Blog Page 4

Wang Wei, Penyair Kekosongan Buddhadharma

0
Sarjana yang Bersandar dan Menyaksikan Awan yang Membumbung, sebuah ilustrasi dari puisi karya Wang Wei (Sumber: JSTOR)
Puisi-puisi karya Wang Wei sangat terinspirasi dari ajaran Buddha. Karyanya memengaruhi seni di Tiongkok. Bahkan dunia.

Dengan fokus hampir sepenuhnya pada alam, penyair Dinasti Tang Wang Wei mengungkapkan filsafat aliran Chan. Wang Wei (699–751 M) sering disebut sebagai “Buddha para Penyair.” Ajakan yang sederhana tentang gunung yang hampa, cahaya yang dipantulkan, dan gema suara menghiasi puisi-puisinya. Karya-karyanya hampir sepenuhnya berpusat pada alam. Menurut Rafal Stepien, seorang ahli literatur dan filsafat Tiongkok. Dorongan puitis Wang muncul dari keterlibatan mendalam dengan gagasan-gagasan Buddhadharma. Khususnya konsep kekosongan (emptiness).

Perspektif Wang Wei

Kekosongan muncul dari “pengamatan Buddha bahwa tidak ada diri yang inheren, tidak berubah, dan mandiri.” Dengan kata lain, diri itu hampa karena sepenuhnya dikondisikan oleh kekuatan eksternal. Tidak ada “kamu” atau “saya” dalam ruang hampa. Aliran Buddhadharma Wang sendiri, yang dikenal sebagai Chan (atau Zen, sebagaimana lebih dikenal di Barat). Memperluas gagasan ini melampaui diri, hingga mencakup seluruh dunia yang dapat dirasakan secara keseluruhan. Dalam pandangan ini, semua fenomena yang terjadi dalam realitas. Dari air yang mengalir dan sinar matahari hingga kicauan burung adalah hampa.

Alih-alih terlibat dalam ekspresi diri dan kata-kata berlebihan. Wang Wei memilih ketiadaan dan kesederhanaan.

Bagaimana Wang Wei mengubah keyakinan religio-filosofis ini menjadi puisi? Jawabannya terletak pada keheningan. Stepien menjelaskan bahwa aliran Chan “menelusuri asal-usulnya pada ‘Khotbah Bunga’ Buddha di Gunung Vulture Peak. Di mana Buddha, alih-alih berkotbah, hanya mengangkat sebatang bunga.” Sebagai tanggapan atas gerakan ini, salah satu muridnya tersenyum, “dengan demikian mengakui pemahamannya atas ajaran ini di luar ranah ucapan.” Kemerdekaan dari bahasa kemudian menjadi inti utama Buddhadharma Chan.

Ketiadaan dan Kesederhanaan sebagai Mahkota

Stepien mengutip kritikus Wai-lim Yip yang secara tepat menyebut Wang sebagai “penyair paling sunyi dalam sejarah sastra Tiongkok dan bahkan dalam seluruh sejarah sastra.” Alih-alih terlibat dalam ekspresi diri dan kata-kata berlebihan, Wang Wei memilih ketiadaan dan kesederhanaan. Dengan cara ini, penggunaan citra alamnya mendorong “pendiaman diri.” Pertimbangkan terjemahan puisi “Kandang Rusa” (Deer Enclosure), yang ditulis pada suatu masa di abad kedelapan:

Gunung hampa, tak seorang pun terlihat.
Hanya terdengar gema percakapan manusia.
Cahaya pantulan memasuki hutan yang dalam
Dan bersinar kembali di atas lumut biru-hijau.

Seperti yang ditunjukkan Stepien, puisi ini mengungkapkan diri yang “hadir hanya dalam pengertian bahwa ia menjadi saksi tanpa-ego terhadap manifestasi fenomena yang sama-sama hampa di sekitarnya.” Berbeda dengan filsafat Barat, yang menurut Stepien “sejak awal ditandai oleh pemisahan” antara dunia duniawi dan yang transendental, Buddhadharma Chan “menyatukan gagasan yang setara (Samsara dan Nirwana, masing-masing)” sehingga memungkinkan perpaduan antara diri dan dunia alami—melalui “konsep kekosongan” itu sendiri.

Hubungan antara Buddhisme Chan dan puisi dalam karya Wang Wei menggambarkan keterkaitan kuat antara filsafat, agama, dan sastra selama Dinasti Tang. Gema pengaruhnya meluas jauh melampaui Tiongkok. Dari penyair modernis Ezra Pound hingga penulis aliran Beat Kenneth Rexroth dan ekolog Gary Snyder, paradoks keheningan Wang Wei telah memengaruhi cara penyair lain memandang dan menulis tentang dunia alami.

Catatan Redaksi: Artikel ini telah diperbarui untuk menggunakan nama lengkap Wang Wei sepanjang teks.

Artikel ini adalah hasil terjemahan dari tulisan Ena Alvarado, Wang Wei, Poet of Buddhist Emptiness, JSTOR, 17 Oktober 2021.

Nanzoin Fukuoka Terapkan Biaya Masuk Turis: Overtourism

0
Nanzoin Fukuoka mulai terapkan tarif tiket masuk khusu bagi wisatawan asing sebagai respon atas overtourism di Jepang
Overtourism di Jepang mendorong vihara-vihara atau kuil-kuil menaikkan tiket masuk terhadap wisatawan asing sebagai respon.

Sebuah kuil Buddha terkenal di Prefektur Fukuoka, Jepang, tengah menjadi sorotan setelah mulai menerapkan biaya masuk khusus bagi turis mancanegara. Kebijakan ini diambil karena meningkatnya kasus perilaku tidak sopan yang merusak lingkungan vihara Nanzoin Fukuoka ini.

Nanzoin Fukuoka dan Patung Nehanzo yang Ikonik

Nanzoin, terletak di Sasaguri, Fukuoka, adalah kuil Buddha aliran Shingon yang menyimpan patung Buddha berbaring (nehanzo) terbesar dari perunggu di dunia. Patung raksasa yang dibangun tahun 1995 ini menjadi magnet wisatawan, terutama dengan melonjaknya jumlah kunjungan ke Jepang dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, popularitas itu membawa masalah. Seorang reporter NTV menemukan adanya kerusakan: sepotong batu pilar patah karena digunakan anak-anak turis untuk memanjat demi berfoto. Kasus ini bukan satu-satunya. Pengurus kuil melaporkan berbagai pelanggaran etika yang terus berulang.

Biaya Masuk 300 Yen untuk Turis Asing 

Mulai akhir Mei, Nanzoin menerapkan biaya masuk 300 yen (sekitar USD 2) khusus untuk turis asing. Yang dikecualikan adalah: Warga negara Jepang dan Warga asing yang tinggal di Jepang.

Pendapatan dari tiket akan digunakan untuk pembersihan area vihara, perbaikan kerusakan, serta peningkatan keamanan. Belum ada penjelasan detail mengenai sistem verifikasi status pengunjung di pintu masuk.

Kebijakan dua tarif ini menuai reaksi beragam. Beberapa turis asing yang diwawancarai merasa tarif seharusnya seragam bagi semua. Namun pihak vihara menilai keputusan tersebut diperlukan mengingat biaya yang harus mereka tanggung akibat perilaku sebagian kecil pengunjung.

Fenomena Overtourism di Jepang

Kasus di Nanzoin bukanlah satu-satunya. Kushida Shrine di Hakata melaporkan gangguan yang sama: pengunjung berbicara keras, merusak fasilitas, hingga mengambil foto tanpa menghormati privasi orang lain.

Secara nasional, Jepang mencatat lebih dari 3,3 juta wisatawan pada Juni lalu—angka yang terus meningkat berkat lonjakan wisata dari Amerika Serikat dan kembalinya turis Tiongkok. Namun peningkatan ini diiringi dengan masalah klasik overtourism yang mulai mengganggu masyarakat lokal.

Beberapa tempat bahkan mengambil langkah drastis: Watadzumi Shrine di Tsushima menutup akses bagi semua kecuali umat setempat.

Kepala Kodaiji di Kyoto menyatakan “mustahil hidup berdampingan dengan turis yang tidak tertib”, dan mendesak pemerintah memberikan edukasi wajib sebelum wisatawan masuk Jepang.

Overtourism Adalah Masalah Global

Perilaku tak sopan wisatawan bukan problem eksklusif Jepang. Di Eropa, protes terhadap turis sudah menggunakan pistol air. Di Meksiko, kemarahan warga bahkan berujung kekerasan karena wisata mengerek harga hidup.

