
Sebuah kuil Buddha terkenal di Prefektur Fukuoka, Jepang, tengah menjadi sorotan setelah mulai menerapkan biaya masuk khusus bagi turis mancanegara. Kebijakan ini diambil karena meningkatnya kasus perilaku tidak sopan yang merusak lingkungan vihara Nanzoin Fukuoka ini.
Nanzoin Fukuoka dan Patung Nehanzo yang Ikonik
Nanzoin, terletak di Sasaguri, Fukuoka, adalah kuil Buddha aliran Shingon yang menyimpan patung Buddha berbaring (nehanzo) terbesar dari perunggu di dunia. Patung raksasa yang dibangun tahun 1995 ini menjadi magnet wisatawan, terutama dengan melonjaknya jumlah kunjungan ke Jepang dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, popularitas itu membawa masalah. Seorang reporter NTV menemukan adanya kerusakan: sepotong batu pilar patah karena digunakan anak-anak turis untuk memanjat demi berfoto. Kasus ini bukan satu-satunya. Pengurus kuil melaporkan berbagai pelanggaran etika yang terus berulang.
Biaya Masuk 300 Yen untuk Turis Asing
Mulai akhir Mei, Nanzoin menerapkan biaya masuk 300 yen (sekitar USD 2) khusus untuk turis asing. Yang dikecualikan adalah: Warga negara Jepang dan Warga asing yang tinggal di Jepang.
Pendapatan dari tiket akan digunakan untuk pembersihan area vihara, perbaikan kerusakan, serta peningkatan keamanan. Belum ada penjelasan detail mengenai sistem verifikasi status pengunjung di pintu masuk.
Kebijakan dua tarif ini menuai reaksi beragam. Beberapa turis asing yang diwawancarai merasa tarif seharusnya seragam bagi semua. Namun pihak vihara menilai keputusan tersebut diperlukan mengingat biaya yang harus mereka tanggung akibat perilaku sebagian kecil pengunjung.
Fenomena Overtourism di Jepang
Kasus di Nanzoin bukanlah satu-satunya. Kushida Shrine di Hakata melaporkan gangguan yang sama: pengunjung berbicara keras, merusak fasilitas, hingga mengambil foto tanpa menghormati privasi orang lain.
Secara nasional, Jepang mencatat lebih dari 3,3 juta wisatawan pada Juni lalu—angka yang terus meningkat berkat lonjakan wisata dari Amerika Serikat dan kembalinya turis Tiongkok. Namun peningkatan ini diiringi dengan masalah klasik overtourism yang mulai mengganggu masyarakat lokal.
Beberapa tempat bahkan mengambil langkah drastis: Watadzumi Shrine di Tsushima menutup akses bagi semua kecuali umat setempat.
Kepala Kodaiji di Kyoto menyatakan “mustahil hidup berdampingan dengan turis yang tidak tertib”, dan mendesak pemerintah memberikan edukasi wajib sebelum wisatawan masuk Jepang.
Overtourism Adalah Masalah Global
Perilaku tak sopan wisatawan bukan problem eksklusif Jepang. Di Eropa, protes terhadap turis sudah menggunakan pistol air. Di Meksiko, kemarahan warga bahkan berujung kekerasan karena wisata mengerek harga hidup.
Meskipun warga Jepang belum turun ke jalan, para pengamat memperingatkan bahwa ketidakpuasan dapat meningkat seiring memburuknya kondisi ekonomi.
Kasus Nanzoin menjadi cerminan dilema besar yang dihadapi banyak negara: bagaimana menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi pariwisata dan kenyamanan masyarakat lokal serta kelestarian situs bersejarah. Dengan semakin banyak wisatawan yang datang, penting bagi pengunjung untuk menjaga perilaku agar Jepang tetap menjadi destinasi yang ramah dan terbuka bagi semua.
Sumber: Jay Allen, Unseen Japan











