Bhiksu Yang Mun memiliki jutaan follower di media sosial, belakangan terungkap ternyata dibuat dengan AI.
Sosok Bhiksu Yang Mun memiliki dua akun dengan jutaan follower ternyata adalah AI.

Awalnya cuma satu video. Seorang bhiksu tua duduk tenang di sudut vihara. Wajahnya teduh, suaranya ramah dan enak didengar. Ia bicara tentang lelah, tentang gagal, tentang berdamai dengan diri sendiri. Kata-katanya sederhana, tapi entah kenapa terasa tepat.

Video itu disimpan. Lalu dibagikan. Besoknya muncul lagi. Dan lagi. Nama akunnya ada 2 yaitu @yangmunus dengan follower 2,5 jutadan @itsyangmuns. Follower-nya jutaan. Komentarnya penuh rasa terima kasih. Banyak yang merasa ditemani, dipahami, bahkan diselamatkan.

Masalahnya, belakangan terungkap: bhiksu itu tidak pernah ada. Yang Mun bukan tokoh spiritual. Bukan bhiksu. Bukan manusia.

Ia adalah karakter AI—wajahnya buatan, suaranya sintetis, dan seluruh nasihatnya dihasilkan mesin. Kontennya dibuat dengan teknologi AI generatif dan dipoles sedemikian rupa hingga tampak otentik. Tokoh ini buatan orang Israel bernama Shalev Hani. Tidak hanya untuk memberi nasehat bijak, tapi juga untuk jualan e-book dan kursus spiritual.

Yang membuat banyak orang terkejut bukan semata teknologinya, tapi betapa mudahnya kita percaya. Mungkin karena karakter Yang Mun tidak memaksa. Tidak menggurui. Tidak menjual ketakutan. Ia menawarkan ketenangan—sesuatu yang langka di tengah hidup yang bising. Inilah mungkin eranya spiritualitas algoritmik.

Kasus Yang Mun bukan sekadar cerita viral. Ia adalah peringatan. Di era AI, apa yang kita tonton dan tampak realistis secara visual maupun suara. Belum tentu benar-benar nyata dalam kehidupan. Kebetulan pada kasus Yang Mun, ada aspek positif yang dapat dinikmati followernya. Akan tetapi, ada juga yang merasa ditipu karena merasa sosok Yang Mun adalah manusia yang eksis di dunia nyata.

Sumber: Detikinet

LEAVE A REPLY