Meskipun warga Jepang belum turun ke jalan, para pengamat memperingatkan bahwa ketidakpuasan dapat meningkat seiring memburuknya kondisi ekonomi.

Kasus Nanzoin menjadi cerminan dilema besar yang dihadapi banyak negara: bagaimana menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi pariwisata dan kenyamanan masyarakat lokal serta kelestarian situs bersejarah. Dengan semakin banyak wisatawan yang datang, penting bagi pengunjung untuk menjaga perilaku agar Jepang tetap menjadi destinasi yang ramah dan terbuka bagi semua.

Sumber: Jay Allen, Unseen Japan

Buddhadharma Asia Timur di Afrika: Refleksi Minimnya Lokalitas

0
Buddhadharma Asia Timur di Afrika: Sebuah Refleksi atas Minimnya Lokalitas
Buddhadhara Asia Timur di Afrika: Sebuah Refleksi atas Minimnya Lokalitas

Beberapa waktu lalu, saya membaca artikel ilmiah cukup menarik dari Ugo Dessi. Bukan artikel baru, karena ia sudah terbit pada 2022 lalu. Judulnya Trajectories of East Asian Buddhism in South Africa: a comparative perspective. Dari artikel itu, muncul pertanyaan bagaimana Buddhadharma Asia Timur sebagai agama yang lahir di Asia. Dengan akar filosofis, estetika, dan praktik yang begitu kental beradaptasi ketika tiba di bumi Afrika Selatan? Sebuah wilayah yang memiliki lanskap spiritual, sejarah kolonial, dan dinamika sosial yang sangat berbeda. 

Dessi dalam artikel yang dimuat Journal of Global Buddhism tersebut. Membandingkan tiga bentuk Buddhadharma Asia Timur yang aktif di Afrika Selatan saat ini. Pertama, Dharma Centre, yang berakar pada tradisi Zen. Kedua, Soka Gakkai International (SGI) dari Jepang. Ketiga, Foguangshan, gerakan Buddhis Tiongkok yang menggabungkan aliran Chan dan Pure Land. Menariknya, meski semua menyebarkan ajaran Buddha, cara mereka beroperasi, berinteraksi dengan masyarakat lokal, dan menghadirkan ajaran tersebut ternyata sangat berbeda.

Titik Temu Buddhadharma Asia Timur dan Afrika

Salah satu temuan paling mengejutkan adalah rendahnya tingkat hibridisasi—artinya, ketiga kelompok ini hampir tidak mengadaptasi ajaran atau praktik mereka agar menyatu dengan budaya atau tradisi keagamaan Afrika Selatan. Dessi (2022: 451) mencatat bahwa ini bukan sekadar soal “modernisme Buddhis”, melainkan hasil dari beberapa faktor: fokus internal pada praktik tertentu, jarak budaya yang lebar antara Asia Timur dan Afrika, serta sejarah Buddhadharm yang masih sangat muda di negeri itu.

Lebih dari itu, ketiganya tampak tidak tertarik pada gerakan “Buddhadharma non-sektarian”—sebuah pendekatan yang justru populer di banyak negara Barat, di mana batas aliran diperlonggar demi solidaritas antarpemeluk. Di sini, identitas sektarian justru menjadi tembok: SGI dan Foguangshan misalnya, sangat menjaga kemurnian tradisi masing-masing.

Yang juga mencolok adalah minimnya interaksi dengan agama-agama lokal seperti tradisi spiritual Afrika atau bahkan gereja-gereja Kristen yang dominan. Menariknya, Dessì (2022, hlm. 451) menunjukkan bahwa ini bukan hanya soal sikap eksklusif dari pihak Buddhis, tetapi juga karena resistensi dari komunitas agama lokal yang enggan terlibat dialog lintas keyakinan.

Baca juga: Jejak Sunyi Shaolin Afrika

Titik Beda: Demokrasi, Struktur, dan Warisan Apartheid

Namun, di balik kesamaan tersebut, ada perbedaan struktural dan filosofis yang signifikan. Dharma Centre, misalnya, justru menonjol karena pendekatannya yang lebih demokratis—sesuatu yang sangat relevan di Afrika Selatan, negara yang masih menyembuhkan luka Apartheid. Struktur kepemimpinan di Dharma Centre lebih partisipatif, sementara SGI dan Foguangshan tetap mempertahankan hierarki yang ketat, mirip dengan struktur organisasi di negara asal mereka (Dessi 2022: 451).

Bagi saya, ini mengangkat pertanyaan etis: apakah model kepemimpinan yang sangat hierarkis masih sesuai di konteks pasca-kolonial yang sangat sensitif terhadap ketimpangan kekuasaan? Atau justru, apakah ketegasan struktur itu justru memberi rasa stabilitas bagi para pencari spiritual?

Globalisasi yang Tak Setara

Dessì juga menunjukkan bahwa penyebaran Buddhadharma Asia Timur di Afrika Selatan terjadi melalui empat saluran utama: misi resmi, migrasi komunitas Asia, mobilitas individu (seperti guru atau relawan), dan mediatisasi—terutama popularitas Buddhadharma di kalangan kelas menengah urban (Dessi 2022: 452). Namun, meski menyebar secara global, kehadiran mereka tetap kecil: diperkirakan hanya 2.000–3.000 orang dari total populasi 59 juta jiwa (Dessi 2022: 452).

Yang lebih penting, pola globalisasi ini cenderung satu arah: dari Asia ke Afrika, tanpa banyak ruang untuk lokalitas. Alih-alih menciptakan bentuk baru yang “Afrika Selatan”, ketiga gerakan ini cenderung mengekspor budaya dan praktik aslinya apa adanya. Dalam istilah akademik, ini bukan proses glokalisasi (global + lokal), melainkan bentuk homogenisasi budaya (Dessi 2022: 453).

Meski begitu, Dessì tidak menutup kemungkinan adanya benih-benih perubahan. Beberapa praktisi individu mulai bereksperimen: menggabungkan meditasi Zen dengan lagu-lagu tradisional, atau mengaitkan konsep karma dengan nilai-nilai komunitas setempat. Namun, apakah ini awal dari “South-Africanization” Buddhadharma Asia Timur, atau hanya anomali kecil yang tak bertahan lama? Waktu yang akan menjawab.

Mempertanyakan Pilihan Kausalya 

Sebagai seseorang yang memandang penyebaran dharma melalui lensa kausalya—kebijaksanaan dalam memilih metode sesuai konteks sosial dan budaya—saya tak bisa tak bertanya: di mana kausalya ini dalam konteks Afrika Selatan? Apakah ketiga gerakan tersebut terlalu fokus pada “kesetiaan pada tradisi” hingga lupa bahwa ajaran Buddha pada dasarnya selalu bersifat kontekstual? Selalu beradaptasi sehingga kita sekarang bisa menikmati keindahan dalam keberagaman? ada Chinese Buddhism, Japanese Buddhism, Javanese Buddhism, bahkan sedang dalam proses American dan Australian Buddhism.

Artikel Dessi mengingatkan kita bahwa globalisasi agama bukanlah proses netral. Ia membawa serta budaya, kekuasaan, dan asumsi-asumsi yang tak selalu cocok dengan tanah baru. Dan mungkin, ke depannya, tantangan terbesar bagi Buddhadharma Asia Timur di Afrika Selatan bukanlah bagaimana menjangkau lebih banyak orang—tapi bagaimana menjadi bagian dari dunia yang mereka masuki, bukan sekadar tamu yang datang membawa koper penuh doktrin.@Eddy Setiawan

Sumber: Dessi, U 2022, ‘Trajectories of East Asian Buddhism in South Africa:                    a comparative perspective’, Journal of Global Buddhism, Vol. 23, No. 2, pp. 435–455.

Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh: Singa Emas yang Terlupakan

1
Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh Singa Emas yang Terlupakan
Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh dulu bernama Kim Sae Bio. Singa Emas yang terlupakan.

Sebuah artikel ilmiah di jurnal pendidikan sejarah bernama Widya Winayata menarik perhatian saya. Terutama karena artikel yang ditulis oleh Maharani, Purnawati & Martayana (2025) tersebut mengupas sebuah vihara yang saya kenal sejak kanak-kanak. Konco Blahbatuh, demikian keluarga kami biasa menyebutnya. Sebuah vihara yang letaknya paling unik, yakni di posisi bawah sebuah jembatan kuno era kolonial dan dekat aliran sungai. Nama resminya Vihara Amurva Bhumi.

