990, Yang Mulia Hong Choon dari Federasi Buddhis Singapura melakukan serangkaian kunjungan ke Tiongkok dan bertemu dengan para pemimpin agama maupun politik. Dalam pandangan Chia, langkah-langkah semacam ini menunjukkan bahwa hubungan keagamaan dapat menjadi fondasi diplomasi lintas batas yang lebih damai, bahkan mendahului hubungan politik formal.

Pameran “Rahasia Pagoda yang Runtuh” di Museum Peradaban Asia (2014), yang menampilkan artefak dari Kuil Famen di Shaanxi, menjadi contoh nyata bagaimana Buddhisme berperan sebagai jembatan kultural. Dalam konteks ini, diplomasi Buddhis tampil bukan sebagai perebutan pengaruh, melainkan sebagai ruang dialog dan saling pengertian.

Pedang Bermata Dua

Namun, Chia mengingatkan bahwa diplomasi agama adalah pedang bermata dua. Ketika simbol-simbol Buddhis dijadikan alat propaganda, ia kehilangan kesakralannya. Kegiatan ziarah atau pameran relik bisa menimbulkan reaksi negatif jika dilihat sebagai strategi politik yang terselubung. Rivalitas antara India dan Tiongkok, meski terbungkus dalam citra “kedamaian”, sebenarnya mencerminkan ketegangan lama yang kini bergeser dari batas wilayah ke ranah spiritual.

Dalam konteks ini, Chia mengajukan pertanyaan penting: dapatkah diplomasi Buddhis benar-benar menjadi kekuatan untuk perdamaian, ataukah ia justru memperdalam jurang rivalitas? Jawabannya bergantung pada cara negara-negara di Asia memaknai agama—sebagai sumber kebijaksanaan, atau sekadar instrumen kekuasaan.

Menemukan Jalan Tengah

Sebagai penutup, Chia menekankan pentingnya melibatkan komunitas keagamaan dan lembaga lokal dalam diplomasi semacam ini. Hanya dengan pendekatan yang partisipatif dan jujur, nilai-nilai Buddhis seperti kasih sayang dan pengendalian diri dapat benar-benar menjadi dasar bagi hubungan internasional yang lebih manusiawi. Diplomasi Buddhis, jika dilakukan dengan kesadaran etis, dapat menjadi model baru hubungan antarbangsa—berbasis welas asih, bukan dominasi; berbasis dialog, bukan propaganda. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, visi seperti ini tidak hanya relevan, tetapi juga sangat dibutuhkan.@eddy setiawan

Referensi:

Jack Meng-Tat Chia, 2025, “Hard Rivalry for Buddhism’s Soft Power: China and India Locked in a Not-so-Holy Geopolitical Competition for Buddhism’s Diplomatic High Ground”, Asia Times, 25 Agustus, diakses 03 November 2025, https://asiatimes.com/2025/08/hard-rivalry-for-buddhisms-soft-power/.

Jack Meng-Tat Chia adalah Foo Hai Fellow dalam Kajian Buddhis dan Profesor Sejarah Madya di National University of Singapore (NUS). Ia juga editor buku Figures of Buddhist Diplomacy in Modern Asia, yang didukung oleh Social Science and Humanities Research Fellowship, Social Science Research Council (Singapore).

Suksesi Institut Nagarjuna

1
Kepengurusan Institut Nagarjuna Periode 2020-2025 di bawah Ketua Umum Isyanto telah berakhir. Suksesi pun diadakan dan terpilih Eddy Setiawan sebagai ketua umum periode 2025-2030.
Institut Nagarjuna telah mengadakan pergantian kepengurusan dengan berakhirnya masa kepengurusan periode 2020-2025.

Pengurus Institut Nagarjuna, pada November 2025 telah purna tugas. Ketua Pengurus IN, Isyanto dan jajaran mengakhiri masa kepengurusan dengan mengadakan Rapat Pleno Lengkap. Rapat dihadiri Pembina, Pengurus, dan Pengawasan yayasan, dengan materi mengenai laporan pertanggungjawaban dan suksesi kepengurusan.

Kegiatan diadakan di Wisma STI yang terletak di bilangan Jakarta Selatan, pada Minggu 2 November 2025. Laporan pertanggungjawaban pengurus setelah didialogkan antara pembina, pengurus, dan pengawas dapat diterima dengan baik.

Pembina dan pengawas hanya berpesan bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana memastikan eksistensi IN sebagai lembaga kajian dan pengembangan umat Buddha, dapat makin diterima. Program yang sudah berjalan dengan baik dan rutin seperti Sekolah Kepemimpinan Buddhis perlu dilanjutkan. Apalagi informasi terakhir, masyarakat di beberapa daerah masih berharap IN mengadakan kegiatan kembali di wilayahnya.

