Cyber NamuNamu memadukan mantra Buddha, Musik Elekronik dan visual digital imersif untuk suatu pengalaman spiritual baru.
Cyber NamuNamu memadukan mantra Buddha, musik elektronik dan visual digital imersif untuk pengalaman spiritual baru.

Proyek bernama Cyber NamuNamu dapat diposisikan pada ruang di antara ritual keagamaan dan lantai dansa klub malam. Namun, ia bukan sekadar konser, bukan pula sekadar pertunjukan seni visual. Cyber NamuNamu adalah pengalaman spiritual kontemporer: perpaduan lantunan sutra Buddha, musik elektronik berdentum, dan visual digital imersif yang membawa penonton ke ruang batin yang sama sekali baru.

Penggagas Cyber NamuNamu

Proyek ini digagas oleh Madoka Kohno pada tahun 2018. Ia berangkat dari pengalaman personalnya menghadapi depresi berat. Pada masa kelamnya itu, Kohno menemukan sebuah video YouTube berjudul Techno Hoyo. Sebuah upacara memorial Buddhis yang dipadukan dengan musik dan visual 3D. Alih-alih terasa asing, pengalaman itu justru memberinya rasa lega dan harapan. “Saya merasa bisa kembali ke masyarakat,” kenangnya. Dari situlah muncul keinginan untuk membagikan pengalaman penyembuhan itu kepada orang lain.

Cyber NamuNamu kemudian berkembang menjadi proyek kolaboratif. Kohno tampil bersama dua bhiksuni dari aliran Buddhisme Tanah Suci, Hourin dan Mikou. Hourin melantunkan sutra, sementara Mikou mengisi ruang dengan suara saksofon yang melayang di antara irama elektronik. Musiknya digubah bersama komposer Ryoji Sato dan Yuki Kawamura, yang meramu beat modern agar selaras dengan pola chanting tradisional.

Pertunjukan mereka telah hadir di berbagai ruang: dari festival seni digital di Shibuya, museum seni kontemporer Tokyo, kuil Tsukiji Hongwanji, hingga universitas di Amerika Serikat. Dalam satu penampilan di sebuah bar musik kecil di Shinjuku, suasana dimulai dengan lantunan sutra yang stabil, diiringi layar-layar bercahaya menampilkan kota futuristik dan mandala digital yang berdenyut mengikuti irama. Sebagian penonton menari, sebagian lain berdiri diam dengan mata terpejam. Tak ada aturan baku tentang bagaimana “seharusnya” merespons—setiap orang dipersilakan menemukan maknanya sendiri.

Mujo dan Engi di Dunia Digital dan AI

Bagi Kohno, kata “cyber” bukan sekadar gaya visual. Ia adalah cara menerjemahkan Buddhisme ke dalam dunia hidup manusia hari ini—dunia yang dipenuhi AI, sistem digital, dan realitas virtual. Ia tidak bermaksud menciptakan ajaran baru. Justru sebaliknya, ia percaya bahwa kebijaksanaan Buddhis sudah relevan untuk zaman ini. Konsep mujō (ketidakkekalan) dapat membantu manusia menghadapi perubahan teknologi tanpa rasa takut berlebihan. Sementara engi (saling ketergantungan) dapat dibaca sejajar dengan cara kerja sistem digital seperti blockchain.

Salah satu karya paling mencolok adalah remix berdurasi 19 menit dari Amitabha Sutra, di mana patung-patung emas Buddha melayang di langit malam Tokyo digital. Di sini, dunia suci dan kota modern tidak dipertentangkan, melainkan dipertautkan.

Kehadiran Cyber NamuNamu menjadi penting di tengah krisis sunyi Agama Buddha di Jepang, di mana banyak orang kini hanya berhubungan dengan ritual Buddha saat kematian. Kohno sendiri mengakui bahwa dulu ia memandang Agama Buddha sebatas urusan akhirat. Kini, ia melihatnya sebagai kunci menghadapi tekanan hidup modern.

Menariknya, audiens Cyber NamuNamu sangat beragam. Di venue musik, mereka menarik generasi usia 20 hingga 50 tahun. Di kuil, sering kali hadir keluarga lintas tiga generasi. Bagi Kohno, keberhasilan terbesar bukanlah jumlah penonton, melainkan momen-momen sederhana ketika seseorang berkata, “Pikiran saya terasa lebih tenang.”

Cyber NamuNamu menunjukkan bahwa Dharma tidak harus terkurung dalam bentuk-bentuk lama. Ia bisa berdentum, berkilau, dan berdenyut dalam bahasa zaman—tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Sumber: The Japan Times

LEAVE A REPLY