Institut Nagarjuna (IN) bekerja sama dengan Direktorat Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama mengadakan penelitian tentang potensi pemberdayaan umat Buddha di Kaloran. Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari IN yang terdiri dari Eddy Setiawan (koordinator), Isyanto, Eko Nugroho Raharjo, dan Adi Kurniawan antara November 2015 sampai dengan Januari 2016.

Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam sebuah seminar di hadapan pemangku kepentingan agama Buddha. Seminar yang dihadiri oleh 30 orang itu digelar di Restoran Ekaria, Jakarta pada Sabtu (27/2).

Direktur Eksekutif Institut Nagarjuna, Isyanto, menyatakan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pembinaan dalam bidang apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan, khususnya Kaloran. “Selama ini kebijakan, baik dalam hal pembinaan maupun penyusunan anggaran program pemerintah, khususnya pembinaan umat Buddha tidak mengacu pada data penelitian mana pun. Dengan penelitian ini diharapkan bisa menjadi rekomendasi pemerintah maupun pemangku kepentingan Buddhis untuk membuat kebijakan dalam pembinaan umat di pedesaan, khususnya Kaloran,” ujar Isyanto.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan lapangan, focus grup discussion (FGD), dokumentasi dan wawancara mendalam dengan sejumlah pihak, seperti pemuka agama, manggalia (koordinator lurah), ketua vihara, pimpinan majelis, Dharmaduta, guru, tokoh wanita, tokoh pemuda, hingga abdi desa Ehipassiko Foundation.

Umat Buddha Kecamatan Kaloran menjadi obyek penelitian dikarenakan umat Buddha Kaloran merupakan salah basis agama Buddha terbesar di Indonesia. Menurut hasil penelitian, salah satu yang menarik adalah perbedaan data jumlah umat Buddha di Kaloran antara Badan Pusat Statistik (BPS) dengan temuan data lapangan yang diperoleh dari penelitian melalui pengisian kuesioner oleh tokoh agama Buddha di Kaloran.

Menurut BPS, umat Buddha Kaloran tahun 2014 berjumlah 6.003 jiwa. Data ini lebih kecil dibandingkan dengan data yang diperoleh tim peneliti. Umat Buddha tersebar di 12 desa dari total 14 desa yang termasuk dalam Kecamatan Kaloran. Tim peneliti IN memproyeksikan masing-masing KK terdiri dari 5 jiwa, maka jumlah umat Buddha di 8 desa, 38 dusun di Kecamatan Kaloran adalah sebanyak 9.070 jiwa, atau lebih besar 3.067 jiwa (51%) dibandingkan data BPS. Proyeksi jumlah umat Buddha dalam perhitungan ini belum termasuk umat Buddha yang berasal dari 4 desa yang tidak mengikuti FGD. Di seluruh Kaloran terdapat 44 vihara dan 8 cetiya.

“Kajian lanjutan dan mendalam mengenai hal ini diperlukan guna mendapatkan gambaran jumlah dan sebaran umat Buddha yang lebih valid, mengingat kesenjangan data yang demikian besar antara angka resmi yang dirilis BPS dengan data yang diperoleh dari penelitian,” ujar Eddy Setiawan dalam pemaparan hasil penelitian.

Mengenai potensi pemberdayaan ekonomi, umat Buddha Kaloran mempunyai banyak potensi yang dibagi menjadi dua, yaitu potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam.

Sumber daya manusia terdiri dari berbagai majelis, lembaga dan organisasi, dan kaum terdidik dalam hal ini lulusan sarjana. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui FGD, di Kecamatan Kaloran terdapat lima majelis agama Buddha, yaitu Magabudhi, Majubuthi, Majabumi, MBI, dan Tantrayana Kasogatan. Selain dari para romo dan ramani, umat Buddha juga mendapatkan pembinaan secara berkala dari para anggota Sangha (bhikkhu/bhiksu), namun sampai saat ini belum ada anggota Sangha yang menetap di Kecamatan Kaloran.

Selain majelis, di Kaloran juga terdapat dua organisasi wanita Buddhis: Wanita Theravada Indonesia (Wandani) dan Mattu Maitri (organisasi Buddhis non sektarian), serta organisasi kepemudaan. Hingga saat ini di Kaloran juga terdapat 44 sarjana yang beragama Buddha.

Sementara sumber daya alam yang dapat dikembangkan di Kaloran adalah sektor pertanian, hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk Kaloran bermatapencaharian sebagai petani. Potensi ekonomi yang dapat dikembangkan di sektor pertanian dan perkebunan adalah tanaman jagung, cabe, jahe, sayur mayur, kopi, alpukat, manggis, nangka, dan padi di areal tertentu. Tanaman kayu sengon dan jabon juga memiliki potensi untuk dikembangkan, namun dengan catatan pola tanam dan panen yang memperhatikan kondisi lahan yang pada umumnya memiliki tingkat kemiringan yang tinggi.

Kaloran juga dinilai memiliki potensi di bidang peternakan, yaitu penggemukan sapi, domba dan ayam ras pedaging dan petelur. Sedangkan di bidang kreasi terdapat potensi olahan berbagai hasil pertanian dan perkebunan seperti kripik ketela/ubi, nangka, gula aren, jahe, empon-empon, kopi, dan cokelat.

