Menteri Pemuda dan Olahraga menyambut baik Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis yang diselenggarakan pada Sabtu (15/12). “Ini merupakan satu hal yang luar biasa karena diharapkan memang dari dulu sekolah kepemimpinan namanya Tanasda (Ketahanan Nasional Pemuda) ini mungkin mirip-miriplah dan ini sangat bagus.” demikian sepenggal kata sambutan perwakilan Menpora.

Kementerian Pemuda ini ada 2 deputi. Pertama, Deputi Pemberdayaan Pemuda dan yang kedua Deputi Pengembangan Pemuda. Seharusnya ini masuk ke Deputi Pengembangan Pemuda. “Pak Menteri mendisposisi ke Deputi Pengembangan Pemuda, kebetulan Bapak Deputi Sedang ada acara lalu mewakilkan kepada saya untuk menghadiri itu semua, salam hormat untuk bapak-bapak sekalian.”, sambut Bapak Khairil.

Pada UU No.40 tahun 2009, memang usia pemuda yaitu 16 – 30 tahun. Tetapi, kita pakai UU Unesco, 18 sampai 65 tahun. Bapak Menteri berharap, melalui kegiatan ini, terus berlangsung dengan baik, menghasilkan pemimpin nasionalis sekaligus religius. Karena kita kurang dan harus mengisi ruang-ruang kosong negara ini.

Negara ini lebih banyak jiwa pemimpin saja tetapi tidak jiwa kepemimpinan. Mereka tidak siap ketika dipimpin, tetapi lebih banyak ngomong di media. Ketika menjadi anak buah, ketika dipimpin oleh orang lain, mereka tidak siap. Perbedaan antara leader dengan leadership, bahwa pemimpin itu, pertama, punya integritas, saya takut sekali kalau diundang pemuda atau siapapun tidak tepat waktu. Yang kedua dia punya jiwa sosial, dia tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk banyak orang.

“Saya berharap nanti ada kunjungan seperti sekolah Kanasda, kunjungan ke KPK, kunjungan ke DPR, dan kami dari Kementerian Pemuda dan Olahraga silahkan kalau ingin bertemu dengan Bapak Menteri setelah kegiatan ini usai atau di tengah-tengah kegiatan ini, berkunjungan dengan bapak menteri kami persilahkan”, lanjut Bapak Khairil.

Pengalaman Bhante Jayamedho Semasa Muda

Suasana Launching Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis Institut Nagarjuna

“Saya mengenal Agama Buddha tahun 1963. Ini masalah kepemimpinan muda, buddhis, nasionalis dan berintegritas, wah ini musti dikuliti. Yang pertama adalah kepemimpinan. Pada waktu tahun 63, waktu mahasiswa, masuk dalam kepengen tahu apa sih Agama Buddha itu? Di situ, bahkan ada beberapa mahasiswa buddhis, mahasiswa yang beragama buddha atau persisnya yang baru mengenal Agama Buddha. Dari situ, kita melihat Buddhism itu so beautiful, sangat indah teorinya, tapi dalam prakteknya tersimpan di kelenteng-kelenteng karena pada waktu itu hampir tidak ada vihara dan penuh dengan debu dan isinya penuh dengan ritual-ritual yang kasarnya sukar dimaknai, bukan tanpa makna ya”, ucap Bhikkhu Jayamedho.

“Sehingga pada waktu itu, muncul karena mungkin talentanya, karena ada orang Padangnya, ada orang Tionghoanya, ada orang Jawanya, ada orang Sundanya. Muncul keinginan leadership-nya, muncul keinginan bagaimana kalau anak-anak muda berkumpul dan kemudian goes to campus. Jadi, leadership itu dimulai dari dalam. Dari mana mulainya? Dari kesadaran dan bangga atas sesuatu yang dimilikinya tanpa adanya interest betul-betul murni karena nggak ada keuntungan beragama Buddha itu, apa sih untungnya?”, lanjut Bhikkhu Jayamedho.

“Karena merasakan ini sesuatu yang indah tetapi tersimpan di abu, karena itulah maka kita berkumpul membentuk yang namanya GPBI (Gerakan Pemuda Buddhis Indonesia) dan kita isinya agamanya sama, etnisnya beda, aspirasi politiknya juga sangat beda. Bagaimana kita hidup dalam banyak perbedaan, dalam satu komunitas itu indahnya? Dan kemudian muncul aspirasi gimana kita mengenalkan buddhism itu di kampus? Ya di ITB, di Unpad dan di banyak tempat, karena kaum muda ini yang bisa diambil duluan, kaum tua dipelihara. Untuk sebagai apa? Di samping sebagai monumen, penerus dan koceknya juga ada disitu. Anak muda itu ngomongnya aja gede, duitnya kosong. Maka muncul di situ kekuatan kita goes to campus.”

