Blog Page 2

Dari Chinese ke Han Buddhism: Sinifikasi Agama Buddha Tibet

1
Dari chinese ke han buddhism: upaya sinifikasi Agama Buddha Tibet
Dari chinese ke han buddhism: upaya sinifikasi Agama Buddha Tibet

Pada 10–11 Januari 2026, Universitas Tsinghua di Beijing menyelenggarakan sebuah simposium.  Temanya adalah “Simposium 2026 tentang Studi Buddhisme Han–Tibet”. Sebuah forum yang menghimpun sekitar 50 akademisi dan tokoh keagamaan. Termasuk para biksu dan khenpo (kepala vihara). Mereka berasal dari berbagai biara utama aliran Nyingma di Tibet dan wilayah etnis Tibet di Tiongkok. Simposium ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Buddhisme Han–Tibet. Institusi yang berada di bawah Fakultas Humaniora ini, berfokus pada sejarah, tokoh, dan ajaran aliran Nyingma.

Salah satu aspek menarik dari kegiatan ini adalah pergeseran terminologis yang tampaknya sedang dikembangkan dalam wacana resmi. Penggunaan istilah “Agama Buddha Han” (Han Buddhism) menggantikan “Agama Buddha Tiongkok” (Chinese Buddhism). Dalam kerangka ini,  keduanya tampak diposisikan sebagai dua komponen tradisi etnis dalam Agama Buddha yang lebih luas. Secara kolektif seluruhnya disebut sebagai bagian dari warisan budaya Tiongkok yang unggul.

Soal Rasa Kebersamaan Bangsa Tiongkok

Dalam pidato pembukaannya. Profesor Shen Weirong, Direktur Pusat Studi Buddhisme Han–Tibet. Menjelaskan bahwa studi Buddhis tidak hanya merupakan upaya akademik, tetapi juga berkontribusi pada penguatan “rasa kebersamaan sebagai komunitas bangsa Tiongkok”. Menurutnya, dialog antara kalangan akademik dan komunitas keagamaan, sebagaimana terjadi dalam simposium tersebut. Merupakan bentuk konkret dari “adaptasi Buddhisme ke dalam konteks Tiongkok”.

Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir yang mendorong “sinifikasi agama”. Suatu proses penyesuaian praktik dan doktrin agama agar selaras dengan nilai-nilai sosial, budaya, dan politik Tiongkok kontemporer. Dalam konteks Agama Buddha Tibet, hal ini mencakup upaya untuk menekankan keterkaitan historis dan budaya antara tradisi Tibet dan Tiongkok daratan, serta memperkuat narasi integrasi nasional.

Dari Chinese Buddhism ke Han Buddhism

Namun, pergeseran dari istilah “Agama Buddha Tiongkok” ke “Agama Buddha Han” juga membawa implikasi konseptual. Istilah “Tiongkok” bersifat geopolitik dan inklusif terhadap berbagai kelompok etnis, sedangkan “Han” merujuk pada kelompok etnis mayoritas. Dengan demikian, penggunaan istilah “Han” berpotensi mengubah cara Agama Buddha Tibet dipahami. Tidak lagi sebagai sesuatu yang bersifat asing, tapi bagian dari spektrum internal yang beragam sejajar dengan etnis lainnya.

Di sisi lain, partisipasi aktif para tokoh keagamaan Tibet dalam forum semacam ini menunjukkan adanya ruang dialog antara negara dan komunitas religius. Biara-biara seperti Samye, Mindrolling, Dzogchen, Palyul, dan Larung Gar turut mengirimkan perwakilan, yang mengindikasikan tingkat keterlibatan tertentu dari kalangan internal Buddhisme Tibet terhadap wacana resmi ini.

Penting untuk dicatat bahwa proyek sinifikasi agama di Tiongkok bukanlah fenomena baru. Namun suatu evolusi terminologis dan pendekatan akademik. Seperti yang terlihat dalam simposium Tsinghua, yang menandai tahap baru dalam upaya tersebut. Tentu menarik untuk dibahas lebih dalam soal akurasi historis dan teologisnya. Selain tentunya, soal bagaimana identitas agama dikelola dalam kerangka negara-bangsa modern.

Dalam konteks global, di mana banyak tradisi agama menghadapi tantangan adaptasi terhadap realitas sosial-politik kontemporer. Kasus Agama Buddha Tibet di Tiongkok menawarkan contoh kompleks tentang interaksi antara agama, identitas etnis, dan kebijakan negara. Bagaimana keseimbangan antara pelestarian tradisi dan integrasi nasional akan terus menjadi isu yang layak diamati. Baik oleh pemerhati agama, kewarganegaraan, sejarawan, maupun pengamat kebijakan publik.@eddy setiawan

Cyber NamuNamu: Mantra Buddha, Musik, & Pengalaman Imersif

1
Cyber NamuNamu memadukan mantra Buddha, Musik Elekronik dan visual digital imersif untuk suatu pengalaman spiritual baru.
Cyber NamuNamu memadukan mantra Buddha, musik elektronik dan visual digital imersif untuk pengalaman spiritual baru.

Proyek bernama Cyber NamuNamu dapat diposisikan pada ruang di antara ritual keagamaan dan lantai dansa klub malam. Namun, ia bukan sekadar konser, bukan pula sekadar pertunjukan seni visual. Cyber NamuNamu adalah pengalaman spiritual kontemporer: perpaduan lantunan sutra Buddha, musik elektronik berdentum, dan visual digital imersif yang membawa penonton ke ruang batin yang sama sekali baru.

Penggagas Cyber NamuNamu

Proyek ini digagas oleh Madoka Kohno pada tahun 2018. Ia berangkat dari pengalaman personalnya menghadapi depresi berat. Pada masa kelamnya itu, Kohno menemukan sebuah video YouTube berjudul Techno Hoyo. Sebuah upacara memorial Buddhis yang dipadukan dengan musik dan visual 3D. Alih-alih terasa asing, pengalaman itu justru memberinya rasa lega dan harapan. “Saya merasa bisa kembali ke masyarakat,” kenangnya. Dari situlah muncul keinginan untuk membagikan pengalaman penyembuhan itu kepada orang lain.