Selain sumber daya alam, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah masyarakat Kaloran dari berbagai agama pada momen-momen tertentu secara bersama-sama merayakan tradisi leluhur, yakni sadranan (ziarah kubur), merti desa/dusun, merti Bumi, selapanan desa/dusun, gotong royong membangun rumah, kebaktian limolasan (purnama), dan sawuhan.

“Hal ini menarik apabila kita bisa memberi makna Dharmik pada setiap tradisi, bisa menjadi potensi wisata kebudayaan Buddhis. Selain itu, masyarakat Kaloran juga sangat menjunjung seni. Banyak kesenian daerah seperti, jaran kepang, soreng, prajuritan, coglok dan lain-lain yang masih dilaksanakan,” jelas Eddy.

20160229 Inilah Potensi Pemberdayaan Umat Buddha di Kaloran, Temanggung Berdasarkan Penelitian Institut Nagarjuna 2

Menurutnya, beberapa potensi yang realistis untuk dikembangkan saat ini adalah pertanian, peternakan, dan perkebunan. “Di bidang pertanian dan perkebunan, tanaman kopi masih menjadi andalan umat Buddha di Kaloran. Selain itu jahe, alpukat, cabai, nangka, ubi, singkong dan tanaman kayu juga produksinya sangat bagus, hanya saja pemasarannya masih di tengkulak. Sedangkan peternakan: sapi, domba, dan ayam.

“Namun dari berbagai potensi tersebut ada persoalan mendasar, yaitu ketersediaan air selama musim kemarau, minimnya inovasi dan penguasaan teknik modern, ketiadaan kemampuan mengolah hasil panen dan pemasaran. Pemberdayaan dapat dilakukan berupa pengadaan alat dan pelatihan. Pemasaran dapat dilakukan dengan pendekatan social marketing. Potensi pariwisata Kaloran dapat diperkaya dengan penguatan dan pengembangan seni budaya lokal berkarakter Dharmik, dengan memberikan pemaknaan baru pada unsur-unsur seni budaya lokal,” lanjut Eddy.

Para tokoh yang hadir dalam seminar tersebut memberikan pujian kepada Institut Nagarjuna yang telah melakukan penelitian. Mereka berharap dapat bekerjasama dengan IN menindaklanjuti hasil penelitian dengan tindakan langsung pendampingan dan pemberdayaan umat Buddha khususnya di Kaloran.

Wenny Lo misalnya, wanita yang aktif di Buddhist Fellowship Indonesia (BFI) ini mengaku sangat tertarik dengan hasil penelitian soal pemberdayaan ekonomi umat. “Yang saya pikirkan, hasil bumi di Indonesia harus bisa digarap, gunung-gunung di Indonesia sangat indah. Sebagai pebisnis, saya melihat hal ini adalah peluang. Beasiswa Pintu Belajar (yang dikelola BFI) juga sudah memulai pemberdayaan ekonomi, namun bingung memulai dari mana. Namun setelah ada penelitian seperti ini, saya semakin ada gambaran untuk melakukan apa, tetapi tentu kita tidak mungkin menggelontorkan uang ke orang-orang desa. Langkah yang mesti kita lakukan adalah menyiapkan orang-orang yang bisa tinggal dan melakukan pendampingan dan pemberdayaan. Sementara itu, tim pebisnis akan membatu secara dana usaha profit, yang keuntungannya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat dan sebagian untuk membiayai organisasi dan vihara,” ujar Wenny Lo.

Sementara itu Kasubdit Ditjen Bimas Buddha, Supriyadi, berharap agar hasil penelitian segera ditindaklanjuti. “Diharapkan melalui riset ini segera ditindaklanjuti dengan langkah action dalam bentuk empowerment (pemberdayaan masyarakat),” harap Supriyadi. Ia juga berjanji Ditjen Bimas Buddha akan kembali membantu pembiayaan bagi pihak yang akan menjalankan program pemberdayaan.

“Kami berharap penelitian ini menjadi sumber pemicu bagi kawan-kawan, tidak hanya oleh pemerintah, tapi juga pihak majelis dan swasta untuk melihat inilah potensi yang ada di Temanggung untuk dikembangkan di majelis ataupun kelompok wirausaha,” lanjut Supriyadi.

Sementara itu Isyanto mengatakan bahwa masukan-masukan yang didapat dalam seminar ini untuk menyempurnakan laporan. Untuk tindak lanjutnya, Institut Nagarjuna akan menyusun kembali rencana program pemberdayaan umat berdasarkan hasil penelitian. “Institut Nagarjuna sendiri sebagai peneliti, memberdayakan apa yang dibutuhkan masyarakat berdasarkan hasil penelitian. Berdasarkan temuan itulah nanti akan kita tawarkan ke Direktorat Bimbingan Masyarakat Buddha dan pemangku kepentingan agama Buddha, seperti hari ini banyak elemen-elemen Buddhis yang hadir.

“Tiga hal yang menarik untuk dikembangkan berdasarkan hasil penelitian dan masukan-masukan tadi adalah bidang pertanian, sektor wisata dan kebudayaan, meskipun ini masih perlu kajian lebih jauh seperti memberi pemaknaan Dharmik. Namun untuk bentuk teknisnya seperti apa itu nanti yang akan kita susun lebih lanjut bersama Dirjen Bimas Buddha, dan kalau ada dari pihak swasta yang tertarik akan lebih baik,” pungkas Isyanto.

LEAVE A REPLY