Atap vihara ini hampir sejajar dengan jalanan, yang sekarang sudah lebar dan jembatannya pun baru. Hal lain yang sulit dilupakan adalah, kuliner tahu yang khas. Jika suata hari anda berkunjung, tentu wajib mencobanya. Tahu tersebut biasa kami beli setelah sembahyang ce it atau cap go. Atau orang Tionghoa Bali menyebutnya Tilem dan Purnama, mengikut istilah setempat. Uniknya, meski sama-sama menggunakan istilah Purnama dan Tilem, tapi tak jarang terdapat perbedaan waktu 1 hari antara umat Hindu dan Buddha.

Kembali ke soal artikel ilmiahnya. Ketiga penulis menyajikan artikel dengan judul Menyongsong Harmoni: Pergulatan Sejarah, Akulturasi, dan Potensi Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh Gianyar sebagai Sumber Belajar Sejarah SMA. Para penulis memberikan gambaran penting tentang dinamika identitas keagamaan komunitas Tionghoa di Bali. Penelitian ini mengungkap bahwa Vihara Amurva Bhumi, berakar pada keberadaan Kim Sae Bio atau Bio Singa Mas yang waktu pendiriannya tidak diketahui. Diperkirakan sekira 1800-an, dengan dasar penemuan bong pay (nisan) tertua di pemakaman komunitas Tionghoa terdekat. Baru pada era Orde Baru namanya diganti menjadi Vihara Amurva Bhumi (Maharani, Purnawati, & Martayana, 2025: 46).

Kritik terhadap Artikel terkait Vihara Amurva Bhumi

Sayangnya para penulis tidak mencoba mengeksplorasi lebih jauh mengenai Singa Emas. Padahal Singa Emas adalah salah satu metafora paling terkenal dari aliran Huayan (Avataṃsaka).  Salah satu aliran Agama Buddha dengan sistem filsafat paling kompleks di Tiongkok, yang sudah berkembang sejak masa Dinasti Tang (618-907). Aliran ini berakar pada Avataṃsaka-sutra yang menekankan keterjalinan total seluruh fenomena (dharmadhatu), melalui prinsip saling-penembusan dan saling-mencakup tanpa hambatan.

Puncak perumusan intelektualnya terjadi pada masa Bhiksu Fa-tsang (643–712). Patriark ketiga Huayan, yang berperan sebagai penasihat keagamaan istana dan kemudian ditetapkan sebagai Guoshi (Guru Negara). Tak heran karena salah seorang muridnya adalah Wu Zetian. Satu-satunya perempuan yang menjadi Kaisar penuh di Tiongkok kuno, dan pendiri Dinasti Zhou (690–705). Relasi tersebut menyebabkan Agama Buddha memiliki patronase politik yang sangat kuat. Fa-tsang memanfaatkannya untuk menyajikan penjelasan sistematik tentang doktrin Huayan.

Di bawah perlindungan Wu Zetian, Bhiksu Fa-tsang menyusun sejumlah karya penting, termasuk Jin shizi zhang (Bab tentang Singa Emas). Ia menggunakan patung singa emas  sebagai ilustrasi hubungan antara esensi dan bentuk. Sekaligus sebagai pintu masuk untuk memahami kosmologi Huayan lebih lanjut, seperti metafora Jaring Permata Indra. Pertemuan intelektual antara Fa-tsang dan Wu Zetian ini menandai masa ketika Huayan mencapai status resmi dan berkembang menjadi salah satu aliran filosafat paling berpengaruh dalam sejarah Buddhisme Tiongkok.

Kim Sae Bio memiliki Makna Filosofis Mendalam

Maka, pendiri atau pemberi nama Kim Sae Bio tentu bukanlah orang sembarangan. Kemungkinan seorang intelektual Buddhis dari aliran Huayan. Bisa saja seorang bhiksu terpelajar atau cendikiawan Buddhis awam. Alasannya, karena nama Singa Emas sangat langka ditemukan sebagai nama bio. Umumnya, nama tempat ibadah Buddhisme Tionghoa, dikaitkan dengan dewata utama atau tuan rumah. Misal Kwan Im Teng jika tuan rumahnya Bodhisattva Avalokitesvara. Atau Ho Tek TJeng Sin kalau tuan rumahnya dewa bumi, sebagaimana tuan rumah di Bio Singa Emas.

Para penulis tampaknya lebih tertarik pada pemisahan antara dhammasala di satu sisi sebagai tempat ibadah Buddha Theravada. Dan baktisala di sisi lain sebagai tempat pemujaan terhadap Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi). Penelitian ini menekankan bahwa transformasi dari bio menjadi vihara terutama dipicu oleh kebijakan Orde Baru yang menuntut komunitas Tionghoa memilih salah satu dari lima agama resmi, sehingga mereka memilih agama Buddha sebagai identitas formal, sambil tetap mempertahankan ritual tradisional mereka (Maharani, Purnawati, & Martayana, 2025: 44–45).

Akulturasi, menurut penulis, terwujud dalam arsitektur, ritual (seperti pelaksanaan mecaru ala Bali dalam perayaan Sejit), bentuk persembahan (mirip gebogan dan penggunaan canang sari), serta kesenian (gamelan oleh Sekaa Gong Gita Pertiwi). Vihara ini pun diusulkan sebagai sumber belajar sejarah SMA, terutama untuk materi pemerintahan Orde Baru dan pengembangan Profil Pelajar Pancasila (Maharani, Purnawati, & Martayana, 2025: 52–55).

Akulturasi Bukanlah Fenomena Modern Indonesia

Meskipun temuan Maharani dkk. (2025) akurat dalam menggambarkan konteks politik Orde Baru, narasi akulturasi yang mereka sajikan berisiko mendehistorisasi akar agama Buddha itu sendiri. Mereka seolah mengandaikan bahwa “akulturasi antara agama Buddha dan tradisi Tionghoa” baru terjadi di Indonesia, bahkan baru dimulai pada abad ke-20 akibat tekanan politik Orde Baru.

Padahal, seperti dijelaskan secara komprehensif oleh Choe & Son (2023) dalam Protocols of Conversion: Indigenous Gods and Eminent Monks in East Asian Buddhism, proses integrasi antara ajaran Buddha dan dewa-dewa lokal telah berlangsung sejak abad pertama Masehi di Tiongkok kuno. Ketika Buddhisme memasuki Tiongkok, ajaran ini tidak hadir sebagai sistem doktrinal yang “murni” dan terisolasi, melainkan segera berdialog dengan kosmologi lokal—termasuk pemujaan leluhur, dewa bumi, dan roh alam. Mengembangkan kosmologi Buddhis yang khas Tiongkok.

Dewa sebagai Pelindung Dharma

Salah satu pola kunci dalam proses ini, menurut Choe & Son, adalah bahwa dewa-dewa lokal memperoleh legitimasi Buddhis ketika mereka berinteraksi erat dengan para bhiksu agung. Catatan mengenai para bhiksu agung ini diantaranya terdokumentasi dalam Gaoseng zhuan (abad ke-6) dan Xu Gaoseng zhuan (abad ke-7). Dalam kedua karya tersebut, dewa-dewa lokal digambarkan meminta sila Buddhis (Choe & Son, 2023: 2). Mereka bahkan disebut jieshen (dewa penerima sila) dan berperan sebagai dharmapala atau pelindung Dharma. Bukan sebagai entitas “non-Buddhis” yang kemudian ditoleransi, melainkan sebagai bagian integral dari tatanan Buddhis yang tersinifikasi (Choe & Son, 2023: 5).

Fakta historis ini menunjukkan bahwa, apa yang orang Indonesia sebut sebagai kelenteng. Sejak awal bukanlah “tempat ibadah non-agama” atau “tempat ibadah tiga agama” yang kemudian di-Buddha-kan di Indonesia. Melainkan manifestasi dari Chinese Buddhism—bentuk Mahayana yang telah disinifikasi dan secara alami menyerap praktik agama rakyat Tiongkok. Mentranformasi dan mengintegrasikannya dengan pemujaan terhadap Bodhisattva (seperti Guanyin, Ti Zhang Wang, Sangharama dan sebagainya), Mahasatva dan dewa-dewa. Dengan kata lain, Kim Sae Bio sejak awal sangat jelas karakteristik Buddhisnya.

