Dunia Enku: spiritualitas pengembara dalam sepotong kayu
Enku adalah seorang bhiksu pengembara Jepang. Ia menyampaikan banyak hal spiritual melalui karya patung kayunya

Dulu di era Jepang abad ke-17.  Ada sosok biksu pengembara yang tak hanya membawa ajaran spiritual, tetapi juga menjadikan kayu sebagai medium doa dan harapan. Dia adalah Biksu Enku, seorang biksu, pemahat, dan pengembara. Beliau dikenal lewat karya-karyanya: patung-patung Buddha kayu yang menyimpan jiwa.

Siapa Enku dan Kenapa Ia Istimewa

Enku lahir tahun 1632 di provinsi Mino (sekarang Prefektur Gifu). Dalam hidupnya, ia memilih jalan sebagai biksu pengembara, dengan menjelajahi Jepang dari selatan ke utara. Melewati desa-desa kecil, gunung, dan jalan setapak perdesaan. Praktik ini disebut dhutangga, atau orang Thailand menyebutnya Thudong. Istilah yang juga dikenal masyarakat umum di Indonesia.

Sebagai seorang biksu ia tidak memiliki uang untuk membayar penginapan atau makanan. Oleh karena itu, setiap tempat yang memberinya tumpangan atau makanan. Dibalasnya dengan pahatan kayu, bisa sosok Buddha, Bodhisattva, atau dewata lokal. Ini sebagai ungkapan syukur dan doa, kepada semua yang membantunya dalam perjalanan.

Menurut tradisi, Enku bersumpah akan menghasilkan sekitar 120.000 patung sepanjang hidupnya.

Hingga kini, lebih dari 5.000 karya telah teridentifikasi tersebar di berbagai penjuru Jepang. Nippon+2MLIT+2

Gaya & Filosofi Karya Enku

Perbedaan Biksu Enku dari pemahat patung Buddha lain di zamannya sangat terasa: Ia sering memahat dari potongan kayu sederhana — bisa dari kayu bekas, kayu tumbang, bahkan kayu ditemukan di sungai — bukan kayu mahal atau dipersiapkan secara khusus.

Patung-patungnya tidak dihaluskan atau disempurnakan sampai tampak mulus seperti patung kuil pada umumnya. Bekas pahat, simpul kayu, dan tekstur kasar dibiarkan — sengaja.

Alhasil, meskipun tampak kasar, patung-patung itu menyampaikan sesuatu: kejujuran, kerendahan hati, spiritualitas — seperti “jiwa yang tertanam di kayu”. Banyak pecinta seni dan spiritual mengatakan bahwa inilah daya tarik Enku: bukan kemewahan, tapi ketulusan.

Kalau dipandang dalam diam — tekstur kayu, garis kasar pahatannya, bentuknya yang sederhana — patung-patungnya bisa terasa sangat hidup; ekspresi halus di wajah, postur yang natural, membuat kita merasa seolah melihat sosok Buddha yang “dekat”, bukan sesuatu yang jauh dan sakral di atas altar.

Warisan Biksu Enku Bisa Kamu Saksikan DImana?

Kalau suatu hari kamu berkesempatan ke Jepang — terutama wilayah Prefektur Gifu atau Hida — dua tempat berikut sangat layak dikunjungi:

  • Kuil atau Vihara Senkoji di Takayama
    Di sini terdapat “Enku Buddha Treasure House” yang memamerkan 64 patung asli hasil ukiran Enkū — termasuk patung-patung ikonik seperti “Standing Nio” dan sosok Ryōmen Sukuna. Patung-patung ini memperlihatkan evolusi gaya Enkū dari yang cukup halus ke yang lebih spontan dan mentah.

  • Minami Furusato-kan di Gujo (Gifu Prefecture)
    Museum ini menyimpan sekitar 90 patung Enkū, plus artefak seperti surat-suratan sang biksu, salinan sutra, dan kadang pemandu lokal siap menjelaskan teknik pahatan serta perubahan gaya Enkū dari waktu ke waktu.

Selain itu, patung-patung Enku juga ditemukan di berbagai kuil dan museum kecil di seluruh Jepang — dari wilayah tengah sampai utara, tergantung di mana ia sempat singgah.

Mengapa Patung-patung Enku Masih Menyentuh Hati Kita

Ada beberapa hal yang membuat karya Enku terasa relevan hingga sekarang:

  • Kesederhanaan & keaslian — Di dunia modern yang sering menilai dari kilau dan kemewahan, patung Enku mengingatkan kita bahwa keindahan bisa lahir dari kesederhanaan, dari “kayu biasa” yang diukir dengan niat baik.

  • Semangat berbagi & empati — Enku membuat patung bukan untuk dirinya sendiri, melainkan sebagai ungkapan terima kasih, doa, atau penghiburan bagi orang-orang yang ia temui — sering kali masyarakat kecil, desa jauh, atau orang biasa. Itu semangat kemanusiaan yang universal.

  • Jembatan antara seni, spiritualitas & kehidupan sehari-hari — Patung-patung Enku tidak hanya objek suci, tapi juga bagian dari kehidupan masyarakat, bagian dari tradisi lokal, dan cerminan sejarah sosial — sehingga bagi pecinta budaya, sejarah, atau seni, “menyentuh” karya Enku berarti menyentuh hati dan kisah banyak orang di masa lampau.

Baca juga: CyberNamuNamu: Mantra Buddha, Musik, dan Pengalaman Imersif

Seni Kayu, Pengembaraan dan Spiritualitas

Patung-patung kayu yang diukir oleh Enku bukan sekadar artefak kuno. Mereka adalah fragmen kehidupan — hasil dari perjalanan panjang, doa sederhana, dan keinginan tulus untuk menyebarkan penghiburan serta spiritualitas.

Di setiap guratan pahat, di setiap simpul kayu yang dibiarkan asli — ada jejak kaki sang biksu, harapan dia, dan doa untuk banyak orang. Mengunjungi karya-karyanya bisa jadi lebih dari sekadar melihat benda seni; itu bisa jadi momen refleksi — tentang pesan Biksu Enku, agar kita bisa melihat semua fenomena apa adanya (tathata). Sebagaimana ia tidak memilih bahan kayu, dan ukirannya yang sengaja “apa adanya”.

Selanjutnya, tentang kewelasasihan (karuna), dimana patung karyanya kerap diberikan kepada warga miskin, orang yang sedang mengalami kesulitan, dan warga di daerah terpencil yang mengalami ketakutan. Ia menghadirkan sosok Buddha melalui patung karyanya, yang dibuat tanpa nama. Mempraktikkan konsep anattā, menanggalkan ego dalam pengabdiannya.

Tampaknya bagi Enku, mengukir adalah meditasi, cara menghadirkan kesadaran dalam aktivitas sehari-hari. Sekaligus keyakinan bahwa sifat Buddha (Jepang: busshō) ada dalam segala hal. Bahkan pada sepotong kayu sederhana. Melalui pahatan-pahatan itu, Enku mengingatkan kita. Bahwa pencerahan bukanlah sesuatu yang jauh atau rumit. Akan tetapi bisa hadir di dalam keseharian yang dijalani dengan hati yang jernih dan penuh kasih.@esa

Sumber: Japan Travel  dan Nippon.Com

LEAVE A REPLY