Salah satu kekuatan memurut Pembina dan Pengawas adalah IN dapat mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang aliran atau majelis. Sehingga umat dapat merasakan harmoni, selain materi-materi dalam kegiatan. Selain itu IN ke depan juga diharapkan lebih intensif untuk mempublikasikan kajian-kajiannya. Baik kajian ringan melalui website IN maupun yang lebih serius melalui berbagai jurnal yang ada.

Sementara pemilihan ketua dilakukan dengan musyawarah mufakat, dan memberikan kepercayaan kepada Eddy Setiawan sebagai Ketua IN 2025-2030. Sedangkan Manggala Wirya Tantra sebagai Sekretaris, dan memberikan hak sepenuhnya kepada Pembina sesuai AD/ART untuk menentukan sususan pengurus ke depan. Pembentukan kepengurusan, akan menyesuaikan kebutuhan dan perkembanan organisasi. Diharapkan melalui suksesi ini, IN akan benar-benar dapat mengisi bidang yang belum cukup banyak digarap komunitas Buddhis di Indonesia.@sekretariat

Kelenteng Tempat Ibadah Agama Buddha Tradisi Tionghoa

3
Istilah kelenteng berakar dari Kwan Im Teng, Jadi kelenteng tak lain adalah tempat ibadah agama buddha dengan tradisi Tionghoa.
Agama Buddha berkembang sesuai konteks budaya penganutnya. Leluhur Tionghoa membawa tradisi Chinese Buddhism ke Nusantara. Tempat ibadah awal adalah Kwan Im Teng diserap oleh masyarakat lokal menjadi kelenteng.

Di Indonesia orang terbiasa menyebut bangunan rumah ibadah berciri khas Tiongkok sebagai Kelenteng. Suatu istilah serapan yang terbentuk dari proses pengucapan Kwan Im Teng (Tempat Memuja Kwan Im atau Bodhisattva Avalokitesvara) dalam lidah Indonesia. Pemujaan terhadap Bodhisatva Avalokitesvara atau Kwan Im Pu Sa adalah bagian dari praktik religi agama Buddha Tionghoa (Chinese Buddhism) yang merupakan bentuk akulturasi agama Buddha dengan kepercayaan tradisi masyarakat Tiongkok sejak abad pertama masehi.

Arsitektur, ragam hias, dan ikonografi Tiongkok adalah ciri khas dari wihara Chinese Buddhism, seperti Naga, Sepasang Singa Penjaga, Cakra, Bunga Teratai, Swastika, Ikan, Mutiara, Pagoda, dan lain sebagainya. Kwan Im Teng di negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan lain-lain yang dibangun sejaman dengan Kwan Im Teng-Kwan Im Teng tertua di Indonesia (seperti Kwan Im Teng/Jin De yuan/Petak Sembilan di Glodok, Kwan Im Teng/Vihara Avalokitesvara di Banten, Kwan Im Teng/Vihara Dewi Welas Asih di Cirebon dan lain-lain, hingga saat ini masih di sebut Kwan Im Teng.

RA Kartini dan Kelenteng Welahan

Sementara di Indonesia menggunakan istilah serapan Kelenteng. Istilah lain yang digunakan adalah Konco, dan Topekong. R. A Kartini dalam salah satu suratnya menuliskan bahwa saat remaja ia pernah sakit dan tidak bisa disembuhkan oleh para dokter, kemudian mengikuti saran seorang Tionghoa ia berobat ke Topekong Hian Thian Sang Te (sekarang lebih dikenal dengan istilah Klenteng Welahan). Kartini diminta meminum air yang telah ditaburi abu sisa pembakaran dupa di altar dan ternyata sembuh. Kartini dalam suratnya tersebut menyebut bahwa ia adalah anak Buddha, dan kemudian mulai bervegetarian sejak saat itu.

Kwan Im Teng/JIn De Yuan/Wihara Dharma Bhakti di Glodok menyimpan prasasti nama-nama bhiksu yang pernah menempati wihara tersebut yang berdiri tahun 1650, namun karena kondisi sosial politik yang tidak kondusif sejak terbitnya PP 10 Tahun 1959 hingga meletusnya peristiwa 1965, para bhiksu ini akhirnya meninggalkan Indonesia dan mengungsi ke Tiongkok. Kwan Im Teng/Wihara Dewi Welas Asih di Cirebon juga menyimpan prasasti yang mencatat penyebaran agama Buddha di Cirebon dan sekitarnya pada tahun 1800an.