Narasi Orde Baru dan Simplifikasi Populer: Buddhanisasi

Yang terjadi pada masa Orde Baru bukanlah “awal akulturasi”, melainkan restrukturisasi identitas keagamaan dalam kerangka negara modern. Komunitas Tionghoa Blahbatuh tidak meninggalkan keyakinan mereka. Responnya adalah adaptasi, dengan menyesuaikan bentuk luar keagamaan sesuai tuntutan aturan. Dari yang semula lebih bersifat Mahayana yang kuat karakteristik Tionghoanya, ke Theravada yang lebih dapat diterima penguasa saat itu. Namun, inti religius mereka, termasuk pemujaan Hok Tek Ceng Sin, dan tata cara sembahyangnya tidak berubah.

Sayangnya, narasi seperti yang disajikan Maharani, Purnawati & Martayana (2025)—dan memang sudah menjadi narasi umum di Indonesia—cenderung menyederhanakan kompleksitas ini. Dengan menempatkan Kim Sae Bio sebagai “Tionghoa” lalu Agama Buddha masuk ketika masa orde baru. Padahal, seperti diingatkan oleh Choe & Son (2023), “apa yang disebut sebagai ‘kepercayaan asli’ merupakan sumber bagi inovasi dan penggabungan gagasan baru dalam sejarah Buddhisme Asia Timur” (Choe & Son, 2023: 9). Dengan kata lain, difusi unsur lokal  ke dalam Agama Buddha adalah bagian esensial dari pola Agama Buddha berakar di suatu wilayah.

Baca juga: Kelenteng: Tempat Ibadah Agama Buddha Tradisi Tionghoa

Mengabaikan lapisan sejarah ini—yaitu sinifikasi di Tiongkok (abad ke-1–7 M) dan transplantasi Chinese Buddhism ke Nusantara (sejak abad ke-15)—akan menghasilkan pemahaman yang simplistis dan ahistoris. Maka, meskipun transformasi pada masa Orde Baru penting untuk dipahami—terutama dalam konteks pendidikan sejarah SMA—ia hanya lapisan terakhir dari proses akulturasi yang telah berlangsung selama ribuan tahun di Tiongkok kuno.

Jangan Lupakan Akar Sejarah 

Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh memang layak diapresiasi sebagai ruang harmoni antarbudaya. Namun, agar apresiasi itu tidak berubah menjadi pengaburan sejarah, kita perlu menempatkannya dalam konteks sejarah agama Buddha global.

Kelenteng bukanlah “tempat ibadah non-resmi atau sekedar tradisi” yang kemudian disesuaikan. Ia adalah bagian sah dan otentik dari tradisi Buddhisme Asia Timur. Tradisi yang sejak awal telah mempraktikkan inklusivitas, dialog, dan transformasi kreatif. Dan pada akhirnya, seperti ditunjukkan oleh para bhiksu ternama dalam Xu Gaoseng zhuan, kehadiran dewa lokal bukanlah ancaman terhadap Dharma, melainkan bukti bahwa Dharma mampu menyerap, mentransformasi, dan mengembangkan pemaknaan.@Eddy Setiawan.

Bacaan Lanjutan

Choe, J & Son, J 2023, ‘Protocols of Conversion: Indigenous Gods and Eminent Monks in East Asian Buddhism,’ Religions, Vol. 14, No. 7, 838. DOI: https://doi.org/10.3390/rel14070838.

Maharani, PEA; Purnawati, DMO; Martayana, IPHM 2025, ‘Menyongsong Harmoni: Pergulatan Sejarah, Akulturasi, dan Potensi Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh Gianyar sebagai Sumber Belajar Sejarah SMA,’ Jurnal Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah, Vol. 12, No. 1, pp 39–55.

Vihara Nyanasamvara Bontang Berdiri: Penantian 25 Tahun

0
Penantian 25 Tahun Umat Buddha Bontang terjawab dengan Berdirinya Secara Resmi Vihara Nyanasamvara
Penantian panjang umat Buddha untuk memiliki sebuah vihara yang proper akhirnya terjawab. Setelah Penantian 25 tahun, Vihara Nyanasamvara resmi berdiri di Bontang

Senin, 12 Mei 2025 menjadi hari yang bersejarah bagi umat Buddha di Kota Bontang. Untuk pertama kalinya, setelah 25 tahun penantian panjang. Umat Buddha akhirnya dapat merayakan Waisak di rumah ibadahnya sendiri: Vihara Nyanasamvara. Sebuah tempat ibadah yang kini berdiri megah di Kompleks Bumi Nusantara Permai. Momen ini disambut haru oleh puluhan umat yang sejak pagi berkumpul dalam puja bakti, melantunkan Paritta di tengah rintik hujan yang mengguyur kota industri tersebut.

Media lokal banyak menulisnya sebagai Vihara Nyanasamvara, karena ketidakpahaman terhadap diakritik atau simbol pada istilah-istilah dalam bahasa Pali. Jika konsisten dengan tata bahasa Pali, seharusnya ditulis Nyanasangvara, sesuai bunyi apabila simbol diakritiknya dibaca dengan benar. Atau diserap ke dalam bahasa Indonesia sebagai Nyanasamvara. Sebagaimana samsara yang seharusnya dibaca sangsara, karena dalam bahasa Pali, ada titik di bawah huruf m yang berarti “ng”. Tapi di Indonesia kata samsara sudah diterima dengan baik.

Jalan Panjang Mendirikan Vihara Nyanasamvara

Ketua Yayasan Nyanasamvara, Sonny Lesmana—sosok yang sejak awal memprakarsai pembangunan vihara—tak kuasa menahan rasa syukur. Ia mengingat perjalanan panjang yang dipenuhi penolakan, keterbatasan, keringat, dan kekecewaan sebelum vihara ini akhirnya berdiri. “Ini mimpi yang sangat lama. Meski dengan segala keterbatasan, hari ini kita melangkah ke depan,” ujarnya usai rangkaian Waisak perdana. Perjuangan panjang umat Buddha Bontang sejalan dengan pengalaman sejumlah kelompok agama minoritas lain di berbagai daerah yang juga menghadapi proses panjang dalam memperoleh izin pembangunan rumah ibadah—sebuah ironi yang terus menjadi pembelajaran bagi praktik toleransi di Indonesia. Apalagi dengan dasar negara Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang juga bersumber dari karya Buddhis.

Pada perayaan Waisak perdananya, Vihara Nyanamsavara menggelar empat rangkaian ritual: puja bakti, pradaksina, fangsen (pelepasan makhluk hidup), serta memandikan rupang Buddha sebagai simbol penyucian diri. Meski belum dipandu Bhikkhu—karena keterbatasan waktu dan kesiapan—ritual berlangsung khidmat dipimpin Rendy H. Kuncoro. Umat berharap momentum ini menjadi awal konsolidasi spiritual sekaligus penguatan kehidupan beragama yang inklusif di Bontang.

Selain menjadi tempat ibadah, Vihara Nyanamsavara tengah dikembangkan sebagai kawasan wisata religi dan agro. Sejumlah proyek monumental sedang disiapkan: pagoda delapan lantai setinggi 47 meter, patung Buddha tidur sepanjang 8 meter, serta Pilar Asoka yang disebut akan menjadi salah satu yang tertinggi di dunia dengan total ketinggian 25 meter. Menariknya, elemen artistik utama vihara dirancang oleh seniman Bali, I Nyoman Alim Mustafa—pemahat yang karyanya dikenal hingga mancanegara, termasuk Vietnam. Pilar Asoka akan memuat ukiran perjalanan hidup Siddharta Gautama dari kanak-kanak hingga mencapai pencerahan, dipahat dari batu lava yang kokoh dan tahan lama.

Kolaborasi dengan Seniman Bali

Nyoman menuturkan bahwa kolaborasinya dengan Sonny didasari visi bersama untuk menghadirkan karya monumental yang bukan hanya ikonik, tetapi juga abadi. “Kami ingin membuat sesuatu yang akan dikenang dunia,” ujarnya. Sementara patung Buddha tidur akan dibuat dari aluminium cor—dipilih karena kekuatan dan nilai estetikanya—dengan dinding relief yang juga dipahat dari batu lava untuk menghadirkan kesan hidup dan mendalam.

Sonny menegaskan bahwa vihara ini tidak akan menjadi ruang eksklusif umat Buddha saja. Ia membayangkan Nyanamsavara sebagai ruang temu warga dari berbagai latar, simbol keberagaman kota, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Kalau untuk saya pribadi, nol. Ini persembahan untuk Bontang,” katanya. Salah satu yang unik adalah arsitektur bangunan tampak mengadopsi arsitektur lokal.