Cyber NamuNamu kemudian berkembang menjadi proyek kolaboratif. Kohno tampil bersama dua bhiksuni dari aliran Buddhisme Tanah Suci, Hourin dan Mikou. Hourin melantunkan sutra, sementara Mikou mengisi ruang dengan suara saksofon yang melayang di antara irama elektronik. Musiknya digubah bersama komposer Ryoji Sato dan Yuki Kawamura, yang meramu beat modern agar selaras dengan pola chanting tradisional.

Pertunjukan mereka telah hadir di berbagai ruang: dari festival seni digital di Shibuya, museum seni kontemporer Tokyo, kuil Tsukiji Hongwanji, hingga universitas di Amerika Serikat. Dalam satu penampilan di sebuah bar musik kecil di Shinjuku, suasana dimulai dengan lantunan sutra yang stabil, diiringi layar-layar bercahaya menampilkan kota futuristik dan mandala digital yang berdenyut mengikuti irama. Sebagian penonton menari, sebagian lain berdiri diam dengan mata terpejam. Tak ada aturan baku tentang bagaimana “seharusnya” merespons—setiap orang dipersilakan menemukan maknanya sendiri.

Mujo dan Engi di Dunia Digital dan AI

Bagi Kohno, kata “cyber” bukan sekadar gaya visual. Ia adalah cara menerjemahkan Buddhisme ke dalam dunia hidup manusia hari ini—dunia yang dipenuhi AI, sistem digital, dan realitas virtual. Ia tidak bermaksud menciptakan ajaran baru. Justru sebaliknya, ia percaya bahwa kebijaksanaan Buddhis sudah relevan untuk zaman ini. Konsep mujō (ketidakkekalan) dapat membantu manusia menghadapi perubahan teknologi tanpa rasa takut berlebihan. Sementara engi (saling ketergantungan) dapat dibaca sejajar dengan cara kerja sistem digital seperti blockchain.

Salah satu karya paling mencolok adalah remix berdurasi 19 menit dari Amitabha Sutra, di mana patung-patung emas Buddha melayang di langit malam Tokyo digital. Di sini, dunia suci dan kota modern tidak dipertentangkan, melainkan dipertautkan.

Kehadiran Cyber NamuNamu menjadi penting di tengah krisis sunyi Agama Buddha di Jepang, di mana banyak orang kini hanya berhubungan dengan ritual Buddha saat kematian. Kohno sendiri mengakui bahwa dulu ia memandang Agama Buddha sebatas urusan akhirat. Kini, ia melihatnya sebagai kunci menghadapi tekanan hidup modern.

Menariknya, audiens Cyber NamuNamu sangat beragam. Di venue musik, mereka menarik generasi usia 20 hingga 50 tahun. Di kuil, sering kali hadir keluarga lintas tiga generasi. Bagi Kohno, keberhasilan terbesar bukanlah jumlah penonton, melainkan momen-momen sederhana ketika seseorang berkata, “Pikiran saya terasa lebih tenang.”

Cyber NamuNamu menunjukkan bahwa Dharma tidak harus terkurung dalam bentuk-bentuk lama. Ia bisa berdentum, berkilau, dan berdenyut dalam bahasa zaman—tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Sumber: The Japan Times

Walk for Peace dan Persahabatan Martin Luther-Thich Nhat Hanh

1
Walk for Peace oleh 19 bhikkhu mulai Oktober 2025 lalu disambut hangat warga negara Amerika Serikat. Ini mengingatkan kembali pada persahabatan presiden Amerika Martin Luther King Jr dengan Bhiksu Thich Nhat Hanh. Keduanya soal perdamaian.
Warga Negara Amerika Serikat mendamba kedamaian, sehingga Walk for Peace oleh 19 bhikkhu Buddha disambut begitu hangat. Ini mengingatkan pada persahabatan presiden Amerika Serikat Martin Luther King Jr dan Bhiksu Thich Nhat Hanh.

Awal 2026 dunia menyaksikan sesuatu yang sederhana namun menyentuh hati. Sebanyak 19 bhikkhu Buddha memulai perjalanan kaki sejauh 2.300 mil. Dari Huong Dao Vipassana Bhavana Center di Fort Worth, Texas, menuju Washington, D.C. Mereka menamakannya Walk for Peace. Perjalanan damai ini dimulai pada 26 Oktober 2025 dan direncanakan akan berlangsung selama 120 hari. Harapannya, rombongan para bhiksu ini akan tiba di ibu kota Amerika Serikat pada 13 Februari 2026.

Mereka tak membawa spanduk besar atau megafon, melainkan langkah-langkah sunyi yang penuh kesadaran. Melakukan meditasi berjalan, dan memancarkan perdamaian dan kasih sayang bagi semua makhluk. Perjalanan ini juga ditujukan untuk menabur benih kedamaian, di tengah masyarakat yang sedang terbelah. Sepanjang jalan, mereka disambut hangat oleh warga Amerika. Ditawari makanan, tempat berteduh, bahkan dukungan moral. Salah seorang warga bahkan mendonasikan mobilnya untuk kegiatan ini.

Maskot Walk for Peace: Aloka

Perjalanan para bhikkhu ini juga ditemani seekor anjing bernama Aloka. Dalam salah satu unggahan viral di media sosial oleh seorang netizen Amerika. Bhikkhu Pannakara, pemimpin Walk for Peace, menyatakan:

“Di India, beberapa anjing sempat mengikuti kami selama perjalanan. Tapi Aloka-lah yang paling setia. Ia bahkan sempat menghilang di tengah jalan—namun entah bagaimana, ia berhasil menemukan kembali rombongan dan terus mengikuti sampai perjalanan selesai. Karena itulah kami memberinya nama Aloka, yang berarti ‘cahaya’. Kemudian kami pun mengadopsi dan membawanya ke Amerika Serikat.”

