Shaolin dari Henan Tiongkok berakar pada Chan Buddhisme. Kini telah berdiri pusat budayanya di Afrika. Shaolin Afrika menjadi pemandangan menarik.
Jejak sunyi Shaolin Afrika. Dari Henan Tiongkok chan Buddhisme akhirnya tiba di Afrika membawa kungfu shaolin.

Beberapa dari kita mungkin kerap mendapatkan FYP di akun media sosial kita yang bertema “Shaolin Afrika”. Konten tersebut biasanya menampilkan anak-anak Afrika, berjubah Shaolin sedang mendemonstrasikan kungfunya. Mereka diawasi seorang dewasa, yang juga berpenampilan pelontos dan berjubah Shaolin. Tampak kedisiplinan dan ketepatan gerak yang memukau dari anak-anak tersebut. Salah satu yang kerap muncul adalah akun dari Zambia.

Jika diamati dari latar video tempat mereka berlatih. Ini tampaknya adalah Cultural Center of Shaolin Temple di Lusaka, ibu kota Zambia. Pusat budaya ini dibuka pada 2021. Ia bukan sekadar sekolah bela diri, melainkan simpul kecil dari tradisi panjang Shaolin yang berakar pada Buddhisme Chan (Zen) di Tiongkok. Secara historis, Kuil Shaolin di Gunung Song, Henan, adalah vihara Buddhis sejak abad ke-5. Di sanalah ajaran meditasi Chan berpadu dengan latihan fisik, melahirkan tradisi kung fu sebagai disiplin tubuh dan batin—cara para bhiksu menjaga kesehatan, ketahanan, dan konsentrasi dalam praktik Dharma.

Di Lusaka, warisan itu hadir dalam bahasa yang lebih universal. Setiap sore, suara hentakan kaki dan teriakan latihan menggema dari kompleks sederhana di pinggiran kota. Para murid—disebut Shaolin disciples—datang dari berbagai latar belakang, sebagian besar remaja yang sebelumnya memiliki sedikit pilihan hidup. Mereka belajar jurus, mengatur napas, menguatkan tubuh, sekaligus menyerap nilai disiplin, ketekunan, dan pengendalian diri—nilai yang sejak berabad-abad lalu menjadi bagian dari etos monastik Shaolin.

Pusat budaya ini membawa jejak Agama Buddha secara halus ke Afrika. Kungfu di sini bukan semata seni bertarung, melainkan latihan membentuk karakter. “Shaolin bukan hanya tentang gerak, tetapi tentang membangun diri,” ujar salah seorang pelatih. Di sela latihan, anak-anak itu bermain sepak bola, menabuh genderang, dan berbincang tentang mimpi mereka. Tubuh bergerak, tetapi batin juga diarahkan.

Empat tahun sejak dibuka, Cultural Center of Shaolin Temple di Zambia telah melampaui fungsinya sebagai sekolah kungfu. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas benua: tradisi Buddhis Chan yang lahir di Tiongkok bertemu dengan realitas sosial Afrika. Di sana, Shaolin hadir bukan sebagai agama yang dikhotbahkan, melainkan sebagai laku hidup—disiplin, kesabaran, dan harapan.

Di tengah dunia yang serba cepat, pusat kecil di Lusaka itu mengingatkan kita bahwa Dharma dapat menempuh jalan sunyi. Kadang ia tidak datang lewat kitab atau ritual. Melainkan lewat hentakan kaki, tarikan napas, dan tubuh-tubuh muda yang belajar berdiri tegak menghadapi hidup. Sebuah upaya kausalya dalam mewujudkan kebahagiaan bagi semua makhluk. @eddy setiawan

Baca juga: News.Cn

LEAVE A REPLY