Sedangkan gapura untuk memasuki vihara, menggunakan desain gapura yang dibangun di situs tertua Buddhis di India yakni Stupa Sanchi. Stupa yang didirikan atas perintah Kaisar Asoka, untuk menyimpan relik Buddha sekitar abad ke-3 Sebelum Masehi. Desain demikian disebut torana, yang pada Stupa Sanchi didirikan abad 1 masehi. Selisih sekitar 300 tahun dari stupa induknya. Desain Torana kemudian memengaruhi arsitektur gapura di Tiongkok yakni Paifang/Pailou dan Torii di Jepang. Agama Shinto bahkan mengadopsinya hingga kini. Sebagaimana stupa tersinifikasi menjadi pagoda (塔). Demikianlah tampaknya Torana tersinifikasi menjadi Paifang/Pailou (牌坊 / 牌楼) dan terjapanifikasi menjadi Torii (鳥居).

Baca juga: Dari Chinese ke Han Buddhism: Sinifikasi Agama Buddha Tibet

Dengan berdirinya Vihara Nyanamsavara setelah seperempat abad penantian, Bontang mencatat sebuah tonggak penting dalam sejarah kerukunan dan inklusi warga kota. Harapan pun mengemuka: agar rumah ibadah ini bukan hanya menjadi tempat sembahyang, tetapi juga ruang belajar bersama tentang kebijaksanaan, kedamaian, dan keberagaman—nilai-nilai yang semakin penting di tengah kehidupan beragama Indonesia saat ini.

Sumber: Bontang Post dan Kita Muda Media.Com

Universitas Nalanda: 64 Mata Pelajaran di India Kuno

0
Apa yang diajarkan di Nalanda adalah 64 mata pelajaran bagi Universitas Nalanda di India Kuno
Apa saja mata pelajaran di Universitas Nalanda yang berdiri di India kuno, adalah 64 mata pelajaran

Nalanda adalah universitas residensial pertama di dunia. Pusat pendidikan ini berkembang pesat selama hampir 700 tahun di India kuno. Warisan akademis global dan pendekatan multidisipliner Nalanda, terus menginspirasi dunia pendidikan modern.

Di jantung Bihar kuno, tempat di mana reruntuhan bata merah kini terbaring terpapar terik matahari. Pernah berdiri sebuah kota gagasan bernama Nalanda. Jauh sebelum menara-menara Oxford menjulang di langit Inggris. Bahkan Harvard pun belum terbayangkan. India telah membangun universitas residensial pertama di dunia. Tempat sekira 10.000 mahasiswa dan 2.000 guru memperdebatkan segala hal. Mulai dari astronomi hingga tata bahasa, di bawah naungan pohon Bodhi.

Nalanda bukan hanya sebuah biara Buddha. Ia adalah universitas multidisipliner, pusat lahirnya pembelajaran global, dan simbol masa keemasan intelektual India.

Dunia yang Melampaui Kemajuan Jamannya
Didirikan pada abad ke-5 Masehi oleh Kumaragupta I dari Dinasti Gupta. Nalanda berkembang pesat di bawah perlindungan kerajaan selama hampir 700 tahun. Universitas ini menarik cendekiawan dari seluruh Asia. Termasuk Tiongkok, Tibet, Korea, Indonesia, dan Sri Lanka. Menjadikannya universitas internasional pertama dalam sejarah.

Para bhiksu pengelana Tiongkok, seperti Xuanzang dan Yijing. Pernah belajar di sana pada abad ke-7. Meninggalkan catatan terperinci tentang skala dan kedalaman ilmu di Nalanda. Menurut catatan mereka, kampus Nalanda terdiri atas delapan kompleks luas. Terdiri dari 427 aula, 72 ruang kuliah, dan tiga perpustakaan besar. Ratnasagara, Ratnodadhi, dan Ratnaranjaka. Tempat dimana naskah-naskahnya “berkilau seperti permata.”

“Para mahasiswa datang dari negeri-negeri jauh untuk mempelajari logika, metafisika, kedokteran, dan bahasa,” tulis Yijing dalam A Record of the Buddhist Religion (671 M).

Mata Pelajaran di Universitas Nalanda Kuno

Yang menjadikan Nalanda revolusioner adalah kurikulumnya. Universitas ini menawarkan 64 bidang ilmu—jauh melampaui teologi semata.

Xuanzang mencatat bahwa para mahasiswa dapat mengambil spesialisasi dalam:

  • Tata Bahasa dan Linguistik (Vyakarana)
  • Logika (Hetuvidya)
  • Pengobatan (Ayurveda)
  • Matematika (Ganita)
  • Astronomi dan Astrologi (Jyotish)
  • Metafisika dan Filsafat (Madhyamaka, Yogachara)
  • Ilmu Politik dan Ekonomi (Arthashastra)
  • Seni Rupa, Patung, dan Arsitektur

Perpaduan antara filsafat dan sains mencerminkan keyakinan kuno India bahwa ilmu pengetahuan saling terhubung—bahwa logika dan bahasa, pengobatan dan etika, semuanya merupakan bagian dari pencarian intelektual yang utuh.

Belajar Melampaui Teks
Pembelajaran di Nalanda bukanlah hafalan belaka. Ia dibangun di atas dialog dan perdebatan.

Mahasiswa didorong untuk menantang para pengajar di halaman terbuka dan mempertahankan gagasan mereka dalam diskusi lisan yang ketat. Bahkan seleksi masuknya pun sangat sulit—Xuanzang menyebutkan bahwa calon mahasiswa diuji oleh penjaga gerbang, yang disebut Dwarapalikas, yang menguji pengetahuan mereka sebelum mengizinkan masuk. Hanya satu dari lima pelamar yang diterima.

Sistem berbasis merit ini, yang tercatat dalam teks Dinasti Tang yang diterjemahkan oleh Samuel Beal (1884), menunjukkan betapa Nalanda menghargai ketajaman intelektual, di atas garis keturunan atau kekayaan.

Didanai Penguasa, Dijalankan Para Bhiksu Cendikia
Berbeda dengan universitas modern yang bergantung pada biaya kuliah, Nalanda didanai negara. Raja-raja dari Dinasti Gupta, Harsha, dan kemudian Dinasti Pala memberikan hibah tanah dan dana untuk membiayai para cendekiawan. Kampusnya mencakup asrama, ruang kuliah, kuil, danau, dan taman meditasi—semuanya dikelola oleh administrasi terorganisir yang terdiri atas para bhiksu dan pekerja awam.

Catatan Arkeologi Survei India (ASI) menunjukkan bahwa sumbangan juga datang dari penguasa asing—bukti reputasi internasional Nalanda.

Hub Akademik Global
Xuanzang dan Yijing hanyalah dua dari ratusan cendekiawan asing yang belajar atau mengajar di sini. Nalanda menjadi pusat utama filsafat Buddha dan pemikiran Mahayana, yang memengaruhi model pendidikan di Tibet, Tiongkok, dan Asia Tenggara.

Ketika Nalanda dibakar pada abad ke-12 oleh para penjajah, beberapa bhiksu berhasil menyelamatkan naskah-naskah berharga ke Tibet. Teks-teks tersebut kemudian membentuk Buddhisme Tibet dan kurikulum biara-biara seperti Samye dan Tashilhunpo.

Berabad-abad kemudian, fragmen naskah tersebut ditemukan kembali di Lhasa dan gua-gua Dunhuang, membuktikan warisan akademik Nalanda yang memiliki jangkauan sangat luas.

Api yang Membakar Berbulan-Bulan
Kisah Nalanda berakhir tragis sekitar tahun 1193 M, ketika pasukan Bakhtiyar Khilji menyerangnya. Catatan sejarah menyebutkan bahwa perpustakaan besar, Dharmaganja, terbakar selama berbulan-bulan—ada yang mengatakan enam bulan—karena begitu banyaknya naskah yang tersimpan di dalamnya. Dalam kobaran api itu, seluruh pengetahuan suatau peradaban musnah menjadi asap.

“Nyala api perpustakaan Nalanda menyala cukup lama untuk meredupkan cahaya pembelajaran India selama berabad-abad,” tulis sejarawan John Keay dalam India: A History (2000).

Apa yang Selamat?
Meski kehilangan besar terjadi, semangat Nalanda tetap bertahan. Tradisi Nalanda tetap hidup melalui para cendekiawannya—Dharmapala, Shilabhadra, dan Atisha Dipankara—yang menyebarkan ajarannya ke Tibet dan wilayah lainnya.

Arkeologi modern, yang dipelopori Alexander Cunningham pada abad ke-19, berhasil menemukan kembali reruntuhan Nalanda berdasarkan catatan perjalanan Xuanzang. Pada tahun 2016, UNESCO menetapkan Nalanda sebagai Situs Warisan Dunia, mengakui tempat ini sebagai “simbol pertukaran pengetahuan global kuno.”