Kehadirannya kini menjadi simbol kepolosan, ketulusan, dan persahabatan lintas spesies yang menyentuh hati banyak orang—bahkan menarik perhatian luas di media sosial.

Perjalanan ini mengingatkan kita pada sebuah persahabatan lintas benua dan tradisi yang lahir puluhan tahun lalu: antara Martin Luther King Jr. dan Thich Nhat Hanh—dua tokoh yang sama-sama meyakini bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan kehadiran cinta, keadilan, dan saling pengertian.

Saat Api Menjadi Damai

Pada 11 Juni 1963, di persimpangan jalan Saigon, Bhikkhu Thich Quang Duc duduk dalam posisi meditasi dan membakar dirinya sebagai protes terhadap diskriminasi terhadap umat Buddha di bawah rezim Vietnam Selatan. Aksi itu, yang diabadikan dalam foto ikonik oleh Malcolm Browne, mengguncang dunia—bukan karena kekerasannya, tapi karena kedamaian yang tetap ia pertahankan di tengah nyala api.

Dalam suratnya kepada Martin Luther King Jr. pada 1 Juni 1965, Thich Nhat Hanh menjelaskan bahwa tindakan seperti itu bukan bunuh diri, melainkan pengorbanan penuh kasih—upaya membangunkan hati dunia terhadap penderitaan yang selama ini tak terlihat. Ia menulis:

“Musuh sejati manusia bukanlah sesama manusia, melainkan intoleransi, fanatisme, kebencian, dan diskriminasi yang bersarang dalam hati.”

Persahabatan yang Mengubah Dunia

Surat itu menjadi jembatan. Pada 31 Mei 1966, King dan Hanh bertemu di Chicago. Dari percakapan itu, King semakin yakin bahwa perjuangan hak sipil di Amerika tak bisa dipisahkan dari seruan perdamaian global—termasuk penolakan terhadap Perang Vietnam. Setahun kemudian, King mencalonkan Hanh untuk Hadiah Nobel Perdamaian.

Hubungan mereka bukan sekadar kolaborasi politik, melainkan pertemuan dua jiwa yang percaya: perubahan sosial dimulai dari dalam. Bahwa kita harus menjadi damai terlebih dahulu, sebelum bisa menciptakan dunia yang damai.

Hari ini, Walk for Peace menjadi kelanjutan dari semangat itu. Para bhikkhu tak datang untuk menghakimi atau menuntut, tapi untuk hadir—dengan diam, dengan senyum, dengan langkah yang penuh perhatian. Mereka menghidupkan kembali gagasan beloved community: komunitas yang dibangun bukan atas dasar kesamaan, tapi atas dasar welas asih yang melampaui perbedaan.

Di tengah hiruk-pikuk opini, polarisasi, dan kebisingan digital, perjalanan ini adalah undangan lembut: mari kembali pada kehadiran yang utuh, pada hubungan yang tulus, pada keyakinan bahwa damai bukan hanya tujuan—tapi juga cara kita melangkah.

Damai Adalah Jalan Itu Sendiri

Martin Luther King Jr. pernah berkata:

“Kebencian tidak pernah mengusir kebencian; hanya cinta yang bisa melakukannya.”

Thich Nhat Hanh menambahkan:

“Tidak ada jalan menuju perdamaian. Perdamaian adalah jalannya.”

Dua kalimat ini menyatu dalam setiap langkah para bhikkhu—dan bahkan dalam langkah kecil Aloka yang setia mengikuti dari belakang. Mereka tak menolak dunia, tapi menawarkan cara lain untuk berada di dalamnya: dengan hati yang terbuka, pikiran yang tenang, dan tekad untuk terus berjalan bersama, meski jalan itu panjang.

Karena pada akhirnya, damai bukan hanya sesuatu yang kita impikan di masa depan.
Damai adalah cara kita berjalan hari ini—di jalan raya, di ruang publik, dan di dalam relasi kita satu sama lain.@eddy setiawan

Bacaan Lanjutan:

Edward Tick, Lion’s Roar

Jeremy Davi Engels, The Conversation

Randu Berdarah di Borobudur Viral, Ini Faktanya Sebenarnya

0
Pohon randu berdarah di Borobudur mendadak viral, namun bagaimana fakta sebenarnya?
Sebuah pohon randu berdarah di Borobudur viral dan mengundang perhatian banyak orang. Bagaimana fakta sebenarnya?

Media sosial kembali dihebohkan dengan kemunculan pohon randu alas raksasa di kawasan Borobudur, Magelang. Bukan tanpa alasan, pohon yang diduga sudah berusia ratusan tahun ini bikin warganet merinding setelah muncul video yang memperlihatkan cairan merah keluar dari batangnya, mirip darah. Sontak randu berdarah di Borobudur viral, tapi mari kita ungkap faktanya.

Sekilas memang kelihatan menyeramkan. Tapi ternyata, cerita di balik pohon ini nggak seseram yang dibayangkan.

Pohon Tua Raksasa yang Jadi Sorotan

Pohon randu alas ini berdiri megah di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur. Ukurannya nggak main-main—tingginya lebih dari 30 meter dan batangnya super besar, sampai delapan orang dewasa pun susah memeluknya bareng-bareng.

Sayangnya, kondisi pohon sudah mulai mengkhawatirkan. Ranting-rantingnya tampak kering dan rapuh. Karena letaknya dekat jalan dan area aktivitas warga, pohon ini awalnya direncanakan untuk ditebang demi alasan keamanan.

Soal “Darah” yang Bikin Viral

Masalah mulai ramai ketika proses pemangkasan dilakukan. Dari bagian pohon yang dipotong, keluar cairan berwarna merah pekat. Video dan fotonya langsung menyebar luas di media sosial, lengkap dengan berbagai spekulasi mistis.

Ada yang mengaitkannya dengan hal gaib, ada juga yang menganggap pohon ini “sakral”. Tapi warga sekitar dengan cepat meluruskan kabar tersebut.

