Walk for Peace oleh 19 bhikkhu mulai Oktober 2025 lalu disambut hangat warga negara Amerika Serikat. Ini mengingatkan kembali pada persahabatan presiden Amerika Martin Luther King Jr dengan Bhiksu Thich Nhat Hanh. Keduanya soal perdamaian.
Warga Negara Amerika Serikat mendamba kedamaian, sehingga Walk for Peace oleh 19 bhikkhu Buddha disambut begitu hangat. Ini mengingatkan pada persahabatan presiden Amerika Serikat Martin Luther King Jr dan Bhiksu Thich Nhat Hanh.

Awal 2026 dunia menyaksikan sesuatu yang sederhana namun menyentuh hati. Sebanyak 19 bhikkhu Buddha memulai perjalanan kaki sejauh 2.300 mil. Dari Huong Dao Vipassana Bhavana Center di Fort Worth, Texas, menuju Washington, D.C. Mereka menamakannya Walk for Peace. Perjalanan damai ini dimulai pada 26 Oktober 2025 dan direncanakan akan berlangsung selama 120 hari. Harapannya, rombongan para bhiksu ini akan tiba di ibu kota Amerika Serikat pada 13 Februari 2026.

Mereka tak membawa spanduk besar atau megafon, melainkan langkah-langkah sunyi yang penuh kesadaran. Melakukan meditasi berjalan, dan memancarkan perdamaian dan kasih sayang bagi semua makhluk. Perjalanan ini juga ditujukan untuk menabur benih kedamaian, di tengah masyarakat yang sedang terbelah. Sepanjang jalan, mereka disambut hangat oleh warga Amerika. Ditawari makanan, tempat berteduh, bahkan dukungan moral. Salah seorang warga bahkan mendonasikan mobilnya untuk kegiatan ini.

Maskot Walk for Peace: Aloka

Perjalanan para bhikkhu ini juga ditemani seekor anjing bernama Aloka. Dalam salah satu unggahan viral di media sosial oleh seorang netizen Amerika. Bhikkhu Pannakara, pemimpin Walk for Peace, menyatakan:

“Di India, beberapa anjing sempat mengikuti kami selama perjalanan. Tapi Aloka-lah yang paling setia. Ia bahkan sempat menghilang di tengah jalan—namun entah bagaimana, ia berhasil menemukan kembali rombongan dan terus mengikuti sampai perjalanan selesai. Karena itulah kami memberinya nama Aloka, yang berarti ‘cahaya’. Kemudian kami pun mengadopsi dan membawanya ke Amerika Serikat.”

Kehadirannya kini menjadi simbol kepolosan, ketulusan, dan persahabatan lintas spesies yang menyentuh hati banyak orang—bahkan menarik perhatian luas di media sosial.

Perjalanan ini mengingatkan kita pada sebuah persahabatan lintas benua dan tradisi yang lahir puluhan tahun lalu: antara Martin Luther King Jr. dan Thich Nhat Hanh—dua tokoh yang sama-sama meyakini bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan kehadiran cinta, keadilan, dan saling pengertian.

Saat Api Menjadi Damai

Pada 11 Juni 1963, di persimpangan jalan Saigon, Bhikkhu Thich Quang Duc duduk dalam posisi meditasi dan membakar dirinya sebagai protes terhadap diskriminasi terhadap umat Buddha di bawah rezim Vietnam Selatan. Aksi itu, yang diabadikan dalam foto ikonik oleh Malcolm Browne, mengguncang dunia—bukan karena kekerasannya, tapi karena kedamaian yang tetap ia pertahankan di tengah nyala api.

Dalam suratnya kepada Martin Luther King Jr. pada 1 Juni 1965, Thich Nhat Hanh menjelaskan bahwa tindakan seperti itu bukan bunuh diri, melainkan pengorbanan penuh kasih—upaya membangunkan hati dunia terhadap penderitaan yang selama ini tak terlihat. Ia menulis:

“Musuh sejati manusia bukanlah sesama manusia, melainkan intoleransi, fanatisme, kebencian, dan diskriminasi yang bersarang dalam hati.”

Persahabatan yang Mengubah Dunia

Surat itu menjadi jembatan. Pada 31 Mei 1966, King dan Hanh bertemu di Chicago. Dari percakapan itu, King semakin yakin bahwa perjuangan hak sipil di Amerika tak bisa dipisahkan dari seruan perdamaian global—termasuk penolakan terhadap Perang Vietnam. Setahun kemudian, King mencalonkan Hanh untuk Hadiah Nobel Perdamaian.

Hubungan mereka bukan sekadar kolaborasi politik, melainkan pertemuan dua jiwa yang percaya: perubahan sosial dimulai dari dalam. Bahwa kita harus menjadi damai terlebih dahulu, sebelum bisa menciptakan dunia yang damai.

Hari ini, Walk for Peace menjadi kelanjutan dari semangat itu. Para bhikkhu tak datang untuk menghakimi atau menuntut, tapi untuk hadir—dengan diam, dengan senyum, dengan langkah yang penuh perhatian. Mereka menghidupkan kembali gagasan beloved community: komunitas yang dibangun bukan atas dasar kesamaan, tapi atas dasar welas asih yang melampaui perbedaan.

Di tengah hiruk-pikuk opini, polarisasi, dan kebisingan digital, perjalanan ini adalah undangan lembut: mari kembali pada kehadiran yang utuh, pada hubungan yang tulus, pada keyakinan bahwa damai bukan hanya tujuan—tapi juga cara kita melangkah.

Damai Adalah Jalan Itu Sendiri

Martin Luther King Jr. pernah berkata:

“Kebencian tidak pernah mengusir kebencian; hanya cinta yang bisa melakukannya.”

Thich Nhat Hanh menambahkan:

“Tidak ada jalan menuju perdamaian. Perdamaian adalah jalannya.”

Dua kalimat ini menyatu dalam setiap langkah para bhikkhu—dan bahkan dalam langkah kecil Aloka yang setia mengikuti dari belakang. Mereka tak menolak dunia, tapi menawarkan cara lain untuk berada di dalamnya: dengan hati yang terbuka, pikiran yang tenang, dan tekad untuk terus berjalan bersama, meski jalan itu panjang.

Karena pada akhirnya, damai bukan hanya sesuatu yang kita impikan di masa depan.
Damai adalah cara kita berjalan hari ini—di jalan raya, di ruang publik, dan di dalam relasi kita satu sama lain.@eddy setiawan

Bacaan Lanjutan:

Edward Tick, Lion’s Roar

Jeremy Davi Engels, The Conversation

LEAVE A REPLY