“Ajarkanlah Dhamma ini secara ilmiah, tetapi juga religius yang diajarkan di situ adalah the values, karena kalau seseorang beragama kehilangan nilai-nilai, habislah negara ini. Itulah munculnya GBPI dan kita mulai bergerak membuat cabang-cabang di seluruh Indonesia dan sekarang tokoh-tokoh dulu itu sekarang sudah menjadi tokoh sepuh karena usia saya sudah 77 Pak, jadi bukan waktunya untuk duduk di sini sebenarnya. Jadi, kepemimpinan itu dimulainya dengan adanya komitmen, bukan komat-kamit. Sekarang itu paling banyak komat-kamitnya, paling pinter itu apalagi disorot televisi, mulai komat-kamitnya muncul. Komitmen terhadap sesuatu yang diyakini kalau dalam istilah itu saddha-nya. Saddha tidak hanya dalam bidang agama, tetapi dalam bisnis pun adalah sesuatu yang diyakini sebagai sesuatu yang baik, yang benar, layak dan bermanfaat untuk orang banyak.”, sambung Bhikkhu Jayamedho.

“Ini dulu dipegang sebagai kuncinya dan kita bergerak cukup bagus, cuman sayangnya tahun 65, usianya baru 2 tahun, mulai marah dan muncul G31S PKI. Mulailah penangkapan, pembunuhan, dan sebagainya, kalau sekarang melanggar HAM ya. Sehingga pada waktu itu, saya sebagai ketua Umum mengatakan sudah, bukan dibubarkan, tapi tiarap dulu, karena mayoritasnya adalah orang-orang Tionghoa dan orang Tionghoa banyak yang baperki pada waktu itu, sudahlah tiarap dulu. Jadi, yang bukan Tionghoa, mari kita ambil alih kepemimpinan untuk membantu menjembatani antara the chinese sama pemerintah pada waktu itu. Ini kita gerakkan, maka leadership pada waktu itu ada confident. Jadi, di samping commitment, ada nilai-nilai confident, keyakinan terhadap sesuatu yang diyakini. Dan ini yang harus dikembangkan, tidak perlu kursus dulu, sekarang harus kursus dulu. Kalau mau pidato, tanya dulu seniornya”, papar Bhante Jayamedho

“Yang kedua adalah muda, muda itu apa to Pak? Dua minggu lalu, saya kan memegang Sekolah Tinggi Agama Buddha, dimana ada seratus mahasiswanya berjubah semua. Mereka saya kirim ke acara di Kota Batu Malang sana mengenai acara kepemudaan dan kerukunan hidup beragama. Mereka pulang dengan lemes. ‘Bhante, kami ini katanya pemuda tapi kok dianggap anak kecil, yang hadir tue-tue (alias tua), ini pemuda apa bhante?’ Nah, ini peranan dari DPR harus berani tegas, kalau umur 35 sudah tidak ikut WHO lah dan kalau WHO tentu masih muda sekali. Dan harus tegas, kalau tidak, organisasi kepemudaan akan dipakai sebagai kuda tua para orang tua.”

Bhante Jayamedho sedang membagikan pengalamannya

“Buddhis juga harus berani begitu, kami di Theravada juga begitu. Patria tidak boleh usianya lebih dari 30 tahun. Kalau sudah 30 tahun, silahkan naik ke dalam majelis, naiklah masuk dalam bhikkhu, yang wanita naiklah jadi wandani, masih ada jenjang-jenjang. Janganlah organisasi dipakai sebagai alat mencari kekuasaan, dan keuntungan diri sendiri dan kelompoknya itu sangat tidak betul, tapi di luar monggo kerso, di buddhis harus tegas. Kemudian, muda juga, paling tidak mereka bisa bersuara, bersosialisasi sesama usianya, syukur tempat cari jodoh di situ, daripada cari jodoh agama lain, akhirnya pindah agama lain karena kurang kuat.

“Saya tidak melarang karena organisasi itu memang penting. Pada waktu saya masih muda, saya dimarahi oleh bhikkhu tempat ini, kok dipakai sebagai tempat pacaran. Lho, pacaran itu penting untuk memberikan semangat. Dan akhirnya jadi jodoh, mereka tetap aktif sampai tua. Peranan pemuda ini membangun cinta tetapi juga membangun agama di dalam rumah tangganya, ini kewajiban anak muda juga diatur.”