Bukan Mistis tapi Alami

Menurut warga setempat, cairan merah itu bukan darah, melainkan getah alami pohon randu merah. Fenomena ini sebenarnya wajar secara biologis dan sudah dikenal oleh sebagian masyarakat.

Pemilik rumah di dekat lokasi pohon juga menegaskan bahwa randu jenis tertentu memang mengeluarkan getah kemerahan saat terluka. Jadi, nggak ada hubungannya dengan hal supranatural.

Randu Berdarah di Borobudur Jadi Daya Tarik Baru

Setelah viral, pohon randu alas ini justru kebanjiran pengunjung. Banyak orang datang hanya untuk melihat langsung “pohon berdarah” yang sedang ramai dibicarakan.

Sebagian pengunjung merasa pohon ini punya aura unik dan energi positif. Nggak sedikit juga yang menganggapnya sebagai ikon baru desa dan sayang kalau harus ditebang.

Meski viral dan jadi perhatian, persoalan utamanya tetap soal keamanan. Pemerintah desa dan Pemkab Magelang kini masih menunggu kajian dari para ahli untuk menentukan langkah selanjutnya.

Ahli menyebut randu alas memang bisa hidup sangat lama, bahkan ratusan tahun. Tapi kondisi ranting yang mudah patah jadi tanda bahwa pohon ini sudah mulai rapuh. Kalau masih memungkinkan diselamatkan, warga berharap pohon ini bisa dipertahankan. Namun jika risikonya terlalu besar, penebangan bisa jadi pilihan terakhir.

Antara Viral, Alam, dan Keselamatan

Kisah pohon randu alas di Borobudur ini jadi pengingat kalau sesuatu yang viral nggak selalu mistis. Kadang, alam punya cara unik untuk “bercerita”, dan tugas manusia adalah memahaminya dengan logika—tanpa mengabaikan keselamatan.

Sumber: Kumparan

Menyongsong 2026: Bantuan Senyap sebagai Fondasi Spiritual

0
Menyongsong 2026 berikut ini adalah pesan dari Bhikkhu Mahindasiri Thero. Bantuan Senyap sebagai fondasi spiritual.
Menyongsong 2026 bhikkhu mahindasiri thero berpesan agar menggunakan bantuan senyap sebagai fondasi spritual.

Memasuki tahun 2026, banyak dari kita sibuk menyusun resolusi: target karier, rencana finansial, atau pencapaian pribadi. Namun, di balik semua itu, ada satu latihan spiritual yang sederhana, tenang, dan justru sangat transformatif untuk dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari: “Bantuan Senyap” (Silent Help). Artikel berikut merupakan pesan dharma dari Biku Mahindasiri Thero menyongsong 2026.

Refleksi ini disarikan dari pesan Tahun Baru dalam ceramah Life and Dharma, yang mengajak kita melihat kembali makna spiritualitas sebagai praktik hidup—bukan sekadar konsep, apalagi simbol.

Apa Itu “Bantuan Senyap” untuk Menyongsong 2026?

Bantuan senyap adalah tindakan menolong orang lain tanpa diminta. Ia lahir dari pengamatan yang jernih dan hati yang peka. Dalam tradisi Buddhis, Arhat Sariputra menjadi teladan klasik praktik ini.

Dikisahkan, suatu pagi Sariputra melihat para biksu junior sedang membersihkan vihara. Tanpa diminta, tanpa merasa dirinya “terlalu tinggi” untuk tugas tersebut, ia meletakkan mangkuk dan jubahnya, mengambil sapu, lalu ikut membersihkan. Setelah selesai, ia kembali pada kegiatannya seolah tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada pengumuman. Tidak ada pencitraan. Hanya kehadiran yang penuh welas asih.

Di situlah esensi bantuan senyap: membantu bukan demi dipuji, melainkan karena kita melihat kebutuhan dan hati kita tergerak.

Mengapa Praktik Ini Relevan di Tahun 2026?

Di dunia yang semakin individualistis dan serba cepat, bantuan senyap memiliki kekuatan yang luar biasa.

  1. Menumbuhkan Kualitas Batin Luhur
    Di balik tindakan menolong tanpa diminta, tumbuh kualitas-kualitas luhur: pemahaman, cinta kasih (metta), kasih sayang (karuna), kemurahan hati, dan keramahan batin. Ini bukan sekadar etika sosial, melainkan latihan batin yang nyata.

  2. Mendisiplinkan Spiritualitas dalam Kehidupan Nyata
    Spiritualitas tidak berhenti pada meditasi di atas bantal duduk. Ia menemukan wujudnya dalam dedikasi waktu dan energi untuk kesejahteraan orang lain. Bantuan hening menjembatani meditasi dan kehidupan sehari-hari.

  3. Menciptakan Kebahagiaan dari Dalam
    Kebahagiaan tidak selalu “datang”; ia juga bisa diciptakan. Ketika kita menolong dengan tulus lalu menyadari kebaikan itu dengan sukacita, kita membangun sumber kebahagiaan dari dalam diri—stabil dan tidak bergantung pada pengakuan.

Langkah Praktik Sederhana

  1. Amati – Lihat sekeliling dengan penuh perhatian. Siapa yang membutuhkan bantuan?

  2. Bertindak – Lakukan bantuan itu tanpa menunggu diminta, tanpa mengharapkan pengakuan.

  3. Syukuri – Sadari kebahagiaan yang muncul dari tindakan bajik tersebut dengan penuh kesadaran.

Dengan cara inilah spiritualitas turun dari ruang kontemplasi ke ruang kehidupan.

Mari kita jadikan tahun 2026 bukan hanya sebagai tahun pencapaian material, tetapi juga sebagai tahun penguatan akar spiritual—melalui pelayanan yang tulus, sederhana, dan senyap.

Selamat Tahun Baru 2026.
Semoga semua makhluk berbahagia. Namo Buddhaya.