Nalanda 2.0
Dalam putaran sejarah yang penuh makna, Universitas Nalanda dibangkitkan kembali pada tahun 2014 di dekat reruntuhan aslinya, dengan dukungan dari 17 negara, termasuk Jepang, Tiongkok, Singapura, dan Australia. Desain kampus barunya mencerminkan mandala, melambangkan pencarian kosmis terhadap ilmu pengetahuan—sebuah penghormatan terhadap masa lalu, yang dibayangkan ulang untuk masa depan.

Lebih dari seribu tahun lalu, ketika sebagian besar pusat pengetahuan dunia belum terbayangkan, Nalanda telah membangun cetak biru pendidikan tinggi—yang merayakan logika, rasa ingin tahu, dan keingintahuan tak terbatas pikiran umat manusia.

Diterjemahkan dari: Mega Chaturvedi, What was taught at Nalanda? the 64 subject of India’s ancient university, India Today.

Agama Buddha dan Jalan Pembebasan

2
Agama Buddha dan Jalan Pembebasan
Agama Buddha dan Jalan Pembebasan. Buddhisme adalah non dualitas.

Agama Buddha kerap dipahami sebagai jalan pembebasan bagi individu dari ketidakpastian atau dunia yang penuh turbulensi (dukkha). Ibarat roda kereta yang tidak terpasang pada porosnya, demikianlah realitas hidup yang harus kita hadapi. Namun jika hanya berfokus hanya pada individu, tentu hal tersebut mengabaikan konsep non dualitas dan pattica samupada yang diajarkan Buddha. Bahwa semua fenomena fisik maupun mental, tidak ada yang berdiri sendiri (independen), semuanya interdependen (saling ketergantungan).

Nagarjuna menjelaskannya melalu non dualitas, atau jalan tengah (madhyamaka) yakni jalan tengah yang melampaui dua ekstrem. Dalam konteks ini, interdependen melampaui dependen dan independen. Dalam konteks Indonesia, Pancasila juga disebut jalan tengah. Bukan karena berada tepat di tengah, tapi karena melampui spektrum ideologi kiri maupun kanan. Bukan relasi yang saling meniadakan, tapi saling memberdayakan.

Oleh karena itu, ajaran Buddha memiliki relevansi mendalam bagi transformasi sosial-politik. Tranformasi sosial yang dilakukan orang-orang yang dengan sadar melakukan transformasi diri secara berkesinambungan. Tentu berbeda dengan transformasi sosial oleh kelompok yang tidak memiliki kesadaran demikian.

Pembebasan Dari Apa?

Dalam ajaran Buddha, semua makhluk terjebak di alam samsara akibat tiga akar kejahatan. Disebut dalam bahasa Sansekerta sebagai akusala-mula, terdiri dari keserakahan (lobha), penolakan atau kebencian (dosa), dan delusi atau kedunguan (moha). Inilah struktur internal yang menjerat manusia sehingga terjebak dalam kelahiran berulang di alam samsara. Ajaran Buddha adalah pisau pemotong, jalan pembebasan sejati untuk melepaskan diri dari ketiganya. Hal yang akan dicapai ketika merealisasi penggugahan sempurna (menjadi Buddha).

Namun, yang kerap dilupakan adalah bahwa transformasi individu tidak terjadi di ruang hampa. Setiap individu lahir di ruang etis, sosiologis, politis, kultural dan berbagai aspek kehidupan yang berbeda-beda. Dimana keseluruhan hal tersebut menjadi bagian dari dirinya. Sejalan dengan pattica-samupada (dependent origination), tidak ada fenomena yang berdiri sendiri. Seorang individu beragama Buddha tidak bisa dilepaskan dari identitas etnis dan politisnya. Ia orang Jawa berkewarganegaraan Indonesia, ia orang Tionghoa berkewarganegaraan Indonesia.

Baca juga: Hamemayu Hayuning Bawono dan Etika Kesalingketergantungan

Agama Buddha dan Kewarganegaraan

Agama dan kewarganegaraan, etnis dan kewarganegaraan contohnya, dalam  agama Buddha bukanlah relasi saling meniadakan. Tidak ada ketegangan hubungan antara agama dan kewarganegaraan. Keduanya dipandang sebagai keutuhan atau non dualitas, dua sisi dari sekeping mata uang. Seorang umat Buddha dalam waktu bersamaan adalah seorang patriot sejati Indonesia. Maka tak heran jika banyak altar di berbagai vihara juga memasang bendera merah putih. Partisipasi sebagai warga negara, adalah bentuk praktik dharma bagi umat Buddha. Memilih ataupun dipilih dalam kontestasi elektoral misalnya, juga bagian dari praktik dharma seorang umat Buddha.

Jika sebagai individu kita punya tugas, membebaskan diri dari keserakahan, penolakan, dan kedunguan atau delusi. Sebagai warga negara kita juga punya dharma untuk membebaskan struktur sosial, politik, dan negara dari ketiga akar tersebut. Dengan kata lain, transformasi diri sejati tidak terpisahkan dengan transformasi sosial.

Tokoh-tokoh Buddhis modern memberikan ilustrasi nyata dari prinsip ini. Bhikkhu Buddhadasa menekankan pentingnya kembali pada ajaran Dharma yang sederhana dan universal. Agar manusia mampu menundukkan keserakahan, kemarahan, dan kebodohan dalam diri mereka. Sementara Sulak Sivaraksa, dengan gerakan Socially Engaged Buddhism. Menunjukkan bahwa pembebasan spiritual yang hanya individual akan kehilangan maknanya jika masyarakat tetap tertindas secara struktur atau rusak secara sosial, politik, hingga lingkungan.

Sekilas Praktik Santi Asoke

Praktiknya yang lebih jauh penulis pernah saksikan pada komunitas Santi Asoke. Salah seorang penulis bahkan menggunakan istilah dharmik sosialis pada bukunya untuk merujuk komunitas ini.  Komunitas yang dibangun oleh orang dari beragam latar belakang ini. Menerapkan prinsip-prinsip Agama Buddha dalam kehidupan kolektif, membangun masyarakat mandiri yang bebas dari keserakahan dan ketidakadilan. Mereka bekerja bukan untuk uang, karena setiap anggotanya tidak memegang uang. Mereka bekerja sesuai minat dan keahliannya. Minimarket mereka memasang dua harga, yaitu harga perolehan dan harga jual. Jadi kita bisa menghitung berapa labanya.

Namun jangan remehkan penghasilannya sebagai komunitas, mereka sudah membangun beberapa SPBU dan restoran vegetarian di berbagai wilayah Thailand. Untuk rumah, mereka tinggal bersama di sebuah wilayah dimana mereka bertani, bertempat tinggal dengan rumah sangat sederhana dari kayu, dan tidak memiliki kemewahan pribadi seperti tv, sepeda motor dan sebagainya. Semua barang itu ada, tapi milik bersama dan dirawat bersama. Untuk sekolah, disediakan sekolah gratis di lingkungan mereka. Sangat menarik.

Interaksi Ajaran Buddha dan Dimensi Sosial Politik

Fenomena serupa dapat ditemui di Laos, Tiongkok, dan Vietnam, di mana ajaran Buddhis berinteraksi dengan kebutuhan pembangunan sosial dan keadilan politik. Di sana, praktik Buddhis tidak hanya fokus pada meditasi atau ritual, tetapi juga pada pendidikan, kesehatan masyarakat, dan kesejahteraan umum. Ini menegaskan bahwa transformasi individu selalu terjadi dalam konteks sosial-politik yang nyata, sesuai logika pattica-samupada: ketidakadilan sosial mempengaruhi penderitaan batin individu, sementara pembebasan batin memberi energi untuk perubahan sosial.

Dengan demikian, Jalan Pembebasan dalam Buddhisme bukan sekadar pembebasan dari penderitaan pribadi, tetapi juga dari corak sosial-politik yang terjerat lobha, dosa, dan moha. Transformasi diri dan transformasi masyarakat saling menguatkan: kesadaran batin memicu tindakan sosial yang etis, dan perbaikan sosial-politik memberi ruang bagi individu untuk berkembang secara spiritual. Jalan ini menegaskan bahwa pembebasan sejati adalah proses holistik, yang melibatkan hati, pikiran, dan struktur masyarakat sekaligus.@Eddy Setiawan.