Apa karakteristik Chinese Buddhism?

Tak Kenal Henti, sering dilambangkan dengan simbol infinity knot (simpul tak terputus). Itulah kenapa agama Buddha yang dibawa dari India oleh para bhiksu dan pedagang akhirnya bisa dianggap agama asli Tiongkok oleh orang sono. Saat nenek moyang Tionghoa datang ke Nusantara, bentuk Buddhisme inilah yang dibawa. Segera mereka mendirikan tempat untuk memuja Kwan Im Po Sat atau Bodhisatva Avalokitesvara. Kwan Im Teng/Tang adalah nama-nama tempat ibadah tertua yang ada di Asia Tenggara.

Kenapa Kwan Im?

Catatan tertua tentang Nusantara dari Bhiksu Fa Hien tampaknya bisa menjawab hal ini. Fa Hien yang datang ke Jawa tahun 400 mencatat betapa ganas dan lamanya pelayaran dari Tiongkok ke Jawa. Para pengelana ini umumnya membawa pratima Kwan Im, entah gambar ataupun arca. Bhiksu pengelana ini mencatat bahwa ia pun membawa pratima Kwan Im, dan ketika terjebak badai dasyat ia membaca Ta Pei Cou atau Maha Karuna Dharani dalam bahasa Sansekertanya.

Jadi inilah sebabnya kebanyakan tempat ibadah tertua yang ada di Asia Tenggara adalah Kwan Im Teng. Huruf terakhir menunjukkan keterangan tempat yakni Tang/Teng/Tong. Atau kemudian Yuan, Sie, Bio, Kiong, Ma. Jin De Yuan, salah satu yang tertua di Nusantara, dulu juga bernama Kwan Im Teng yang dibangun sejaman dengan Kwan Im Teng di Singapura dan Malaysia yakni antara 1600-1700.

Pembangunan Kwan Im Teng di Batavia mendapat tantangan luar biasa dari Dewan Gereja Batavia yang menentang keras pembangunan tempat ibadah agama Buddha yang dianggap memuja iblis dari kacamata mereka. Beruntunglah perekonomian orang-orang Tionghoa kemudian membaik berkat berkembangnya perkebunan tebu, industri gula dan arak Batavia yang sangat dikenal para pelaut dari berbagai negara. Jadi ingat bahwa sampai sekarang Pemprov DKI Jakarta masih punya saham banyak di perusahaan bir. (Ha ha ha).

Peningkatan perekonomian itu pada gilirannya memiliki andil dalam upaya membangun tempat ibadah. Sebuah tempat ibadah sebenarnya sempat dibangun di sisi luar tembok kota, namun akhirnya dibongkar, karena keberatan Dewan Gereja Batavia yang tak segan-segan bersurat langsung ke pusat kerajaan di Netherland. Maka awalnya masyarakat Tionghoa membangun rumah sakit untuk orang miskin (sekarang RS Husada Mangga Besar, belakangan juga bangun yang sekarang namanya RS Budi Kemuliaan di sebelah BI).

Setelah perjuangan panjang, baru menjelang 1650 ijin mendirikan Kwan Im Teng Batavia di daerah Glodok diperoleh. Kwan Im Teng lain juga telah berdiri sebelumnya di areal benteng Kerajaan Banten pada masa yang sama, yang sekarang bernama Vihara Avalokitesvara Banten.

Selain itu juga terdapat Kwan Im Teng di wilayah Kerajaan Cirebon yang dibangun tahun 1559. Dalam monografnya Claudine menerjemahkan prasasti yang ada di Wihara Dewi Welas Asih (nama Kwan Im Teng Cirebon saat ini) bahwa Kwan Im Teng ini adalah pusat penyebaran agama Buddha di Jawa Barat. Kwan Im Teng Batavia hancur pasca kerusuhan Tionghoa 1740, dan dibangun kembali dengan nama Jin De Yuan atau dalam dialek Hokkien disebut Kim Tek Ie, kelak menyesuaikan nama akibat kebijakan Orba menjadi Wihara Dharma Bhakti.

Istilah Kwan Im Teng inilah yang keberadaanya demikian tua dan mengakar di masyarakat yang mengalami penyesuaian fonetik sesuai lidah masyarakat setempat menjadi klenteng. Sebagaimana proses lidah masyarakat lokal melahirkan nama yan tidak ada maknanya dalam bahasa mandarin tapi sudah melekat sehingga tetap dipakai sebagai nama jalan, wihara bahkan gereja yaitu Toasebio. Dewa utama di Toasebio adalah Cheng Goan Cheng Kun yang kemmudian diidentikkan dengan dewa yang banyak dipuja Tionghoa asal Fujian Selatan yakni Dazhi, maka kemungkinan mereka menyebut tempat memujanya Dazhi Bio atau Dazhi Miao, dan warga lokal kemudian melafalkannya menjadi Toasebio.