Artikel ini disarikan dari pesan Tahun Baru dari Biku Mahindasiri Thero melalui kanal Life and Dharma. Tonton video aslinya disini untuk mendalami pesan spiritual ini secara utuh.

Candi Adan-Adan: Situs Buddha dengan Makara Terbesar

0
Candi Adan-Adan adalah situs Buddha dengan makara terbesar saat ini.
Candi Adan-Adan adalah situs Buddha di Gurah, Kediri Jawa Timur. Memiliki temuan makara terbesar diantara semua candi yang ada.

Candi Adan-Adan terletak di Dusun Candi, Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Merupakan situs Buddha terpenting di Jawa Timur. Hasil ekskavasi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (2016–2022) mengungkap struktur candi berukuran 25 × 25 meter. Saat ini merupakan struktur candi terluas di Jawa Timur. Adapun fondasi candi ini adalah batu bata dan selubung luar dari andesit. Arah hadapnya adalah barat laut. Situs ini ditemukan terpendam di kebun durian milik H. Syamsudin.

Keistimewaan utama situs ini terletak pada sepasang makara setinggi 2,3 meter. Temuan makara terbesar di Indonesia. Bahkan melampaui ukuran makara Candi Borobudur. Keunikan pahatannya tampak pada detail benangsari berujung kuncup bunga, serta penggambaran gender. Makara pertama tanpa kumis dan dada polos (betina), sedangkan pasangannya berkumis dengan rambut dada berhias motif floral (jantan). Selain makara, ditemukan pula arca Dwarapala setinggi hampir 2 meter dalam posisi berdiri. Arca ini berbeda dari kebanyakan Dwarapala Jawa yang ditemukan dalam sikap jengkeng. Serta fragmen kala, stupa, kepala Bodhisattva, dan arca Dhyani Buddha Amitabha.

Perkiraan Tahun Pendirian Candi Adan-Adan

Berdasarkan analisis gaya pahatannya yang mirip dengan Candi Kedaton di Muaro Jambi. Serta temuan keramik Dinasti Song (abad ke-10), Song-Yuan (abad ke-12), dan Yuan (abad ke-13). Situs ini diperkirakan dibangun pada abad ke-11 di masa Kerajaan Kadiri. Stratigrafi menunjukkan 12 lapisan tanah dengan abu vulkanik Gunung Kelud pada kedalaman 2 meter. Hal ini mengindikasikan candi beberapa kali tertutup letusan gunung berapi sepanjang sejarahnya. Keberadaan keramik Tiongkok dan pecahan keramik Belanda abad ke-17. Membuktikan keterhubungan kawasan ini dengan jalur perdagangan maritim Asia. Catatan kolonial Belanda tahun 1908 pun menyebutkan pengamatan awal terhadap situs ini. Meskipun ekskavasi baru dilakukan seabad kemudian.

Penemuan situs ini mengoreksi pandangan bahwa masa Kadiri hanya merupakan “zaman keemasan sastra.” Tanpa peninggalan arsitektur monumental. Lokasinya yang berdekatan dengan Candi Tondowongso, memperkuat dugaan bahwa kawasan Gurah merupakan pusat peradaban penting Kadiri. Tondowongso adalah candi Hindu dimana arca Brahma dan Syiwa dengan pahatan halus ditemukan pada 2007.

Baca juga: Gayatri Rajapatni: Mastermind Politik Kejayaan Majapahit

Saat ini, pengelolaan situs menerapkan konsep Heritage Spotting Area. Hanya 8 m² area yang dibuka untuk publik demi pelestarian situs. Artefak besar seperti makara dan Dwarapala sementara waktu dikubur kembali. Sedangkan fragmen seperti kepala Buddha disimpan di Museum Bhagawanta Bari. Lahan tempat ditemukannya situs tetap dimiliki keluarga Syamsudin. Pemerintah melibatkan putranya, yaitu Ikhwanil Kiram menjadi juru pelihara resmi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.

Adan-adan juga menjadi nama salah satu prasasti, yang terdiri dari 17 lempeng Tembaga. Prasasti Adan-adan yang bertarikh 1301 M ditemukan di Bojonegoro. Keduanya tampak memiliki kesamaan nama. Situs Adan-Adan karena nama desa tempat ditemukannya bernama Adan-Adan. Di sisi lain, Prasasti Adan-Adan memang berisi penetapan Desa Adan-Adan sebagai Sima. Tanah bebas pajak. Prasasti ditemukan di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur oleh Mardjuki. Prasasti Adan-Adan kini disimpan di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, Jawa Timur.

Pagoda Ba Vang di Vietnam: Bisa Ngapain Aja?

0
Pagoda Ba Vang adalah tempat ibadah umat Buddha sekaligus destinasi wisata di Vietnam.
Pagoda Ba Vang adalah salah satu pagoda umat Buddha Vietnam yang menjadi tempat wisata.

Datang ke Ba Vang Pagoda bukan cuma soal foto-foto. Banyak pengalaman yang bisa kamu rasakan langsung. Seperti ikut retret meditasi dan sesi dharma talk. Hadir di festival lampion, Vu Lan, atau festival awal tahun lunar. Jalan santai di hutan pinus sambil dengar denting lonceng dari vihara. Ziarah relik Buddha dan artefak Truc Lam. Atau sekedar duduk tenang, tarik napas, dan benar-benar healing. Menyadari kehadiran diri 100% di sini dan saat ini.

Banyak pengunjung bilang, suasana di Ba Vang bikin hati lebih ringan dan pikiran lebih jernih.

Arti Nama Pagoda Ba Vang yang Penuh Makna

Nama Ba Vang berarti tiga gunung emas. Mewakili tiga gunung yang mengelilingi lokasi vihara. Dalam filosofi Buddhis, tiga gunung ini melambangkan: kebijaksanaan, moralitas, dan welas asih. Secara feng shui, Ba Vang dipercaya sebagai titik pertemuan energi alam. Nggak heran kalau banyak orang merasa suasana di tempat ibadah umat Buddha ini “berbeda”.