Biksu Enku: Spiritualitas Pengembara dalam Sepotong Kayu

0
Dunia Enku: spiritualitas pengembara dalam sepotong kayu
Enku adalah seorang bhiksu pengembara Jepang. Ia menyampaikan banyak hal spiritual melalui karya patung kayunya

Dulu di era Jepang abad ke-17.  Ada sosok biksu pengembara yang tak hanya membawa ajaran spiritual, tetapi juga menjadikan kayu sebagai medium doa dan harapan. Dia adalah Biksu Enku, seorang biksu, pemahat, dan pengembara. Beliau dikenal lewat karya-karyanya: patung-patung Buddha kayu yang menyimpan jiwa.

Siapa Enku dan Kenapa Ia Istimewa

Enku lahir tahun 1632 di provinsi Mino (sekarang Prefektur Gifu). Dalam hidupnya, ia memilih jalan sebagai biksu pengembara, dengan menjelajahi Jepang dari selatan ke utara. Melewati desa-desa kecil, gunung, dan jalan setapak perdesaan. Praktik ini disebut dhutangga, atau orang Thailand menyebutnya Thudong. Istilah yang juga dikenal masyarakat umum di Indonesia.

Sebagai seorang biksu ia tidak memiliki uang untuk membayar penginapan atau makanan. Oleh karena itu, setiap tempat yang memberinya tumpangan atau makanan. Dibalasnya dengan pahatan kayu, bisa sosok Buddha, Bodhisattva, atau dewata lokal. Ini sebagai ungkapan syukur dan doa, kepada semua yang membantunya dalam perjalanan.

Menurut tradisi, Enku bersumpah akan menghasilkan sekitar 120.000 patung sepanjang hidupnya.

Hingga kini, lebih dari 5.000 karya telah teridentifikasi tersebar di berbagai penjuru Jepang. Nippon+2MLIT+2

Gaya & Filosofi Karya Enku

Perbedaan Biksu Enku dari pemahat patung Buddha lain di zamannya sangat terasa: Ia sering memahat dari potongan kayu sederhana — bisa dari kayu bekas, kayu tumbang, bahkan kayu ditemukan di sungai — bukan kayu mahal atau dipersiapkan secara khusus.

Patung-patungnya tidak dihaluskan atau disempurnakan sampai tampak mulus seperti patung kuil pada umumnya. Bekas pahat, simpul kayu, dan tekstur kasar dibiarkan — sengaja.

Alhasil, meskipun tampak kasar, patung-patung itu menyampaikan sesuatu: kejujuran, kerendahan hati, spiritualitas — seperti “jiwa yang tertanam di kayu”. Banyak pecinta seni dan spiritual mengatakan bahwa inilah daya tarik Enku: bukan kemewahan, tapi ketulusan.

Kalau dipandang dalam diam — tekstur kayu, garis kasar pahatannya, bentuknya yang sederhana — patung-patungnya bisa terasa sangat hidup; ekspresi halus di wajah, postur yang natural, membuat kita merasa seolah melihat sosok Buddha yang “dekat”, bukan sesuatu yang jauh dan sakral di atas altar.

Warisan Biksu Enku Bisa Kamu Saksikan DImana?

Kalau suatu hari kamu berkesempatan ke Jepang — terutama wilayah Prefektur Gifu atau Hida — dua tempat berikut sangat layak dikunjungi:

  • Kuil atau Vihara Senkoji di Takayama
    Di sini terdapat “Enku Buddha Treasure House” yang memamerkan 64 patung asli hasil ukiran Enkū — termasuk patung-patung ikonik seperti “Standing Nio” dan sosok Ryōmen Sukuna. Patung-patung ini memperlihatkan evolusi gaya Enkū dari yang cukup halus ke yang lebih spontan dan mentah.

  • Minami Furusato-kan di Gujo (Gifu Prefecture)
    Museum ini menyimpan sekitar 90 patung Enkū, plus artefak seperti surat-suratan sang biksu, salinan sutra, dan kadang pemandu lokal siap menjelaskan teknik pahatan serta perubahan gaya Enkū dari waktu ke waktu.

Selain itu, patung-patung Enku juga ditemukan di berbagai kuil dan museum kecil di seluruh Jepang — dari wilayah tengah sampai utara, tergantung di mana ia sempat singgah.

Mengapa Patung-patung Enku Masih Menyentuh Hati Kita

Ada beberapa hal yang membuat karya Enku terasa relevan hingga sekarang:

  • Kesederhanaan & keaslian — Di dunia modern yang sering menilai dari kilau dan kemewahan, patung Enku mengingatkan kita bahwa keindahan bisa lahir dari kesederhanaan, dari “kayu biasa” yang diukir dengan niat baik.

  • Semangat berbagi & empati — Enku membuat patung bukan untuk dirinya sendiri, melainkan sebagai ungkapan terima kasih, doa, atau penghiburan bagi orang-orang yang ia temui — sering kali masyarakat kecil, desa jauh, atau orang biasa. Itu semangat kemanusiaan yang universal.

  • Jembatan antara seni, spiritualitas & kehidupan sehari-hari — Patung-patung Enku tidak hanya objek suci, tapi juga bagian dari kehidupan masyarakat, bagian dari tradisi lokal, dan cerminan sejarah sosial — sehingga bagi pecinta budaya, sejarah, atau seni, “menyentuh” karya Enku berarti menyentuh hati dan kisah banyak orang di masa lampau.

Baca juga: CyberNamuNamu: Mantra Buddha, Musik, dan Pengalaman Imersif

Seni Kayu, Pengembaraan dan Spiritualitas

Patung-patung kayu yang diukir oleh Enku bukan sekadar artefak kuno. Mereka adalah fragmen kehidupan — hasil dari perjalanan panjang, doa sederhana, dan keinginan tulus untuk menyebarkan penghiburan serta spiritualitas.

Di setiap guratan pahat, di setiap simpul kayu yang dibiarkan asli — ada jejak kaki sang biksu, harapan dia, dan doa untuk banyak orang. Mengunjungi karya-karyanya bisa jadi lebih dari sekadar melihat benda seni; itu bisa jadi momen refleksi — tentang pesan Biksu Enku, agar kita bisa melihat semua fenomena apa adanya (tathata). Sebagaimana ia tidak memilih bahan kayu, dan ukirannya yang sengaja “apa adanya”.

Selanjutnya, tentang kewelasasihan (karuna), dimana patung karyanya kerap diberikan kepada warga miskin, orang yang sedang mengalami kesulitan, dan warga di daerah terpencil yang mengalami ketakutan. Ia menghadirkan sosok Buddha melalui patung karyanya, yang dibuat tanpa nama. Mempraktikkan konsep anattā, menanggalkan ego dalam pengabdiannya.

Tampaknya bagi Enku, mengukir adalah meditasi, cara menghadirkan kesadaran dalam aktivitas sehari-hari. Sekaligus keyakinan bahwa sifat Buddha (Jepang: busshō) ada dalam segala hal. Bahkan pada sepotong kayu sederhana. Melalui pahatan-pahatan itu, Enku mengingatkan kita. Bahwa pencerahan bukanlah sesuatu yang jauh atau rumit. Akan tetapi bisa hadir di dalam keseharian yang dijalani dengan hati yang jernih dan penuh kasih.@esa

Sumber: Japan Travel  dan Nippon.Com

Desain Kawasan Berbasis Nilai Buddhis dibangun di Inggris

0
Desain kawasan berbasis nilai-nilai Buddhis dibangun di Inggris
Desain kawasan berbasis nilai-nilai Buddhis dibangun di Northstowe Inggris oleh Mole Architect dan Pengembang TOWN.

Sebuah kawasan hunian baru di Northstowe, Cambridgeshire, Inggris. Saat ini tengah diajukan izinnya oleh firma arsitektur Mole Architects bersama pengembang TOWN dan The Hill Group. Proyek yang menempati lokasi sekitar sembilan mil dari Cambridge ini. Dirancang sebagai lingkungan urban padat dengan 145 rumah, dua komunitas co-housing, serta berbagai fasilitas bersama. Dengan penekanan pada pola hidup komunal modern untuk desain kawasan tersebut.

Dalam rencana yang diserahkan kepada otoritas setempat. Para pengembang menyebut bahwa dua komunitas co-housing akan menjadi bagian inti dari desain kawasan. Yang pertama adalah Suvana Co-housing Community. Kawasan ini secara eksplisit digambarkan sebagai komunitas yang berbasis nilai-nilai Buddhis. Meski nilai-nilai tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut dalam dokumen publik. Penyertaan identitas tersebut membuat Suvana menjadi salah satu komunitas berbasis agama. Dalam pengembangan kawasan urban baru di Inggris. Komunitas kedua, Northstowe Cohousing. Merupakan kelompok multigenerasi yang mengikuti model Marmalade Lane. Sebuah proyek co-housing pertama di Cambridge, yang dikenal sukses dari sisi partisipasi warga dan penggunaan ruang bersama.