Baca juga: Ikonografi Kelenteng: Pesan Dharma Leluhur Tionghoa

Proses lain terjadi di Bali, karena tempat ibadah Chinese Buddhism tertua disana terkait dengan pembangunan Taman Ayun. Tokoh yang kemudian dipuja sebagai dewa adalah Chen Fu Zheng Ren atau Tan Cin Jin (Hokkien), asal Tiongkok yang sangat dihormati warga Tionghoa Banyuwangi, Bali hingga Lombok. Ia datang ke Kerajaan Blambangan dari Batavia saat Kerajaan Mengwi menguasai Blambangan. Keberhasilannya membangun istana di Blambangan menyebabkan ia diminta membuat istana di Mengwi Bali. Singkat cerita ia akhirnya difitnah, dan diburu untuk dibunuh. Tetapi 2 orang ksatria yang diutus untuk membunuhnya justru akhirnya bertekad menjadi abdi beliau. Makanya arca pengawal di altar beliau tampak berpakaian adat Bali di Banyuwangi.

Leluhur laki-laki Tionghoa disebut Kongco, inilah yang kemudian diserap menjadi Konco, untuk menyebut tempat ibadahnya. Jadi di Bali dan Lombok istilah klenteng tidak sepopuler di Jawa, lebih familiar istilah konco. Penyebutannya bukan kanca (konco atau teman dalam bahasa Jawa) tapi o yang depan dibaca agak seperti u, co nya.mirip ucapan “taoco” Rasanya cuma lidah Bali dan Lombok yang bisa :).

Informasi tambahan bagi yang pernah sembahyang atau main ke Sam Poo Kong (Klenteng Gedong Batu Semarang), apakah tahu artinya?
Kong itu menunjukkan “tempat” sama seperti Bio, Kiong, Sie, Yuan, Teng, Tang, Miao dll yang dalam bahasa Indonesia semua secara sederhana diterjemahkan kuil atau wihara. Sam (tiga) Poo (permata/ratana/ratna-sanskrit/pali) Kong (wihara) jadi dapat diterjemahkan: Wihara Tri Ratna (Wihara Tiga Permata): Buddha, Dharma, dan Sangha.

Jadi setelah anda memahami panjang lebar riwayat klenteng di atas, jangan rancu dengan rumah ibadah Konghucu yang secara khas disebut Li thang/Lidang. Ciri khas paling utama yang membedakan Li thang dengan Kelenteng adalah, di Li thang semestinya tidak ada arca dewa-dewa dan bodhisattva ataupun buddha, yang dipuja dan di hormati hanya guru/nabi Kong Hu Cu. Sedangkan Kelenteng (Chinese Buddhism) yang biasanya di Indonesia dibawah pembinaan Majelis Tri Dharma pada altarnya terdapat aneka macam patung buddha, bodhisattva dan dewa-dewa (termasuk dewa-dewa yang dihormati penganut Taoisme). Pengertian ini penting juga untuk membedakan Kwan im teng (kelenteng) dengan Li thang/Lidang.
__________________________
Oleh: Eddy Setiawan (Peneliti IN)

Lotus Sutra

0
Lotus sutra atau sutra teratai atau saddharma pundarika sutra adalah sutra penting dalam Buddhdharma Asia Timur.
Agama Buddha di Tiongkok, Korea, dan Jepang menempatkan Lotus Sutra atau Sutra Teratai sebagai salah satu sutra terpenting.

sutra-teratai_compress < Klik untuk mengunduh E-Book/PDF Lotus Sutra.

Silahkan diunduh Sutra Teratai atau Saddharma Pundarika Sutra (versi Bahasa Indonesia) suntingan Henry T.

Sutra Teratai adalah salah satu sutra terpenting saat penyebaran Buddhis di Asia Timur yang demikian pesat kala itu. Masa dimana teknologi cetak belum lahir, sehingga salah satu kebajikan yang dapat dilakukan kaum terpelajar adalah menyalin isi Tripitaka, salah satunya Lotus Sutra untuk disebarluaskan.