Baca juga: Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh: Singa Emas yang Terlupakan

Cara Menuju Lokasi dari Hanoi

Dari Hanoi ke lokasi pagoda ini berjarak sekira 120–130 km. Dengan waktu tempuh 2–2,5 jam via jalan tol yang tersedia. Jika perjalanan dilakukan dari Vietnam Selatan atau luar negeri. Kita harus terbang ke Cat Bi, Van Don, atau Noi Bai. Lalu lanjut ke Uong Bi.

Bisa sekalian mampir ke lokasi wisata lainnya. Seperti Yen Tu, Ha Long Bay, atau Sun World Ha Long. Aksesnya mudah dan cocok buat trip singkat maupun liburan panjang.

Tips Biar Healing Makin Maksimal

Meski menjadi destinasi wisata yang terbuka untuk semua orang. Hal yang harus diingat adalah bahwa Pagoda Ba Vang adalah tempat ibadah umat Buddha. Jadi gunakan pakaian sopan dan tertutup, Jaga ketenangan, hindari suara berisik. Selain itu, jagalah kebersihan, dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Waktu terbaik berkunjung ke pagoda ini adalah pada awal tahun lunar, hari besar Buddhis, atau Vu Lan. Sehingga kamu bisa merasakan atmosfer perayaan hari-hari besar di lokasi premium ini.

Dengan arsitektur megah, alam yang menenangkan, dan sejarah spiritual yang kuat. Ba Vang Pagoda Quang Ninh bukan cuma destinasi wisata religi. Ini tempat buat berhenti sejenak, menata ulang pikiran, dan pulang dengan hati yang lebih tenang.

Sumber: Sun Paradise Land

Renovasi Plum Village Telah Mendapat Persetujuan Resmi

1
Rencana renovasi Plum Village libatkan MVRDV dan telah disetujui otoritas lokal di Perancis.
Rencana renovasi Plum Village libatkan MVRDV dan telah disetujui otoritas lokal di Perancis.

Baru-baru ini, saya menyimak kabar tentang disetujuinya rencana pembangunan untuk renovasi biara Plum Village. Sebuah biara Buddhis yang terletak di wilayah Dordogne selatan, Prancis. Izin tersebut diberikan oleh otoritas setempat kepada komunitas biara. Sebagai bagian dari upaya menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan komunitas spiritual yang terus berkembang. Di balik rancangan tersebut, terlibat studio arsitektur ternama asal Belanda, MVRDV. Studio yang telah bekerja sama erat dengan biara sejak 2023 silam.

Plum Village didirikan pada 1982 oleh Bhikkhu Thich Nhat Hạnh. Seorang bhiksu asal Vietnam yang juga merupakan tokoh sentral dalam gerakan Engaged Buddhism. Biara ini sekarang menjadi biara Buddhis terbesar di Eropa. Kompleksnya terdiri dari tiga lokasi, termasuk Upper Hamlet untuk para bhiksu dan Lower Hamlet untuk para bhiksuni. Setiap tahunnya, ribuan pengunjung datang untuk mengikuti retret meditasi. Sehingga kapasitas infrastruktur pun mulai tidak memadi. Pada masa puncak, beberapa bhiksu atau bhiksuni bahkan rela tidur di tenda, demi memberi ruang bagi para tamu. Pernah dalam satu masa retret total peserta yang datang berjumlah 800 orang.

Plum Village Menjawab Tantangan

Untuk menjawab tantangan ini, Plum Village menggandeng MVRDV, arsitek pendamping MoonWalkLocal, serta konsultan teknis seperti OTEIS, VPEAS, dan Emacoustic. Tujuannya adalah guna menyusun dua masterplan terpadu, baik untuk Upper Hamlet maupun Lower Hamlet. Pada Desember 2025, Dewan Kota Thenac dan Loubes-Bernac memberikan izin pembangunan untuk fase pertama proyek tersebut.

Rencana yang disetujui mencakup pembangunan empat rumah tamu komunal berbahan kayu, renovasi toko buku biara (yang berada di bekas lumbung batu), serta pembangunan vihara bhiksuni baru di Lower Hamlet. Semua elemen dirancang dengan prinsip nirlaba dan berorientasi pada keberlanjutan: menggunakan material sirkular, berbasis hayati seperti kayu dan insulasi jerami, serta meminimalkan jejak karbon—selaras dengan nilai-nilai ekologis yang menjadi inti praktik Engaged Buddhism.

Rancangan Kolaboratif

Proses perancangan sendiri bersifat partisipatif. Tim arsitek mengadakan serangkaian lokakarya dengan para bhiksu dan bhiksuni untuk memahami ritme kehidupan, kebutuhan spiritual, dan hubungan mereka dengan lingkungan. Seperti diungkapkan Sanne van der Burgh, Associate Director MVRDV, “Kami harus ‘melupakan’ banyak hal yang kami pelajari sebagai arsitek… Kehidupan yang mereka jalani sangat berbeda dari pengguna yang biasanya kami rancang.”

Hasilnya adalah desain yang responsif dan rendah hati. Rumah tamu dibentuk dalam konfigurasi huruf U, mengelilingi ruang bersama untuk lingkar Dharma, dengan akses melalui tangga luar, balkon, dan beranda yang memperkuat koneksi dengan alam. Vihara bhiksuni—yang akan menampung 76 anggota monastik dari 12 negara—dirancang sebagai bangunan halaman dalam berbahan kayu prefabrikasi, lengkap dengan zendo, perpustakaan, ruang kelas, dan area komunal.

Aspek lingkungan juga menjadi prioritas renovasi Plum Village. Masterplan mengintegrasikan strategi lanskap seperti penciptaan habitat burung untuk pengendalian nyamuk, penempatan panel surya, serta pengurangan lalu lintas kendaraan demi menjaga suasana kontemplatif.