Membentuk Komunitas yang Sehat dan Harmonis

Skema 145 rumah ini dibangun dalam empat blok urban kompak dengan berbagai rancangan ruang komunal. Sekitar 40 persen unit dialokasikan sebagai hunian terjangkau, termasuk kategori sewa terjangkau dan unit diskon pasar. Para perancang juga mengedepankan rancangan jalan bebas mobil yang membentuk koridor permainan (car-free play street) yang langsung terhubung ke Greenway Park, serta penggunaan rangka kayu untuk konstruksi rumah sebagai bagian dari pendekatan desain yang lebih ramah lingkungan.

Baca juga: Renovasi Plum Village telah Mendapat Persetujuan Resmi

Desain Kawasan untuk Kota Baru

Selain hunian, kawasan ini juga akan menampilkan dua common houses—ruang bersama yang menjadi ciri utama co-housing. Fasilitas ini nantinya digunakan untuk pertemuan, kegiatan komunitas, dan berbagai fungsi sosial yang memperkuat interaksi antarwarga. Mole Architects menyebut bahwa penataan taman, ruang hijau, dan area komunal menjadi bagian penting dalam mengatur alur gerak dan kehidupan sehari-hari para penghuni.

Rencana ini menempatkan kawasan tepat di samping pusat kota Northstowe yang tengah berkembang, sehingga proyek ini diharapkan menjadi bagian dari ekspansi besar-besaran kota baru tersebut. Jika proposal disetujui otoritas lokal, pembangunan dijadwalkan mulai pada musim panas 2026.

Sumber: Architects Journal

Phra Paisal Visalo: Kumpulan Tulisan Spiritualitas dan Aksi Sosial

1
Buddhist Spirituality and Social Action Buku Baru Phra Paisal Visalo disunting oleh Jonathan S Watts
Buddhist Spirituality and Social Action: The Collected Writing of Phra Paisal Visalo disunting oleh Jonathan S Watts.

Dalam beberapa dekade terakhir, nama Phra Paisal Visalo menjadi salah satu yang paling menonjol dalam perkembangan Socially Engaged Buddhism di Thailand. Beliau bukan hanya biku yang tekun dalam praktik meditatif, tetapi juga pemikir yang lantang bersuara tentang krisis lingkungan, kekerasan politik, dan reformasi sangha.

Melalui buku Buddhist Spirituality and Social Action—sebuah kompilasi lebih dari empat puluh tulisan yang disunting dengan rapi pada tahun 2025—kita diajak menelusuri keluasan gagasan dan kedalaman spiritualitas yang dihadirkan oleh Phra Paisal Visalo. Buku ini tidak hanya memotret perjalanan seorang biku, tetapi juga menghadirkan peta besar hubungan antara dhamma, kemanusiaan, dan bumi yang kita tinggali bersama.

Seperti biasa, Jonathan S Watts, salah seorang sahabat kita di INEB. Menyunting dengan sangat baik buku ini. Entah sekarang kepalanya masih plontos atau tidak.

Bhikkhu, Aktivis, dan Penjaga Hutan

Perjalanan hidup Phra Paisal, sebagaimana tergambar dalam paruh awal buku, memperlihatkan transformasi dari seorang aktivis mahasiswa menjadi biku yang memusatkan hidupnya pada mediasi perdamaian dan perlindungan lingkungan.

Sekilas kehidupannya menunjukkan bahwa bagi beliau, Buddhisme bukanlah ajaran yang berdiri di luar realitas sosial. Sebaliknya, dhamma adalah fondasi untuk merawat dunia yang sedang terluka—baik oleh krisis moral, polarisasi politik, maupun kerusakan ekologis. Dhamma tidak berada di ruang hampa, tapi melingkupi seluruh aspek kehidupan di dunia.

Renungan Dhamma yang Membumi Phra Paisal Visalo

Bagian pertama buku berisi refleksi pendek tentang kehidupan sehari-hari. Phra Paisal menulis tentang kebiasaan, kesadaran, cara kita makan, cara kita bekerja, hingga bagaimana teknologi perlahan membentuk batin manusia. Tulisan-tulisan ini sederhana, tetapi sering kali mengandung kritik halus terhadap gaya hidup modern yang serba terburu-buru. Di sinilah pembaca merasakan ciri khas ajaran Buddhisme Thailand kontemporer: jernih, langsung, dan menyentuh akar persoalan.

Baca juga: Agama Buddha dan Jalan Pembebasan

Reformasi Buddhis: Membongkar Krisis dari Dalam

Bagian berikutnya menggali masalah internal agama Buddha, terutama di Thailand. Phra Paisal Visalo menyoroti bagaimana sangha semakin terpolitisasi, bagaimana dana umat lebih banyak mengalir untuk membangun gedung daripada membina kualitas biku, serta munculnya kelompok-kelompok Buddhis militan yang mengikis semangat welas asih.

Kritiknya lugas tetapi disampaikan dengan hormat—selalu mengajak pembaca untuk kembali pada esensi Buddhisme: pembebasan dari penderitaan, bukan perebutan kekuasaan.

Ketika Hutan Menjadi Guru Spiritualitas

Beberapa tulisan paling kuat dalam buku ini berbicara tentang alam. Bagi Phra Paisal, hutan bukan hanya latar bagi kehidupan para biku, tetapi juga ruang pembelajaran spiritual. Ia menuliskan dengan indah bagaimana pepohonan dan sungai mengajarkan kesederhanaan, keheningan, dan saling keterhubungan.

Buku ini juga mengangkat kerja-kerja advokasinya dalam perlindungan hutan—sering kali melibatkan kolaborasi lintas agama dan komunitas lokal—sebagai bagian tak terpisahkan dari praktik dhamma.

Pembangunan yang Berpihak pada Manusia

Dalam bagian tentang pembangunan, Phra Paisal menantang model ekonomi konsumtif. Ia mendorong pendekatan yang lebih manusiawi: komunitas yang kuat, pola hidup sederhana, dan keputusan ekonomi yang tidak merusak bumi.

Tulisan-tulisannya menyiratkan kritik tajam terhadap model pembangunan modern yang sering kali menciptakan penderitaan baru—ketimpangan, alienasi, dan kehancuran ekologi. Penulis jadi ingat ketika beliau menyampaikan materi tentang lingkungan, pada Young Bodhisattva Training lebih dari satu dekade lalu. Pelatihan tersebut diadakan INEB di Thailand, dan terdapat sesi kunjungan lapangan ke berbagai tempat yang inspiratif.

Spiritualitas sebagai Energi Gerakan Sosial

Salah satu pesan utama buku ini adalah bahwa perjuangan sosial membutuhkan energi batin. Aktivisme tanpa spiritualitas akan mudah jatuh pada kebencian; spiritualitas tanpa tindakan justru menjauh dari dunia nyata.

Phra Paisal menekankan bahwa nilai-nilai seperti non-kekerasan, welas asih, dan kesadaran mendalam merupakan fondasi bagi gerakan sosial yang tahan lama dan tidak terjebak dalam permusuhan.

Seni Mendampingi Kematian

Bagian akhir buku membawa pembaca pada tema yang lembut namun penting: pendampingan kematian. Phra Paisal menulis tentang pelayanan spiritual bagi orang yang sedang berada di ambang ajal, meditasi kesadaran kematian, serta prinsip-prinsip yang membantu seseorang meninggal dengan damai.

Tulisan ini menunjukkan sisi paling manusiawi dari praktik Buddhis: menemani seseorang di saat paling rapuhnya.

Buddhisme yang Relevan dan Membebaskan

Buddhist Spirituality and Social Action memperlihatkan bagaimana Buddhisme dapat menjadi sumber kekuatan moral, ekologis, dan sosial. Buku ini mengajak kita melihat dhamma sebagai kekuatan yang hidup—yang bekerja di desa-desa, di hutan, di jalanan saat demonstrasi damai, di ruang perawatan bagi orang yang menjelang meninggal, dan dalam setiap napas kita sendiri.

Dengan gaya yang jernih dan penuh welas asih, Phra Paisal menunjukkan bahwa spiritualitas Buddhis tidak pernah berjarak dari kehidupan sehari-hari. Justru di situlah ia menemukan kekuatannya.

Buat pembaca yang tertarik, Buku dapat diunduh gratis melalui INEB Network.