Unduh: Kitab Sanghyang Kamahayanikan

1

Saṅ Hyaṅ Kamahāyānikan final < klik untuk mengunduh file E-BOOK/PDF

Inilah Sang Hyang Kamahayanikan yang kuajarkan kepadamu keluarga Tathagata, Putra Jina, keutamaan Sang Hyang Mahayanalah yang hendak kuajarkan kepadamu. (1)

Sang Guru penulis teks ini mengatakan bahwa sesungguhnya yang hendak diajarkan adalah Mahayana. Ada tiga tema di dalam satu slokha ini: yang pertama motivasi mengajar, yang kedua kualifikasi pendengar ajaran, dan yang ketiga tema ajaran. Sang Hyang Kamahayanikan dalam bahasa Kawi, dalam bahasa Indonesia adalah Mahayana Suci. Teks ini dibuka dengan singkat mengacu pada tiga pengertian: yang pertama adalah motivasi sang Guru mengajarkan Mahayana. Apakah Mahayana? Mahayana adalah jalan besar atau yana besar (maha adalah agung, yana adalah jalan) artinya yang akan diajarkan ini adalah tema Dharma yang memungkinkan untuk membawa kebahagiaan bagi dirinya sendiri juga membawa kebahagiaan bagi orang lain. Ajaran yang memiliki karakteristik seperti itu disebut ajaran Mahayana. Bukan hanya dalam ungkapan kalimatnya saja, tetapi pemahaman yang mengikuti ungkapan kalimat itu. Setelah seseorang mendengarkan ajaran Mahayana akan membawa pengertian-pengertian berupa keinginan untuk membawa kebahagiaan bagi diri sendiri dan keinginan-keinginan secara langsung atau tidak langsung membawa kebahagiaan bagi makhluk lain. Ajaran yang karakteristiknya demikian adalah Mahayana, yang menjadi motivasi dari sang Guru untuk mengajarkan kepada siswanya.

Yang kedua mengenai siswa. Siswa di sini disebut Tathagata Kula dalam bahasa Sanskerta atau keluarga Tathagata dalam bahasa Indonesia. Siapakah keluarga Tathagata? Dalam sutra Mahayana dikatakan bahwa setiap Buddha memiliki Kula, bahasa Sanskerta ini diadopsi ke dalam bahasa Indonesia seperti yang sering kita dengar “Kula Warga”, kula artinya keluarga, warga artinya anggota. Jadi kata Kula Warga dalam bahasa Indonesia sebetulnya bersumber dari bahasa Sanskerta. Tathagata Kula adalah keluarga Tathagata. Oleh karena Tathagata memiliki kualifikasi tertentu yaitu makhluk samsara yang telah bangun, yang disebut sebagai Buddha, yang mencapai pencerahan atas daya upayanya sendiri, yang mencapai realisasi itu ketika tidak ada Pratyeka dan Sravaka, itulah seorang Tathagata. Tathagata tidak memiliki ayah dan tidak memiliki ibu karena ayah dari para Tathagata dikatakan adalah para Jina; sementara ibu dari para Tathagata adalah Prajnaparamita. Jadi ayah-ibu para Tathagata adalah predikat spiritual yang terdapat di Mahayana yang disebut sebagai Paramita. Walaupun seorang Tathagata seperti itu keadaannya, ada orang yang kemudian akan menjadi Tathagata juga, orang-orang tersebut disebut (dalam kalimat berikutnya yaitu) Putra Jina, dalam bahasa Sanskrit namanya Jinaputra. Mengapa Jinaputra? Karena ia nanti akan menjadi Jina juga. Siswa memiliki kualifikasi telah mengembangkan aspirasi untuk menjadi Buddha, untuk menjadi Jina, untuk menjadi Tathagata.

Lalu yang ketiga: Keutamaan Sang Hyang Mahayanalah yang hendak kuajarkan kepadamu. Ini mengenai kualifikasi ajaran. Jadi motivasinya Mahayana, siswanya beraspirasi Mahayana, lalu yang diajarkan adalah ajaran Mahayana yaitu keunggulan Mahayana dan keluhuran Mahayana. Bilamana melalui proses ini yaitu guru yang bermotivasi Mahayana, siswa yang bermotivasi Mahayana, lalu Dharma yang juga Mahayana; maka akan menghasilkan realisasi Mahayana.

Sang Hyang Kamahayanikan adalah semacam transkripsi dari sebuah pengajaran lisan guru di suatu tempat pada zaman dahulu di abad kesembilan, yang kemudian ditulis oleh siswa yang mendengarkannya sehingga pada bagian tertentu ada ungkapan permohonan ajaran dan ada ajaran-ajaran yang menjelaskannya.

____________________
Oleh: UP. Surya Mahendra

Diskusi Terbatas Menata Buddhis Indonesia

0

Peluncuran Institut Nagarjuna

0

Launching Institut Nagarjuna

0