Bagi pembaca di Indonesia—negara dengan warisan Buddhis yang panjang dan komunitas spiritual yang dinamis—proyek ini menawarkan wawasan berharga: bahwa arsitektur religius kontemporer dapat menjadi medium untuk mewujudkan harmoni antara spiritualitas, komunitas, dan ekologi. Di tengah tekanan urbanisasi dan perubahan iklim, pendekatan Plum Village menunjukkan bahwa merancang ruang suci bukan hanya soal bentuk, tetapi juga tentang mendengarkan—secara mendalam—cara hidup yang ingin diwadahi.

Dalam konteks Indonesia dengan keberagaman budaya yang demikian kaya. Pembangunan tempat ibadah selain soal ramah lingkungan, faktor pelestarian budaya lokal juga perlu diperhatikan. Tantangannya bagaimana mengintrodusir arsitektur etnik kontemporer yang unik untuk vihara di berbagai wilayah Indonesia.

Sumber: Archdaily.Com

Relik Buddha Tarik Hampir 18 Juta Pengunjung di Vietnam

0
Pameran relik suci Buddha di Vietnam tarik hampir 18 juta pengunjung.
Pameran relik suci Buddha menarik hampir 18 juta pengunjung di Vietnam.

Selama sebulan penuh mulai Mei hingga Juni 2025. Vietnam menjadi saksi sebuah fenomena spiritual luar biasa. Sebanyak 17,8 juta orang, dari segala usia, latar belakang, dan penjuru negeri, datang berbondong-bondong. Kedatangan mereka adalah untuk memuliakan relik suci Buddha yang dipinjamkan pemerintah India dalam rangka peringatan Hari Waisak Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini merupakan kali pertama relik suci tersebut dipamerkan di Vietnam.

Kementerian Kebudayaan India: Gerakan Spiritual Luar Biasa

Kementerian Kebudayaan India menyebut peristiwa ini sebagai “gerakan spiritual luar biasa” yang menyapu seluruh wilayah Vietnam. Dari ujung selatan hingga utara. Dalam pernyataan resminya, kementerian menulis:

“Jutaan umat berkumpul dalam ziarah pemujaan bersejarah terhadap relik suci Sang Buddha dari India. Tur suci ini menyatukan umat Buddha dan para pencari spiritual dalam ekspresi penghormatan, kedamaian, dan solidaritas budaya yang mendalam.”

Relik tersebut merupakan sisa jasmani Sang Buddha, Siddhartha Gautama, yang biasanya disemayamkan di Mulagandha Kuti Vihara, Sarnath, Uttar Pradesh—salah satu dari empat situs suci utama dalam kehidupan Buddha. Peminjaman sementara ke Vietnam dikoordinasikan oleh Kementerian Kebudayaan India bekerja sama dengan International Buddhist Confederation (IBC) dan Pemerintah Vietnam.

Perjalanan Relik Buddha

Perjalanan suci dimulai ketika relik tiba di Kota Ho Chi Minh pada 2 Mei 2025. Relik Buddha  mulai dipamerkan di Biara Ay Thanh Tam pada 3 Mei. Dari sana, relik dibawa ke Pagoda Quan Su di Hanoi (13–17 Mei), lalu ke Pagoda Tam Chuc di Provinsi Ha Nam (17–19 Mei). Antusiasme publik yang luar biasa membuat pemerintah Vietnam meminta perpanjangan masa pameran. Pada awalnya pameran direncanakan berakhir pada 21 Mei—hingga 2 Juni.

Vietnam memiliki sekitar 13 juta umat Buddha, atau sekitar 13% dari total populasi. Sebagian besar menganut tradisi Mahayana. Ajaran Buddha telah hadir di tanah ini lebih dari 2.000 tahun. Dan tetap memainkan peran penting dalam kehidupan budaya, sosial, bahkan politik. Sangha Buddha Vietnam, organisasi keagamaan resmi yang diakui negara. Turut mengoordinasikan acara ini bersama kuil-kuil lokal dan otoritas daerah.

Yang Mulia Thích Trí Quảng, Patriark Tertinggi Sangha Buddha Vietnam, menyampaikan rasa harunya:

“Ini adalah pengalaman yang sangat mengharukan dan mempersatukan. Kehadiran relik Sang Buddha di tanah kami memberi kesempatan langka bagi jutaan orang untuk memperbarui ikrar spiritual, merenungkan Dharma, dan merasakan kedekatan dengan Sang Bhagavā.”

Delegasi India yang mengawal relik dipimpin oleh Gubernur Negara Bagian Odisha, Prof. Ganeshi Lal. Ia hadir bersama para bhiksu senior dan pejabat kebudayaan. Pada malam 2 Juni, relik dikembalikan ke India menggunakan pesawat khusus Angkatan Udara India. Kepulangannya disambut secara seremonial di Pangkalan Udara Palam, New Delhi.

Setibanya di India, relik sempat dipamerkan untuk umum selama satu hari di Museum Nasional New Delhi pada 3 Juni. Keesokan harinya, relik diarak dengan penghormatan kenegaraan melalui Varanasi menuju Sarnath, tempat asalnya. Prosesi penyemayaman kembali di Mulagandha Kuti Vihara menandai penutupan dari apa yang oleh banyak pihak disebut sebagai “ziarah internasional bersejarah.”

Pesan dari Komunitas Mahabodhi India

Sekretaris Jenderal Maha Bodhi Society of India, Yang Mulia Ven. Pelwatte Seewalee Thero, menyampaikan kesannya yang mendalam:

“Saya tidak akan pernah melupakan kasih sayang yang ditunjukkan pemerintah dan rakyat Vietnam kepada kami. Negara Anda telah melewati penderitaan panjang untuk mencapai kebebasan dan kemajuan hari ini. Dengan berkah Buddha, Dharma, dan Sangha, serta kebijaksanaan historis yang Anda miliki. Saya percaya Vietnam akan terus bangkit dalam cahaya kedamaian dan kebijaksanaan.”

