Tampak 3 patung Buddha utama di altar bekas gereja terbengkalai di Buffalo Amerika Serikat.
Patung Buddha Amitabha, Sakyamuni, dan Bhaisajyaguru kini menjadi bagian dari altar utama di bekas gereja terbengkalai di Amerika Serikat.

Sebuah gereja Katolik tua di Buffalo, Amerika Serikat, yang sempat terbengkalai, kini memiliki wajah baru yang tak terduga. Bangunan bersejarah tersebut bertransformasi menjadi vihara bagi komunitas Buddhis Vietnam. Lengkap dengan tiga patung Buddha besar yang masing-masing beratnya sekitar 900 kilogram.

Sebagaimana ditulis John dalam artikelnya di Journee mondiale, gereja terbengkalai tersebut bernama gereja St. Agnes. Sebuah gereja yang dibangun pada 1883 dan dikonsekrasi pada 1905 dan telah melayani komunitas Katolik selama lebih dari satu abad. Namun, penurunan jumlah jemaat dan perubahan demografi menyebabkan gereja tersebut ditutup pada 2007.

Perubahan signifikan terjadi ketika seorang biksu asal Vietnam, Thich Minh Tuyen, membeli bangunan tersebut dengan dukungan komunitas Buddhis. Harga pembelian pada 2009 lalu adalah sekitar 250.000 dolar AS. Ia kemudian memimpin proses renovasi selama dua tahun, mengubah fungsi bangunan tanpa sepenuhnya menghapus identitas arsitektur lamanya.

Transformasi Gereja Terbengkalai Tanpa Menghapus Sejarah

Alih fungsi gereja terbengkalai menjadi vihara dilakukan dengan pendekatan yang cukup unik. Elemen-elemen Katolik seperti altar, salib, dan Stations of the Cross dilepas secara hati-hati. Lalu umat Buddha menempatkan tiga patung Buddha utama dalam tradisi Mahayana, yakni Amitabha, Sakyamuni, dan Bhaisajyaguru.

Namun demikian, struktur utama bangunan tetap dipertahankan. Artikel John yang berjudul This abandoned church sold for $250,000 and now houses three 2,000-pound Buddha statues di Journee mondiale. Mengungkapkan bahwa bagian seperti rangka kayu, jendela kaca patri, hingga beberapa bangku gereja masih dipertahankan sebagai bagian dari warisan arsitektur.

Hasilnya adalah sebuah ruang ibadah yang menggabungkan unsur lama dan baru. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan karpet meditasi di lantai sekaligus bangku tradisional gereja Katolik. Hal ini mencerminkan adaptasi dan penghargaan umat Buddha terhadap warisan sejarah komunitas sebelumnya.

Cerminan Perubahan Demografi

Transformasi ini bukan sekadar soal bangunan, tetapi mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas. Kota Buffalo, seperti banyak wilayah lain di Amerika Serikat, mengalami penurunan jumlah jemaat gereja tradisional. Sementara komunitas imigran, termasuk umat Buddha dari Vietnam terus bertumbuh. Sebagaimana dikutip dari Journee mondiale, perubahan ini menunjukkan bagaimana pergeseran demografi secara perlahan mengubah peta keagamaan di berbagai komunitas .

Dalam konteks ini, alih fungsi tempat ibadah menjadi solusi yang tidak hanya menjaga bangunan tetap hidup, tetapi juga memungkinkan fungsi spiritualnya tetap berlanjut, meski dalam bentuk yang berbeda.

Model Baru untuk Masa Depan?

Kasus gereja St. Agnes dinilai sebagai contoh model baru dalam pengelolaan bangunan keagamaan. Daripada dibiarkan kosong atau dihancurkan, bangunan tersebut tetap digunakan sebagai ruang ibadah, meskipun oleh agama yang berbeda.

John melalui Journee mondiale juga menyatakan, pendekatan ini dianggap sebagai solusi “win-win” karena mampu menjaga warisan sejarah sekaligus memenuhi kebutuhan komunitas baru. Meski demikian, proses ini tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Beberapa insiden vandalisme sempat terjadi setelah perubahan fungsi, menunjukkan masih adanya ketegangan di tingkat lokal. Namun, sebagian besar warga justru lebih memilih bangunan tersebut tetap aktif daripada terbengkalai.

Ruang Suci yang Berubah, Fungsi yang Tetap

Fenomena ini membuka perspektif baru tentang makna ruang keagamaan. Jika sebelumnya tempat ibadah identik dengan satu tradisi tertentu, kini muncul kemungkinan bahwa ruang tersebut dapat melampaui batas denominasi.

Sebagaimana dikutip dari Journee mondiale, transformasi ini menunjukkan bahwa bangunan keagamaan tidak harus selamanya terikat pada satu identitas, melainkan dapat beradaptasi dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan fungsi spiritualnya .

Kisah gereja St. Agnes di Buffalo bukan hanya cerita tentang perubahan fungsi bangunan, tetapi juga tentang bagaimana agama, migrasi, dan perubahan sosial saling berinteraksi. Di tengah dunia yang terus berubah, ruang-ruang suci pun ternyata ikut bertransformasi—bukan untuk menghilang, melainkan untuk tetap hidup dalam bentuk baru.

Baca juga: Membaca Ulang Agama Buddha di Barat

LEAVE A REPLY