Bhikkhu Jayamedho lanjut, “Yang ketiga adalah sebagai buddhis, sebenarnya untuk menjadi seorang pemimpin, yang dikatakan pemimpin itu huruf N-nya dihilangkan dulu Pak, apa itu? Ya harus mimpi, kalau seorang pemimpin tidak pernah bermimpi the future, the vision, ke depan ya organisasi itu ya glear gleor. Ya, bahasa indahnya itulah vision. Lihatlah Soekarno, itu mimpi dia, Indonesia merdeka, program jembatan emas, dan sebagainya. Pemimpin adalah pemimpi yang begitu dia bangun menggunakan tenaga orang muda untuk menggerakkan mereka untuk mencapai tujuannya, mencapai mimpinya dan saya bersyukur mimpi kita dulu, buddhism goes to campus, sudah betul-betul masuk kampus dengan munculnya dulu KMBJ. Saya sekarang sudah puas, apa yang kita pernah lontarkan itu betul-betul marak, tapi ini juga tidak bisa berhenti.”

“Stage berikutnya adalah melakukan development, yaitu buddhism goes to family. Di Islam itu terasa sekali, puasa bareng, lebarannya bareng, sholatnya bareng dan di rumah pula. Saya sebagai buddhis, tapi keluarga saya muslim semua. Kalau mereka puasa, saya ikut puasa, sampai kadang-kadang mereka lupa saya bukan Islam. Keluarga saya sangat toleran sekali, yang penting adalah the quality of the people, bukan di dalam pengertian merek agamanya.”

“Yang keempat adalah integritas. Integritas ini sangat penting karena buddhism dan integritas itu sebetulnya inheren, semua agama juga. Terutama kita memegang sila, Pancasila Buddhis itu adalah lima principles. Pertama adalah menghindari pembunuhan, tetapi juga harus dikembangkan non-physical violence, ini yang harus dikembangkan di dalam dunia buddhis. Bagaimana di luar, kekerasan terhadap fisik sangat besar sekali? Pada waktu itu, jika dipertanyakan layak ndak demo Buddha Bar? Memang tidak ada kekerasan fisik di situ. Yang kedua, yang tidak kalah pentingnya, adalah Adinadana, yaitu tidak mencuri, termasuk di dalam hal ini jangan korupsi. Jadi, kalau mencari seorang pemimpin buddhis, lihat track recordnya. Kalau nyata-nyata ditangkap KPK dan masuk penjara, no way!

Seorang pengusaha duduk di pimpinan agama itu riskan sekali. Karena itulah, kita harus bersikap seperti lambang Agama Buddha, teratai (lotus). Teratai itu bisa tumbuh kalau kolamnya penuh lumpur, ikan koi bisa hidup karena airnya bening, itu bedanya. Kalau ada lumpur, dia (lotus) akan kemudian tumbuh, pada waktu gelap dia, akan muncul ke permukaan dan pada waktu ada sinar matahari, dia akan mekar. Jadi, dengan lambang itu, juga kita harus berani. Sang Buddha mengajarkan dalam Sanghanusati, yang namanya murid Buddha itu harus baik, harus jujur, harus benar, harus layak. Empat itulah integrity, bukan Sangha itu yang mencapai kesucian-kesucian, itu untuk kita semua. Kalau melakukan sesuatu, is it good or not? Ini baik atau tidak? Jujur apa tidak? Benar tidak, benar itu benar sesuai peraturan perundangan, peraturan vinaya, kemudian pantas tidak itu dilakukan.”, lanjut Bhikkhu Jayamedho.

“Kalau sudah melakukan 4 hal tersebut dengan benar, maka layak diberi persembahan, layak diberi penghormatan, layak tempat menanam jasa, dsb. Kaum muda pun kalau tidak bisa menerapkan Dharma untuk kehidupan sehari-hari, itu salah besar. Karena penerapan Dharma itu bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk keselamatan orang banyak. Tidak hanya untuk keselamatan dalam hidup ini tetapi juga untuk keselamatan hidup yang akan datang. Maka, kita jalan lurus itu, tidak membuat kita kaya maka kita harus mencari kekayaan lahir seimbang dengan kekayaan batin. Kekayaan lahir untuk anak cucu, kekayaan batin adalah untuk next life yang lebih panjang lagi.”

_____________________________
Oleh: Wandi Siswanto

1 COMMENT

LEAVE A REPLY