Peristiwa ini bukan hanya soal angka atau kehadiran massal. Akan tetapi juga simbol nyata bagaimana ajaran Buddha terus menyatukan manusia lintas batas. Baik dalam diam, doa, dan kerinduan universal akan kedamaian.

Sumber: Buddhistdoor.net

Jang Kyung-ho: Dongkuk Steel dan Modernis Buddhis Korea

0
Jang Kyuk-ho pendiri Dongkuk Steel adalah umat awam Buddhis utama di Korea.
Pendiri Dongkuk Steel, Jang Kyuk-ho adalah seorang umat awam Buddhis yang sangat berpengaruh.

Pada 8 September 2025, suasana khidmat menyelimuti lantai tiga Daebeopdang Hall di Gedung Buddhist Broadcasting System (BBS), Mapo, Seoul. Di sana, digelar upacara peringatan 50 tahun wafatnya Geosa Jang Kyung-ho. Pendiri Dongkuk Steel, sekaligus ulang tahun ke-50 Korea Buddhist Promotion Institute (KBPI). Hadir dalam acara tersebut tokoh-tokoh penting seperti Ven. Jinwoo, pimpinan eksekutif Ordo Jogye. Serta Chairman Dongkuk Steel Jang Se-joo, yang dengan khusyuk menundukkan kepala dan menangkupkan tangan.

Siapa sebenarnya Jang Kyung-ho

Lahir di Busan pada 1899, Jang Kyung-ho bukan sekadar pengusaha sukses. Ia adalah seorang geosa (istilah kehormatan untuk umat awam Buddhis). Kyung-ho menjadikan dua hal sebagai misi hidupnya. Yakni, mengembangkan ajaran Buddha dan berkontribusi bagi bangsa melalui bisnis. Setelah lulus dari Boseong High School pada 1916 dan sempat belajar di Jepang, ia memperdalam keyakinannya lewat retret Buddhis (ango) di bawah bimbingan Venerable Guha di Tongdosa pada 1925. Saat itu, ia bersumpah: “Aku akan mengabdi pada negara lewat pekerjaanku, dan membalas jasa kepada Buddha.”

Langkah pertamanya di dunia usaha dimulai dari bisnis karung beras bernama Daegung Yanghaeng pada 1929. Perjalanan bisnisnya terus berkembang hingga akhirnya mendirikan Dongkuk Steel pada 1954. Sebuah perusahaan baja swasta pertama di Korea Selatan.

Dharma Bhakti Jang untuk Agama Buddha

Namun, yang membuat namanya begitu dihormati di kalangan Buddhis bukan hanya kekayaannya. Melainkan cara ia memberi. Ia tak hanya menyumbang uang, tapi membangun sistem yang bisa melestarikan dan memodernisasi ajaran Buddha.

Pada 1967, ia mendirikan Pusat Distribusi Teks Buddhis di depan Kuil Jogye. Organisasi yang mencetak dan menyebarkan versi terjemahan yang mudah dipahami dari sutra-sutra penting. Seperti Sutra Hati, Sutra Seribu Tangan, dan Sutra Intan. Tujuannya? Agar ajaran Buddha bisa menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat awam.

Tak berhenti di situ, pada 1973 ia membangun Vihara Daewon di Gunung Namsan, Seoul, lengkap dengan Daewon Buddhist College. Sebuah langkah revolusioner saat itu. Konon, ia ingin kuil itu menjadi tempat yang ramah bagi umat awam. Bahkan ia menyatakan “Aku ingin membuat tempat suci di mana orang bisa masuk sambil masih memakai sepatu.”

Dan di penghujung hayatnya, tepat sebelum wafat pada 9 September 1975, Jang Kyung-ho menyumbangkan 3 miliar won dari kekayaan pribadinya. Setara sekitar 500 miliar won hari ini. Jika dikonversi ke rupiah, sekira 5,75 Triliun rupiah. Donasi itu adalah untuk mendirikan Korea Buddhist Promotion Institute. Padahal, gaya hidupnya sendiri sangat sederhana. Tisu bekas dikeringkan dan dipakai ulang, kertas pembungkus kue upacara disimpan untuk dijadikan kertas catatan.

Kyung-ho juga merupakan pelopor media Buddhis, meski tak sempat melihatnya terwujud. Visinya tentang stasiun radio Buddhis, akhirnya tercapai pada 1990 dengan lahirnya BBS, Buddhist Broadcasting System.

Dalam sebuah bait puisi yang ditinggalkannya, Jang Kyung-ho menulis:

“Perdebatan di alam Dharma sejati, di mana diri dan orang lain tak terpisah, ibarat seekor lalat berusia sehari yang demikian fana. Keyakinanku sudah teguh sejak usia 20-an, tapi sekadar tahu saja tidaklah cukup. Harus dilatih dan dihayati hingga menjadi manusia sejati. Pikiran menciptakan segala fenomena—semua dibuat oleh pikiran.”

Pesan dari Pemimpin Ordo Jogye

Dalam sambutannya, Ven. Jinwoo menyebut Jang Kyung-ho sebagai “umat awam besar” yang setara dengan tokoh-tokoh Buddhis legendaris seperti Vimalakīrti dari India atau Beopseul dari Korea. “Semakin saya pelajari jejaknya, semakin saya terkagum-kagum,” katanya. “Ia benar-benar pelopor dan visioner.”

Sementara itu, Chairman Jang Se-joo, cucunya, mengenang sang kakek sebagai sosok yang lebih suka bertindak daripada bicara. “Beliau adalah guru sejati yang mengajarkan dengan teladan. Warisannya adalah pedoman emas yang harus kita renungkan di zaman ini.”

Peringatan 50 tahun ini bukan hanya nostalgia, tapi juga panggilan untuk melanjutkan semangat Jang Kyung-ho: menyebarkan Dharma dengan bijak, relevan, dan penuh kasih di tengah dunia modern. Disadur dari artikel yang ditulis Gim Han-soo dan diterbitkan pada 9 September 2025 di Chosun.Com.